Ilmuwan Coba Hidupkan Kembali Katak Unik yang Punah

20 Agustus 2026, 05:16 WIB

Dunia sains selalu dipenuhi dengan berbagai upaya luar biasa untuk menembus batas ketidakmungkinan. Salah satu proyek paling ambisius yang kini sedang berjalan adalah upaya para ilmuwan untuk menghidupkan kembali spesies katak unik yang telah lama punah. Katak ini dikenal memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tidak biasa, yaitu mengerami telur di dalam perut dan melahirkan anak-anaknya langsung melalui mulut.

Keunikan Reproduksi Katak Pengeram Lambung

Katak yang menjadi pusat perhatian ini adalah katak pengeram lambung (gastric-brooding frog) yang berasal dari wilayah hutan hujan di Australia. Spesies ini dinyatakan punah pada era 1980-an akibat berbagai faktor, termasuk hilangnya habitat alami dan penyebaran penyakit jamur yang mematikan. Sebelum kepunahannya, katak ini sangat menarik perhatian para ahli biologi di seluruh dunia karena metode reproduksinya yang tidak tertandingi di dunia hewan.

Setelah proses pembuahan, katak betina akan menelan telur-telurnya sendiri. Secara luar biasa, lambung katak yang biasanya berfungsi untuk mencerna makanan dengan asam lambung yang kuat, seketika berubah fungsi menjadi rahim sementara. Selama masa pengeraman ini, katak betina berhenti makan dan produksi asam lambungnya terhenti sepenuhnya. Hal ini dimungkinkan karena telur dan berudu katak tersebut menghasilkan senyawa kimia khusus yang mampu menonaktifkan produksi asam di dalam lambung sang induk.

Setelah beberapa minggu berkembang di dalam perut, berudu-berudu tersebut tumbuh menjadi katak kecil yang sempurna. Pada saat itulah, sang induk akan membuka mulutnya lebar-lebar dan membiarkan anak-anaknya melompat keluar satu per satu menuju dunia luar. Proses melahirkan yang sangat tidak biasa ini menjadikan katak pengeram lambung sebagai salah satu keajaiban evolusi yang paling menakjubkan sekaligus paling disayangkan ketika mereka punah.

Proyek Lazarus: Menghidupkan yang Telah Mati

Kehilangan spesies seunik ini mendorong para ilmuwan untuk tidak tinggal diam. Melalui sebuah inisiatif ilmiah yang dinamakan Proyek Lazarus, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh para ahli dari Australia berusaha keras untuk membawa spesies ini kembali dari kematian biologis. Mereka memanfaatkan teknologi kloning mutakhir yang terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Para ilmuwan menggunakan teknik yang disebut transfer nuklir sel somatik (somatic cell nuclear transfer). Mereka mengambil jaringan tubuh katak pengeram lambung yang telah dibekukan dan disimpan dengan baik sejak tahun 1970-an, sebelum spesies tersebut punah. Dari jaringan yang diawetkan ini, para peneliti mengekstrak materi genetik atau DNA yang masih utuh. DNA tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sel telur dari spesies katak hidup yang masih berkerabat dekat, setelah materi genetik asli dari sel telur donor tersebut dinonaktifkan.

Meskipun proyek ini menghadapi tantangan yang sangat besar, para ilmuwan telah berhasil mencapai tonggak sejarah yang penting. Mereka berhasil mengaktifkan kembali sel-sel dari spesies yang telah punah tersebut, sehingga sel telur donor mulai membelah dan membentuk embrio awal. Walaupun embrio-embrio tersebut belum berhasil tumbuh menjadi katak dewasa, pencapaian ini membuktikan bahwa menghidupkan kembali spesies yang telah punah bukanlah hal yang mustahil di masa depan.

Manfaat Medis dan Masa Depan Keanekaragaman Hayati

Upaya menghidupkan kembali katak pengeram lambung ini tidak hanya didorong oleh rasa ingin tahu ilmiah semata. Para peneliti meyakini bahwa keberhasilan proyek ini dapat membuka jalan bagi penemuan medis yang revolusioner bagi manusia. Kemampuan katak ini untuk menghentikan produksi asam lambung secara alami sangat diminati oleh para peneliti medis yang mempelajari penyakit maag kronis dan tukak lambung pada manusia.

Jika para ilmuwan dapat memahami sepenuhnya mekanisme genetik di balik penghentian asam lambung tersebut, hal ini dapat mengarah pada pengembangan obat-obatan baru yang jauh lebih efektif untuk mengatasi berbagai gangguan pencernaan pada manusia. Selain itu, teknologi yang dikembangkan dalam proyek ini juga dapat digunakan untuk menyelamatkan spesies amfibi lain yang saat ini sedang berada di ambang kepunahan akibat perubahan iklim dan penyakit.

Dengan terus berkembangnya teknologi genetika, batas antara kepunahan mutlak dan peluang hidup kedua menjadi semakin kabur. Keberhasilan Proyek Lazarus di masa depan tidak hanya akan mengembalikan salah satu makhluk paling unik di bumi, tetapi juga akan menandai era baru dalam konservasi keanekaragaman hayati global.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang