KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali

17 Juni 2026, 14:16 WIB

Sebanyak empat penumpang ditemukan meninggal dunia dan 30 orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali akibat hilang kontak pada Rabu, 2 Juli 2025 pukul 23.35 WIB.

Dilansir dari Papanskor, kapal yang berlayar dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk tersebut mengangkut 65 orang yang terdiri atas 53 penumpang dan 12 kru kapal. Selain membawa puluhan korban, kapal tersebut juga mengangkut 22 kendaraan dari berbagai jenis saat melintasi jalur pelayaran maritim tersebut.

Hingga Kamis, 3 Juli 2025 pukul 11.00 WIB, tercatat ada 31 korban yang telah berhasil diselamatkan dari tragedi tersebut. Upaya pencarian dan penyelamatan secara intensif terus dilakukan oleh tim gabungan dengan mengerahkan sedikitnya 15 kapal serta satu unit helikopter.

Otoritas terkait dari Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa penanganan dan evakuasi para korban di lokasi kejadian masih berjalan di bawah koordinasi tim penyelamat.

"Hingga pukul 10.00 waktu setempat, 31 penumpang sudah berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat," ujar Muhammad Masyhud, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Operasi penyelamatan ini terus dioptimalkan karena Selat Bali yang terbentuk akibat aktivitas tektonik memiliki kondisi geografis yang menantang. Berdasarkan catatan sejarah, perairan sibuk yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali ini telah berulang kali mengalami kecelakaan kapal akibat cuaca ekstrem maupun kelalaian operator.

Rentetan kecelakaan di Selat Bali dalam empat dekade terakhir mencakup tenggelamnya PLM Labalikan pada Oktober 1985 yang menyebabkan 12 awak hilang. Selanjutnya, Feri LCT Kaltim Mas II karam akibat arus kuat pada 1994, diikuti tenggelamnya KMP Rafelia 2 karena masalah muatan pada 2016, serta KMP Yunicee yang terseret arus deras pada Mei 2021.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang