3 Alasan Utama Karhutla Sulit Dipadamkan Menurut BNPB

23 Agustus 2026, 01:45 WIB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menyoroti berbagai tantangan berat yang dihadapi tim gabungan dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Meskipun upaya pemadaman darat maupun udara terus dikerahkan secara masif, keberadaan titik api di beberapa titik rawan masih sangat sulit untuk benar-benar dipadamkan. Fenomena musiman ini memerlukan penanganan yang komprehensif serta pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor pemicu utamanya di lapangan.

Tiga Hambatan Utama Pemadaman Api di Lapangan

Berdasarkan evaluasi BNPB, terdapat tiga hambatan utama yang menjadi penyebab mengapa kobaran api karhutla sangat tangguh dan berulang kali muncul kembali. Faktor pertama adalah tingkat kekeringan yang sangat ekstrem akibat dampak musim kemarau. Kondisi vegetasi yang mengering dan cuaca terik membuat material kayu serta dedaunan di kawasan hutan menjadi sangat mudah terbakar. Ketika api mulai menyala, proses penyebarannya dapat berlangsung sangat cepat hanya dalam hitungan menit.

Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah terbatas dan sulitnya akses menuju sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Banyak titik api terpantau berada di kawasan pedalaman, area konservasi, atau kawasan hutan yang terisolasi dari infrastruktur jalan darat. Ketika tim pemadam darat berhasil mencapai lokasi, mereka sering kali mendapati bahwa anak sungai, kanal, atau embung di sekitar area tersebut telah mengering akibat kemarau panjang. Hal ini memaksa petugas harus mengangkut air dari jarak yang sangat jauh atau mengandalkan bantuan helikopter pemadam (water bombing) yang memiliki keterbatasan operasional.

Faktor ketiga adalah karakteristik medan yang ekstrem serta kondisi cuaca lokal yang tidak menentu. Tiupan angin kencang di area terbuka sering kali mengubah arah rambatan api secara mendadak, sehingga membahayakan keselamatan para petugas di lapangan. Selain itu, banyaknya kawasan lahan gambut di Indonesia menambah kompleksitas pemadaman secara keseluruhan.

Tantangan Khusus Kebakaran pada Lahan Gambut

Penanganan kebakaran di lahan gambut memerlukan perhatian khusus karena sifat alamiah gambut yang menyimpan bahan organik melimpah. Meskipun bagian permukaan tampak sudah padam atau hanya menyisakan asap tipis, sekam api di bawah permukaan tanah gambut bisa tetap membara selama berminggu-minggu. Kondisi ini membuat api dapat muncul kembali ke permukaan secara tiba-tiba ketika diterpa angin kencang atau saat suhu udara meningkat pesat.

Untuk memadamkan api di lahan gambut secara tuntas, dibutuhkan volume air yang sangat besar guna membasahi seluruh lapisan tanah hingga jenuh. Tanpa adanya pasokan air yang memadai di lokasi, upaya pemadaman darat sering kali hanya mampu mengendalikan api di bagian permukaan tanpa menyentuh sumber api utama yang berada jauh di dalam tanah.

Strategi Mitigasi dan Solusi Penanggulangan BNPB

Menghadapi berbagai kendala geografis dan alam tersebut, BNPB bersama instansi terkait terus mengoptimalkan beragam langkah mitigasi dan penanggulangan. Salah satu solusi konkret yang saat ini gencar dilakukan di berbagai titik rawan adalah pembuatan sumur-sumur bor di kawasan strategis. Keberadaan sumur bor ini diharapkan mampu menyediakan sumber air darurat yang konsisten bagi tim pemadam darat ketika pasokan air permukaan mulai habis.

Selain pembangunan infrastruktur air, pemerintah juga mengandalkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk memicu hujan buatan di wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran parah. Operasi TMC ini bertujuan untuk membasahi kembali lahan gambut yang mengering serta mengisi ulang cadangan air di waduk, embung, dan sungai. Pendekatan ini terbukti membantu menekan jumlah titik panas (hotspot) sebelum api menyebar semakin luas.

Sinergi antara Satuan Tugas (Satgas) Terpadu yang melibatkan unsur TNI, Polri, instansi pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat peduli api terus ditingkatkan. Patroli rutin di kawasan rawan bencana diperketat untuk mendeteksi dini potensi kemunculan api. Pada akhirnya, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada respons darurat saat api berkobar, tetapi juga pada tindakan pencegahan yang konsisten dan kesadaran bersama untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang