Mengapa Sebaiknya Menunda Minum Teh Saat Berbuka Puasa? Ini Penjelasan Lengkapnya

8 Maret 2026, 23:35 WIB

Momen berbuka puasa adalah waktu yang dinanti-nanti setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga. Tradisi minum manis, tak terkecuali teh, seringkali menjadi pilihan utama untuk mengembalikan energi.

Namun, di balik kehangatan dan kesegarannya, ada anjuran kesehatan yang menyarankan kita untuk tidak langsung minum teh saat berbuka puasa. Mengapa demikian? Mari kita ulas lebih dalam.

Dehidrasi yang Diperparah dan Dampaknya

Setelah berpuasa seharian, tubuh kita berada dalam kondisi dehidrasi ringan hingga sedang. Prioritas utama saat berbuka adalah mengganti cairan tubuh yang hilang.

Teh, terutama jenis teh hitam atau hijau, mengandung kafein. Kafein memiliki sifat diuretik, yang berarti dapat merangsang ginjal untuk membuang lebih banyak cairan dan garam dari tubuh melalui urine.

Jika kita langsung minum teh, bukannya menghidrasi, kita justru berisiko memperparah kondisi dehidrasi. Hal ini dapat menyebabkan tubuh terasa lebih lemas, pusing, dan mengganggu keseimbangan elektrolit.

Risiko pada Kesehatan Ginjal

Dehidrasi kronis atau berulang akibat konsumsi diuretik berlebihan saat tubuh membutuhkan hidrasi optimal dapat memberikan beban tambahan pada ginjal. Jangka panjang, ini tentu tidak baik bagi fungsi organ vital tersebut.

Hambatan Penyerapan Nutrisi Penting

Selain masalah dehidrasi, teh juga dikenal mengandung senyawa yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi vital bagi tubuh, terutama setelah berpuasa.

Senyawa tanin dan oksalat yang tinggi dalam teh dapat berikatan dengan beberapa mineral penting seperti zat besi non-heme, kalsium, dan seng.

Ikatan ini membentuk senyawa yang sulit diserap oleh saluran pencernaan. Akibatnya, nutrisi yang seharusnya didapatkan dari makanan berbuka puasa menjadi tidak optimal.

Pentingnya Zat Besi Setelah Puasa

Zat besi sangat krusial untuk produksi energi dan mencegah anemia. Setelah berpuasa, tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang cepat dan efisien untuk memulihkan diri.

Jika penyerapan zat besi terhambat, kita mungkin akan merasa lebih lelah, lesu, dan kurang bertenaga, padahal sudah makan. Ini tentu merugikan bagi tubuh yang sedang beradaptasi.

  • Anemia: Orang dengan risiko anemia atau yang sudah mengalami anemia harus lebih berhati-hati.
  • Ibu hamil dan menyusui: Kelompok ini membutuhkan zat besi ekstra untuk diri mereka dan bayinya.
  • Anak-anak dalam masa pertumbuhan: Penyerapan nutrisi yang optimal sangat penting untuk perkembangan.

Gangguan pada Sistem Pencernaan

Setelah berpuasa berjam-jam, sistem pencernaan kita berada dalam kondisi istirahat dan cenderung sensitif. Minuman yang panas dan mengandung kafein dapat memicu beberapa masalah.

Beberapa orang mungkin mengalami peningkatan asam lambung atau rasa tidak nyaman di perut jika langsung mengonsumsi teh. Kafein juga dapat merangsang gerakan usus yang bisa menyebabkan kembung atau diare pada individu sensitif.

Dampak pada Gula Darah

Meskipun bukan masalah utama, kafein dalam teh juga dapat memengaruhi sensitivitas insulin pada beberapa individu. Bagi penderita diabetes atau yang memiliki risiko, ini bisa menjadi pertimbangan.

Namun, efek ini cenderung lebih minor dibandingkan dampak dehidrasi dan penyerapan nutrisi.

Minuman Terbaik untuk Memulai Berbuka Puasa

Lalu, apa minuman yang ideal untuk mengawali berbuka puasa?

Prioritas utama adalah mengembalikan hidrasi dan memberikan energi cepat yang sehat.

  • Air Putih Hangat atau Suhu Ruang: Ini adalah pilihan terbaik untuk rehidrasi tubuh secara bertahap tanpa efek samping. Air akan membantu melancarkan fungsi organ dan membersihkan sistem pencernaan.
  • Kurma: Sesuai sunah Nabi Muhammad SAW, kurma adalah sumber gula alami yang cepat diserap dan memberikan energi instan, serta mengandung serat untuk pencernaan.
  • Jus Buah Segar Tanpa Gula Tambahan: Memberikan vitamin, mineral, dan cairan. Hindari jus kemasan dengan kadar gula tinggi.
  • Sup atau Kaldu Hangat: Sangat baik untuk menghangatkan perut dan memberikan elektrolit serta nutrisi ringan yang mudah dicerna.

Kapan dan Bagaimana Menikmati Teh dengan Sehat

Bukan berarti teh harus dihindari sepenuhnya saat puasa. Anda tetap bisa menikmati teh, namun dengan strategi yang lebih bijak.

Opini umum para ahli gizi menyarankan untuk menunggu setidaknya 1 hingga 2 jam setelah Anda berbuka puasa dengan air dan makanan ringan.

Dengan begitu, tubuh punya waktu untuk rehidrasi dan sebagian besar nutrisi dari makanan pertama Anda sudah sempat diserap.

  • Pilih Teh Herbal Non-Kafein: Jika ingin minum sesuatu yang hangat, teh herbal seperti teh chamomile, peppermint, atau jahe bisa menjadi alternatif yang menenangkan dan tidak memiliki efek diuretik atau pengganggu penyerapan nutrisi.
  • Batasi Porsi: Minum teh secukupnya, jangan berlebihan.
  • Hindari Gula Berlebihan: Terlalu banyak gula akan memicu lonjakan gula darah yang cepat diikuti penurunan drastis, membuat tubuh lemas.

Memadukan Tradisi dan Kesehatan

Minum teh saat berbuka memang sudah menjadi tradisi turun-temurun di banyak keluarga. Namun, penting untuk selalu menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama.

Dengan pemahaman yang benar tentang dampak teh saat langsung berbuka, kita bisa membuat pilihan yang lebih baik. Mulailah berbuka dengan yang sehat, lalu nikmati teh Anda nanti sebagai pelengkap atau setelah makan malam, sebagai ritual yang menenangkan.

Dengan demikian, Anda tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memastikan tubuh mendapatkan nutrisi dan hidrasi yang optimal untuk tetap bugar selama berpuasa.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari www.identif.id/ langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang