Fenomena aurora memikat banyak orang dengan pancaran sinar warna-warni yang membentuk gelombang seperti kabut hijau, biru, merah, atau merah muda di langit. Namun, keindahan alam ini tidak dapat disaksikan secara langsung dari langit Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa. Dilansir dari Bobo, aurora tercipta saat partikel bermuatan dari Matahari menabrak molekul oksigen dan nitrogen di atmosfer Bumi.
Proses ionisasi tersebut memicu kemunculan cahaya indah yang hanya tampak jelas di kawasan lintang utara yang tinggi dan belahan Bumi selatan.
Aliran elektron dan proton pembentuk aurora bergerak di sepanjang garis medan magnet yang posisinya jauh dari permukaan Bumi di zona khatulistiwa. Garis medan magnetik tersebut hanya mencapai permukaan Bumi di wilayah kutub, sehingga fenomena ini dinamai aurora borealis di kutub utara dan aurora australis di kutub selatan.
Meski Indonesia berdekatan dengan Australia yang menjadi salah satu lokasi pengamatan aurora australis, letak geografis tanah air tetap tidak memungkinkan untuk melihatnya. Sebab, aurora australis hanya bisa dinikmati di Antarktika, Australia, Selandia Baru, serta wilayah selatan Amerika Selatan.
Badai geomagnetik ekstrem terkadang memicu kemunculan aurora di dekat khatulistiwa, seperti yang pernah tercatat dalam sejarah di Jepang pada tahun 1909. Peristiwa bertahannya cahaya kutub di dekat ekuator tersebut merupakan fenomena yang sangat langka. Waktu paling ideal untuk mengamati aurora australis berlangsung mulai akhir Februari hingga akhir September saat malam di belahan selatan mencapai kondisi tergelap.
Aurora australis memiliki sejumlah fakta unik yang membedakannya dengan fenomena langit lain.
Sinar hijau dan merah muda menjadi warna dominan yang dipancarkan oleh aurora di belahan bumi selatan ini. Warna hijau yang paling sering muncul dihasilkan oleh proses ionisasi oksigen pada lapisan atmosfer yang lebih rendah. Sementara itu, pendaran warna merah muda umumnya terbentuk di lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Bentuk formasi cahaya aurora australis sangat variatif, mulai dari menyerupai tirai, lengkungan, spiral, hingga menyerupai korona.
Fenomena menakjubkan ini tidak hanya terjadi pada malam hari, tetapi juga dapat diamati ketika hari memasuki waktu senja. Secara teknis, ketinggian lokasi terjadinya aurora australis berada pada rentang 60 hingga 400 kilometer di atas permukaan Bumi.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa penjelajah Kapten James Cook menjadi orang pertama yang mendokumentasikan aurora australis saat berlayar di Pasifik Selatan pada tahun 1773. Hingga kini, para ilmuwan terus melakukan penelitian terhadap aurora australis guna mendalami pemahaman terkait sistem magnetosfer Bumi.







