Mengapa Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa?

20 Agustus 2026, 10:16 WIB

Menjadi seorang astronaut sering kali dianggap sebagai pekerjaan impian yang penuh dengan petualangan luar biasa di antara bintang-bintang. Namun, di balik kemegahan pemandangan Bumi dari orbit, para penjelajah antariksa ini harus menghadapi berbagai tantangan fisik yang sangat tidak nyaman, salah satunya adalah gangguan pencernaan kronis seperti sembelit. Baru-baru ini, para ilmuwan mulai mengungkap tabir misteri di balik fenomena medis ini guna memastikan kesehatan para kru selama misi jangka panjang di masa depan.

Mekanisme Tubuh dan Dampak Mikrogravitasi

Kondisi mikrogravitasi atau ketiadaan bobot di luar angkasa ternyata memberikan dampak yang signifikan terhadap cara kerja organ dalam manusia, terutama sistem pencernaan. Di Bumi, gravitasi membantu proses pergerakan makanan dan limbah melalui saluran pencernaan secara alami. Namun, ketika berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), gaya tarik yang minimal ini membuat proses peristaltik atau kontraksi otot saluran cerna menjadi kurang efisien. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu utama mengapa banyak astronaut melaporkan kesulitan buang air besar selama berminggu-minggu.

Selain masalah mekanis, perpindahan cairan dalam tubuh juga memainkan peran krusial. Dalam lingkungan tanpa gravitasi, cairan tubuh cenderung bergerak naik menuju bagian dada dan kepala, sebuah fenomena yang sering disebut sebagai puffy face syndrome. Perpindahan cairan ini menyebabkan bagian bawah tubuh, termasuk usus, mengalami kekurangan hidrasi yang optimal. Tanpa asupan cairan yang cukup di dalam usus besar, tinja menjadi lebih keras dan sulit untuk dikeluarkan, yang pada akhirnya berujung pada kondisi sembelit yang menyakitkan bagi para astronaut.

Para peneliti juga menyoroti bahwa aktivitas fisik di luar angkasa sangat berbeda dengan di Bumi. Meskipun para astronaut diwajibkan berolahraga selama dua jam setiap hari untuk mencegah pengeroposan tulang dan atrofi otot, jenis gerakan yang mereka lakukan tidak selalu merangsang motilitas usus dengan cara yang sama seperti berjalan atau berlari di bawah pengaruh gravitasi normal. Kurangnya tekanan alami pada rongga perut saat bergerak di ruang hampa udara semakin memperlambat proses pembuangan sisa makanan dari dalam tubuh.

Perubahan Mikrobioma dan Pola Makan Antariksa

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah perubahan pada mikrobioma atau ekosistem bakteri di dalam usus astronaut. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lingkungan luar angkasa, yang terpapar radiasi kosmik dan stres tinggi, dapat mengubah komposisi bakteri baik dalam perut. Bakteri yang biasanya membantu memecah serat dan melancarkan pencernaan dapat berkurang jumlahnya, sementara bakteri lain yang mungkin menghambat proses tersebut justru berkembang biak. Ketidakseimbangan ini tidak hanya menyebabkan sembelit, tetapi juga dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.

Pola makan di luar angkasa juga menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan pencernaan. Sebagian besar makanan yang dikonsumsi oleh kru ISS adalah makanan yang telah diproses sedemikian rupa, dikeringkan (freeze-dried), atau disterilkan agar tahan lama tanpa pendingin. Meskipun nutrisinya terjaga, tekstur dan kandungan serat alami dari makanan tersebut sering kali tidak sebanding dengan makanan segar di Bumi. Kurangnya asupan serat kasar yang bervariasi membuat usus bekerja lebih keras untuk mendorong sisa makanan, yang memperburuk kondisi sembelit yang sudah dipicu oleh faktor lingkungan.

Selain aspek biologis, terdapat pula faktor psikologis dan logistik yang memengaruhi kebiasaan buang air besar para astronaut. Menggunakan toilet di luar angkasa bukanlah perkara mudah; sistem vakum yang digunakan memerlukan konsentrasi dan posisi tubuh yang sangat spesifik. Rasa tidak nyaman atau kurangnya privasi di lingkungan yang sempit sering kali membuat astronaut secara tidak sadar menahan keinginan untuk buang air besar, yang jika dilakukan berulang kali akan menyebabkan gangguan pencernaan yang lebih serius dan kronis.

Implikasi untuk Misi Jarak Jauh ke Mars

Pemahaman yang lebih mendalam mengenai penyebab sembelit di luar angkasa menjadi sangat krusial seiring dengan rencana ambisius badan antariksa dunia untuk mengirimkan manusia ke Mars. Perjalanan menuju Planet Merah diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Jika masalah pencernaan dasar seperti sembelit tidak dapat diatasi dengan efektif, hal ini dapat menurunkan performa kru, menyebabkan ketidaknyamanan fisik yang hebat, hingga memicu komplikasi medis yang lebih serius di tengah perjalanan yang jauh dari bantuan medis Bumi.

Saat ini, para ilmuwan sedang mengembangkan berbagai solusi, mulai dari suplemen probiotik khusus antariksa, penyesuaian menu makanan yang lebih kaya serat, hingga teknik pijat perut tertentu yang dapat dilakukan dalam kondisi mikrogravitasi. Dengan memecahkan misteri sembelit ini, diharapkan para astronaut di masa depan dapat menjalankan misi mereka dengan lebih nyaman dan sehat. Keberhasilan manusia untuk tinggal lebih lama di luar angkasa sangat bergantung pada kemampuan kita untuk beradaptasi dengan fungsi-fungsi biologis paling dasar dalam lingkungan yang paling ekstrem sekalipun.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang