Pada November 2018, sebuah pernyataan cukup mengejutkan muncul terkait performa Liverpool di markas Paris Saint-Germain (PSG). Kritikus sepak bola menyoroti bahwa Liverpool dinilai tak sungguh-sungguh saat menjalani laga tandang ke markas Paris Saint-Germain. Performa The Reds dinilai mengecewakan.
Ini bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan sorotan tajam terhadap mentalitas dan pendekatan tim. Pertandingan leg kedua Grup C Liga Champions 2018/2019 di Parc des Princes memang berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan PSG.
Namun, di balik angka tersebut, ada narasi tentang ketidakberdayaan dan minimnya intensitas yang jarang terlihat dari skuad Jurgen Klopp saat itu. Apa sebenarnya yang terjadi?
Momen Pahit di Parc des Princes: Ketika Kehilangan Arah
Laga pada tanggal 28 November 2018 itu menjadi krusial bagi kedua tim. Grup C memang dikenal sebagai grup neraka
dengan Napoli, PSG, dan Liverpool bersaing ketat memperebutkan dua tiket ke babak gugur.
Liverpool yang datang dengan status runner-up musim sebelumnya, diharapkan bisa menampilkan performa terbaik. Namun, harapan itu jauh panggang dari api.
Sejak awal pertandingan, dominasi PSG sangat terasa, terutama dengan trio maut mereka: Neymar, Kylian Mbappé, dan Edinson Cavani. Liverpool terlihat kesulitan mengimbangi kecepatan dan kreativitas lawan, terutama di lini tengah.
Awal Bencana di Kandang Lawan
PSG tidak menyia-nyiakan kesempatan bermain di kandang sendiri. Juan Bernat membuka keunggulan di menit ke-13 setelah memanfaatkan kelengahan pertahanan Liverpool.
Tak lama berselang, Neymar menggandakan keunggulan di menit ke-37, menyusul skema serangan balik cepat yang mematikan. Dua gol cepat ini seolah meruntuhkan mental para pemain Liverpool.
Mereka tampak kesulitan mengembangkan permainan, lini tengah yang biasanya menjadi motor serangan justru kalah dalam perebutan bola dan kreasi peluang. Tekanan tinggi dari PSG membuat Liverpool tak bisa bernapas.
Perlawanan yang Terlambat
Liverpool baru bisa sedikit bangkit di penghujung babak pertama. Penalti James Milner di menit 45+1, setelah Sadio Mané dijatuhkan di kotak terlarang, sempat membuka asa.
Skor 2-1 di babak pertama, meski tertinggal, masih memberikan peluang untuk membalikkan keadaan di paruh kedua. Sayangnya, di babak kedua, meskipun ada peningkatan intensitas, Liverpool tetap tidak mampu mencetak gol penyama kedudukan.
Serangan-serangan mereka cenderung mudah dipatahkan, dan beberapa peluang emas terbuang percuma. Rasa frustrasi mulai terlihat jelas di wajah para pemain The Reds.
Mengapa Liverpool Tampil di Bawah Standar? Analisis Mendalam
Performa mengecewakan ini memicu banyak pertanyaan. Mengapa tim sekaliber Liverpool, yang baru saja mencapai final Liga Champions, bisa tampil begitu lesu di pertandingan sepenting ini?
Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan performa tersebut.
Kelelahan dan Prioritas?
Salah satu spekulasi adalah faktor kelelahan. Liverpool saat itu sedang menjalani jadwal padat di Premier League dan Liga Champions. Fokus mereka mungkin terbagi, atau Klopp sengaja tidak memaksakan para pemainnya untuk bermain habis-habisan.
Ini demi menjaga kebugaran di kompetisi domestik. Namun, di babak grup Liga Champions, setiap poin sangat berharga. Sebagai informasi tambahan, pada musim 2018/2019, Liverpool juga terlibat dalam perburuan gelar Premier League yang sangat ketat dengan Manchester City.
Ini bisa jadi alasan mengapa ada persepsi bahwa mereka mungkin sedikit mengendurkan gas di laga Eropa yang penuh tekanan seperti ini.
Strategi yang Kurang Tepat?
Jurgen Klopp dikenal dengan taktik Gegenpressing-nya yang agresif. Namun, di laga ini, pressing Liverpool tidak terlalu efektif.
Lini tengah yang diisi Jordan Henderson, Georginio Wijnaldum, dan James Milner, terlihat kewalahan menghadapi Marco Verratti, Marquinhos, dan Angel Di Maria. Kehilangan kontrol di lini tengah membuat bola terlalu cepat sampai ke trio penyerang PSG.
Verratti, khususnya, menunjukkan kelasnya dalam mengatur tempo dan mendistribusikan bola, membuat para gelandang Liverpool kesulitan merebut dominasi.
Dominasi Bintang-bintang PSG
Tidak bisa dipungkiri, PSG saat itu memiliki beberapa pemain terbaik dunia. Neymar, Mbappé, dan Cavani adalah kombinasi yang mematikan. Kreativitas dan kecepatan mereka terlalu sulit ditangani oleh pertahanan Liverpool.
Pertahanan yang kala itu sering terlihat rapuh saat menghadapi serangan balik cepat. Penampilan individu dari Neymar dan Mbappé, dengan dribbling dan pergerakan mereka, memang luar biasa di pertandingan itu.
Mereka adalah pembeda dan mampu mengekspos setiap celah di pertahanan Liverpool.
Reaksi dan Dampak: Mengubah Jalur Menuju Kejayaan
Kekalahan ini tentu saja memicu reaksi keras dari para pundit dan penggemar. Banyak yang mempertanyakan ambisi Liverpool di kompetisi Eropa setelah penampilan yang dinilai kurang bergairah.
Kritik ini sejalan dengan pernyataan awal bahwa Liverpool dinilai tak sungguh-sungguh.
Dampak langsungnya, Liverpool terancam gagal lolos dari fase grup.
Mereka harus memenangkan pertandingan terakhir melawan Napoli dengan skor tertentu untuk bisa melaju ke babak selanjutnya. Ini menempatkan mereka dalam tekanan yang sangat besar dan membuat jalan mereka di Liga Champions semakin terjal.
Pelajaran Berharga dari Kekalahan
Meski pahit, kekalahan di Parc des Princes menjadi titik balik. Jurgen Klopp dan skuadnya belajar banyak dari pertandingan tersebut. Mereka menyadari bahwa di Liga Champions, setiap pertandingan adalah final, dan tidak ada ruang untuk performa di bawah standar.
Pada akhirnya, Liverpool memang berhasil lolos dari grup setelah mengalahkan Napoli di Anfield pada pertandingan terakhir. Perjalanan mereka terus berlanjut, dan kita semua tahu bagaimana kisah itu berakhir: Liverpool mengangkat trofi Liga Champions keenam mereka di Madrid pada Juni 2019.
Opini saya, kekalahan ini, meski mengecewakan pada masanya, justru menjadi katalisator. Itu mengingatkan Liverpool tentang standar yang harus mereka jaga dan intensitas yang harus selalu mereka tunjukkan.
Tanpa momen pahit itu, mungkin mentalitas juara yang mereka tunjukkan di sisa kompetisi tidak akan sekuat itu.