Jakarta, PAPANSKOR.COM-Piala Presiden 2025 yang digelar 6 Juli hingga 13 Juli 2025, sukses mengubah stigma buruk perihal turnamen sepak bola pramusim.
Selama ini, kompetisi sepak bola pramusim seringkali mendapat stigma buruk. Katanya hanya menghamburkan anggaran. Dibilang turnamen nggak penting, tim-tim pesertanya tidak tampil serius, atau peminatnya sedikit.
Hanya dalam delapan hari, semua kesan buruk perihal penyelenggaraan turnamen sepak bola pramusim itu terbantahkan oleh Piala Presiden 2025.
Ya, mengikuti momen demi momen penyelenggaraan Piala Presiden 2025 sedari awal hingga final, saya sampai pada kesimpulan.
Bahwa turnamen ini bukan sekadar pemanasan menuju kompetisi nasional Liga 1. Lebih dari itu, Piala Presiden 2025 dengan segala nilai plusnya, menjadi prototipe bagaimana seharusnya turnamen sepak bola bisa berdampak luas.
Selama delapan hari, kita disuguhi sebuah turnamen elit yang dikemas profesional dengan mengusung semangat kolaboratif, menjadi penggerak ekonomi kerakyatan, peduli lingkungan, serta menjadi sarana kegembiraan bagi masyarakat.
Tepat kiranya menyebut Piala Presiden 2025 sebagai perayaan kebersamaan untuk Indonesia.
Sebuah pesta rakyat yang membahagiakan. Persis seperti pesan dari salah satu ikon sepak bola Afrika, Didier Drogba. Kata dia, “football is more than just a game. It can bring hope and joy to people’s lives”.
Bukan hanya enam tim peserta dan pemain yang merasakan benefit dari Piala Presiden 2025. Dampak positifnya luas. Suporter bola, pekerja media, hingga pedagang kecil dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ikut merasakan kebermanfaatan turnamen ini.
Turnamen Elit Tanpa Memakai Duit Negara, Kok Bisa?
Tidak berlebihan menyebut Piala Presiden 2025 sebagai turnamen sepak bola elit. Lha wong pesertanya bukan tim kaleng-kaleng. Malah, untuk pertama kali dalam sejarah Piala Presiden, ada tim luar negeri ikut tampil di edisi ketujuh ini.
Ada Oxford United dari Inggris dan Port FC dari Thailand–yang akhirnya jadi juara. Kehadiran mereka menaikkan level Piala Presiden 2025 jadi lebih kompetitif.
Ada pula Persib Bandung selaku tim juara Liga 1 2024/25, Dewa United—runner up Liga 1 2024/25, dan Arema FC, sang juara bertahan. Serta tim Liga Indonesia All Star yang berisikan pemain-pemain terpilih dari tim-tim Liga 1 yang dipilih oleh publik secara daring.
Enam tim tersebut berkompetisi berebut gelar juara yang hadiahnya luar biasa besar: Rp11,8 miliar. Menariknya, semua tim peserta mendapat hadiah. Reward besar itu jelas memacu tim-tim peserta untuk tampil maksimal.
Dan yang patut digarisbawahi, Piala Presiden 2025 digelar tanpa menggunakan dana APBN maupun APBD. Sepenuhnya dibiayai oleh sponsor..
Kok bisa? Inilah wujud semangat kolaboratif dalam memajukan sepak bola di tanah air.
“Piala Presiden 2025 murni tidak memakai dana APBN maupun APBD”. Begitu kata Ketua Steering Committee Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait dalam konferensi pers di Jakarta, seperti dikutip dari laman resmi PSSI.
Sebenarnya, sejak pertama kali digelar pada 2015 silam, Piala Presiden telah mengedepankan independensi. Memajukan industri olahraga tanpa unsur pembiayaan dari pemerintah. Bahkan, melibatkan auditor independen untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana. Kualitasnya terus ditingkatkan. Semangat independesi dilanjutkan.
Piala Presiden 2025 juga mengedepankan integritas dan profesionalisme. Dalam setiap pertandingan, ada Video Assistant Referee (VAR) yang sejalan dengan semangat fair play. Turnamen ini juga melibatkan wasit asing sebagai pengadil agar pertandingan semakin bemutu.
Keterlibatan wasit asing ini patut diapresiasi. Apalagi, semangatnya demi mendorong pembinaan wasit nasional agar Indonesia ke depannya memiliki perangkat pertandingan yang andal dan berstandar internasional.
“Karena industri sepakbola bisa berjalan baik kalau pertandingan bersih. Kita libatkan wasit asing sekaligus membina wasit Indonesia”. Begitu pernyataan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.
Harga Tiket Terjangkau, Animo Tinggi Tak Kalah dari FIFA Club World Cup 2025
Siapa bilang turnamen sepak bola pramusim itu sepi peminat. Tingginya animo publik yang menyaksikan Piala Presiden 2025, baik secara langsung di tribun stadion maupun dari layar kaca televisi, menghapus anggapan tersebut.
Menyegarkan kembali ingatan kita, Piala Presiden 2025 dibuka dengan pertandingan Oxford United vs tim Liga Indonesia All Stars di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Minggu (6/7/2025) malam.
Anda tahu, pertandingan yang dimenangkan Oxford United 6-3 ini disaksikan lebih dari 41 ribu penonton yang hadir di SUGBK.
Jumlah penonton tersebut merupakan rekor terbanyak dari seluruh pelaksanaan Piala Presiden selama ini.
Jumlah penonton di laga pembukaan Piala Presiden 2025 tersebut tidak kalah, bahkan melebihi beberapa pertandingan di FIFA Club World Cup 2025 (Piala Dunia Antar Klub 2025).
Turnamen pramusim kelas dunia yang digelar di Amerika Serikat ini juga baru berakhir 13 Juli 2025 dengan tim Inggris, Chelsea, tampil sebagai juara.
Simak data dan fakta berikut. Melansir dari FIFA.com, pertandingan Inter Milan vs Urawa Red Diamonds pada penyisihan Grup E di Seatlle pada 26 Juni lalu, disaksikan 25.090 penonton. Padahal, Inter Milan klub top Eropa. Urawa Red Diamonds klub elit Asia asal Jepang.
Lalu, laga tim Jerman, Borussia Dortmund vs Ulsan HD dari Korea Selatan di penyisihan Grup F di Cincinnati, malah hanya ditonton 8.239 orang.
Bahkan, jumlah penonton laga pembukaan Piala Presiden 2025 masih lebih banyak dibanding pertandingan babak 16 besar FIFA Club World Cup 2025 antara Chelsea vs Benfica di Charlotte pada 28 Juni yang ditonton 25.929 penonton.
Tingginya animo penonton di Piala Presiden 2025 tidak lepas dari terobosan dalam penjualan tiket oleh Organizing Committee Piala Presiden 2025.
Tiket dijual dengan harga terjangkau. Hanya Rp50 ribu per lembar untuk tiap kategori. Tujuannya, agar masyarakat bisa mendapat akses mudah untuk menyaksikan langsung laga pembukaan Piala Presiden 2025.
Yang terjadi, tiket match pembukaan sold out hanya dalam dua hari sejak penjualan resmi dibuka melalui website www.PialaPresiden2025.com pada Minggu, 29 Juni 2025.
Saya percaya, ketika harga tiket Piala Presiden 2025 dijual murah, itu bukan karena value berkurang. Bukan soal menurunkan kualitas. Namun, semata demi niat mulia agar masyarakat luas bisa ikut merasakan keseruan turnamen ini.
Murahnya harga tiket ini jadi gambaran, Piala Presiden 2025 memang menjadi pesta rakyat. Jadi panggung rakyat. Suporter bisa datang nribun ke stadion untuk menonton pertandingan tim-tim hebat dan pemain-pemain top dengan harga ramah di kantong.
Seperti Pesta Rakyat: Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat, Pedagang Kecil Happy
Sebagai pesta rakyat, Piala Presiden 2025 menghadirkan kebahagiaan luas. Tak hanya pemain berkompetisi memburu prestasi di lapangan dan suporter yang gembira mendapat hiburan, turnamen ini juga berdampak nyata bagi ekonomi rakyat.
Para pelaku UMKM bahagia karena diberi ruang gratis untuk berjualan.
Konsep sepak bola sebagai penggerak ekonomi rakyat itu bukan hanya puisi indah. Tapi kisah nyata. Karena, ada banyak pelaku UMKM yang merasakannya.
Saya punya kawan dekat yang menikmati manfaat adanya kompetisi sepak bola di tanah air. Namanya Dadang (40 tahun). Dia berjualan nasi bungkus, gorengan, dan air mineral setiap ada pertandingan Liga 1 di Malang, Jawa Timur. Dia pernah bercerita, omzet jualannya bisa naik tiga kali lipat ketika ada pertandingan.
Dadang menjadi contoh nyata betapa pelaku UMKM merasakan dampak bahagia dari sepak bola. Karenanya, dia berharap kompetisi Liga 1 terus bergulir kondusif agar suporter datang ke stadion dan menjadi keran rezeki baginya. Seperti halnya pesta rakyat yang semua orang happy.
Begitu pula di Piala Presiden 2025 ini. Ada banyak sosok seperti Dadang. Sosok pedagang kecil yang merasa bahagia karena terbantu dan merasakan benefit dari digelarnya turnamen ini.
Bahwa Piala Presiden 2025 ini membawa kebahagiaan. Tidak hanya untuk suporter sepak bola, tapi juga bagi para pelaku UMKM. Para pedagang kecil. Sebab, Piala Presiden 2025 bukan sekadar turnamen, tapi juga penggerak ekonomi rakyat.
Satu lagi nilai plus Piala Presiden 2025. Ada sinergi dengan komunitas lokal untuk pengelolaan sampah dan kebersihan area pertandingan.
Mengusung semangat “datang bersih pulang bersih” sampah-sampah dikumpulkan dan dikelola bersama komunitas. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut saya, langkah ini bukan hanya bentuk kolaborasi dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ini sebuah edukasi mahal bagi para suporter di tanah air.
Mereka mendapat pencerahan. Bahwa suporter nribun di stadion itu tidak hanya nonton pertandingan lantas cuek pada sampah di sekitar mereka. Tapi, mereka bisa menjadi suporter yang peduli pada kebersihan. Itu kebiasaan keren.
Berawal dari momentum Piala Presiden 2025, kelak para suporter bisa menerapkan kebiasaan keren itu ketika Super League (Liga 1) 2025/26 bergulir mulai 8 Agustus 2025 mendatang.
Pada akhirnya, seperti pepatah tiada gading yang tak retak, Piala Presiden 2025 juga masih belum sempurna. Ada kekurangan.
Tapi, kiranya kekurangan itu tidak untuk mengaburkan sisi yang sudah bagus. Lebih sebagai bahan evaluasi agar ke depannya bisa semakin baik.
Terpenting, kita tidak boleh menutup mata pada aspek positif dari turnamen ini. Betapa Piala Presiden 2025 menjadi contoh nyata, bagaimana kompetisi sepak bola seharusnya dijalankan dengan semangat kolaboratif agar bisa berdampak luas. Agar banyak orang ikut merasa happy. (*)






