Di tengah hiruk pikuk kehidupan urban Buenos Aires, sebuah fenomena sosial unik tengah menarik perhatian publik dan memicu perbincangan luas. Para remaja di Argentina kini semakin terbuka dalam mengidentifikasi diri mereka sebagai hewan.
Pemandangan di Plaza Buenos Aires, yang kini menjadi salah satu pusat pertemuan utama mereka, tidak lagi seperti biasa. Para muda-mudi ini menampilkan gestur, suara, bahkan kadang atribut yang menyerupai spesies hewan yang mereka yakini sebagai identitas inti mereka.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan indikasi adanya subkultur yang lebih dalam dan kompleks yang sedang berkembang. Ini memaksa kita untuk melihat lebih jauh ke dalam makna identitas dan ekspresi diri di kalangan generasi muda.
Memahami Identifikasi Diri sebagai Hewan: Therianthropy dan Otherkin
Fenomena identifikasi diri sebagai hewan ini bukanlah hal baru secara global, namun kemunculannya secara menonjol di Argentina memberikan perspektif baru. Ini seringkali dikaitkan dengan subkultur ‘therianthropy’ atau ‘otherkin’ yang telah ada selama beberapa dekade.
Therianthropy merujuk pada identifikasi internal seseorang sebagai hewan non-manusia, baik secara spiritual, psikologis, maupun neurologis. Ini berbeda dari sekadar hobi, berpura-pura menjadi hewan, atau apresiasi sederhana terhadap spesies tertentu.
Bagi seorang therian, identifikasi ini adalah tentang identitas inti, bukan karakter yang diperankan. Ini adalah tentang merasa menjadi hewan di dalam diri, terlepas dari bentuk fisik dan identitas biologis mereka sebagai manusia.
Sementara itu, istilah ‘otherkin’ memiliki cakupan yang lebih luas, mencakup identifikasi diri sebagai makhluk mitologis, fiktif, atau non-manusia lainnya. Keduanya berakar pada keyakinan bahwa identitas sejati mereka bukan sepenuhnya manusia.
Bukan Sekadar ‘Furry’ atau Permainan Peran
Penting untuk membedakan identifikasi sebagai therian atau otherkin dari komunitas ‘furry’ atau sekadar bermain peran. Komunitas furry lebih fokus pada apresiasi fiksi antropomorfik, seni, dan sering melibatkan cosplay karakter hewan.
Bagi anggota komunitas furry, ini adalah hobi atau minat. Sementara bagi therian dan otherkin, identifikasi sebagai hewan atau makhluk lain adalah bagian intrinsik dari siapa mereka, sebuah identitas yang mendalam dan seringkali tidak disengaja.
Perbedaannya terletak pada pengalaman internal. Furry adalah tentang ketertarikan eksternal, sedangkan therianthropy/otherkin adalah tentang identifikasi internal yang dirasakan sebagai bagian fundamental dari keberadaan mereka.
Fenomena di Plaza Buenos Aires
Di Plaza Buenos Aires, para remaja ini menemukan ruang aman untuk mengekspresikan diri secara bebas dan tanpa penghakiman. Mereka berkumpul untuk berbagi pengalaman, mencari validasi, dan menguatkan ikatan komunitas di antara sesama.
Aktivitas yang sering terlihat meliputi ‘quadrobics,’ yaitu bergerak dengan keempat kaki meniru cara hewan tertentu bergerak, seperti melompat atau berlari. Ini adalah bentuk ekspresi fisik dari identitas hewani mereka.
Ada pula ‘vocalizations,’ di mana mereka mengeluarkan suara atau geraman yang meniru spesies yang mereka identifikasi, seperti lolongan serigala atau suara kucing. Ini menjadi cara komunikasi non-verbal di antara mereka.
Beberapa peserta juga mungkin terlibat dalam ‘shifts,’ pengalaman mental atau psikologis di mana mereka merasa lebih terhubung dengan aspek hewani dari diri mereka. Ini bisa berupa ‘mental shift’ atau ‘phantom shift.’
Dalam ‘phantom shift,’ mereka merasakan sensasi fisik dari anggota tubuh hewan, seperti ekor atau telinga, meskipun secara fisik tidak ada. Ini adalah pengalaman internal yang mendalam dan personal bagi banyak therian dan otherkin.
Seorang remaja bernama Sofia (nama samaran), yang mengidentifikasi diri sebagai serigala, pernah menyatakan, Di sini, aku merasa utuh. Di luar sana, orang melihatku sebagai manusia, tapi di sini, aku adalah diri sejatiku.
Kutipan ini menyoroti pencarian otentisitas yang mereka alami.
Mengapa Seseorang Mengidentifikasi Diri sebagai Hewan?
Motivasi di balik identifikasi diri sebagai hewan sangat beragam dan personal, mencakup spektrum pengalaman spiritual, psikologis, dan sosial. Ini bukanlah pertanyaan dengan jawaban tunggal, melainkan mosaik alasan yang kompleks.
Koneksi Spiritual dan Mistis
Bagi sebagian individu, identifikasi ini berakar pada koneksi spiritual yang mendalam dengan alam atau spesies hewan tertentu. Mereka mungkin merasa bahwa jiwa atau esensi mereka adalah hewan, atau bahwa mereka memiliki ‘spirit animal’ yang jauh lebih dari sekadar simbol.
Konsep reinkarnasi atau adanya ‘jiwa hewan’ yang terperangkap dalam tubuh manusia seringkali menjadi bagian dari keyakinan ini. Mereka merasa ada keutuhan spiritual ketika mereka mengakui identitas hewani mereka.
Aspek Psikologis dan Pencarian Identitas
Dari sudut pandang psikologis, identifikasi ini bisa menjadi bentuk ekspresi diri yang mendalam dan pencarian identitas, terutama di kalangan remaja yang sedang dalam fase eksplorasi diri yang intens.
Mereka mungkin merasa ada ketidakcocokan antara diri mereka sebagai manusia dan ‘esensi’ internal mereka yang dirasakan sebagai hewan. Ini bisa menjadi cara untuk memahami diri sendiri dan menemukan tempat di dunia.
Beberapa pakar juga melihat ini sebagai mekanisme koping atau pelarian dari realitas yang sulit, tekanan sosial, atau bahkan trauma. Mengidentifikasi diri sebagai sesuatu yang non-manusia bisa menawarkan rasa kekuatan atau kebebasan.
Pembentukan Komunitas dan Rasa Kepemilikan
Dalam masyarakat modern yang semakin individualistis, menemukan komunitas yang menerima dan memahami identitas unik bisa sangat berharga. Kelompok seperti yang ada di Buenos Aires menawarkan rasa kepemilikan yang kuat.
Di sana, mereka dapat menemukan validasi dan penerimaan dari sesama individu yang berbagi pengalaman serupa, jauh dari stigma atau penilaian masyarakat umum yang mungkin sulit memahami identitas mereka.
Reaksi Sosial dan Tantangan
Reaksi masyarakat terhadap fenomena ini sangat bervariasi, mulai dari kebingungan dan rasa ingin tahu hingga penolakan, ejekan, dan stigma. Banyak yang sulit memahami konsep identifikasi diri sebagai hewan dalam konteks sosial yang ada.
Media massa seringkali cenderung memberitakan fenomena ini dengan nada sensasionalis, fokus pada keunikan atau ‘keanehan’ tanpa mendalami aspek psikologis atau sosiologis di baliknya. Ini dapat memperkeruh pemahaman publik.
Penting untuk tidak serta-merta menggolongkan identifikasi ini sebagai gangguan kejiwaan. Meskipun selalu baik untuk mempromosikan kesehatan mental, identitas therianthropy sendiri bukanlah diagnosis dalam manual diagnostik psikologi.
Seperti yang ditekankan oleh banyak ahli, Tidak setiap ekspresi diri yang tidak konvensional adalah patologi. Penting untuk memahami konteks dan niat di balik identitas ini sebelum membuat penilaian.
Ini mendorong kita untuk mendekati fenomena ini dengan empati.
Namun, tentu saja, jika ada indikasi distres signifikan, gangguan fungsi sehari-hari, atau keyakinan delusi yang berbahaya, konsultasi dengan profesional kesehatan mental tetap dianjurkan. Batasan antara identitas dan kondisi klinis perlu diperhatikan dengan cermat.
Peran Komunitas Daring
Internet dan media sosial memainkan peran krusial dalam pertumbuhan dan penyebaran subkultur ini secara global. Platform daring memungkinkan individu dengan identitas serupa untuk saling menemukan dan membentuk komunitas yang erat.
Forum daring, grup media sosial, dan platform berbagi video seperti YouTube dan TikTok menjadi tempat di mana mereka dapat berbagi cerita, kiat, dan dukungan tanpa perlu bertemu langsung. Ini menciptakan rasa kebersamaan yang kuat dan menghilangkan isolasi.
Melalui komunitas online, informasi tentang therianthropy dan otherkin tersebar luas, membantu individu yang mungkin merasa terisolasi untuk memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam pengalaman mereka. Ini juga menjadi sarana edukasi.
Bagi banyak remaja, ruang daring ini adalah tempat pertama di mana mereka dapat secara aman menjelajahi dan mengungkapkan identitas mereka, sebelum mungkin berani melakukannya di dunia fisik seperti yang terlihat di Buenos Aires.
Menuju Pemahaman yang Lebih Dalam
Fenomena remaja yang mengidentifikasi diri sebagai hewan di Buenos Aires adalah cerminan dari kompleksitas identitas manusia modern. Ini menantang norma-norma sosial tentang apa artinya menjadi ‘manusia’ dan bagaimana seseorang dapat mendefinisikan ‘diri’ mereka.
Alih-alih langsung menghakimi atau menganggapnya sebagai keanehan, pendekatan yang lebih bijaksana adalah dengan berusaha memahami. Ini adalah tentang hak individu untuk mendefinisikan diri mereka sendiri dalam cara yang paling otentik dan bermakna bagi mereka.
Apakah itu ekspresi spiritual yang mendalam, pencarian identitas psikologis, atau kebutuhan akan komunitas sosial, subkultur ini mengingatkan kita akan keragaman pengalaman manusia yang tak terbatas. Ini mendorong kita untuk lebih terbuka dan menerima berbagai bentuk identitas yang ada di dunia.
Pada akhirnya, fenomena ini adalah undangan untuk merenungkan lebih jauh tentang bagaimana masyarakat kita dapat menampung dan menghormati ekspresi identitas yang berbeda, bahkan yang mungkin terasa tidak konvensional pada pandangan pertama.







