Advertisment

Puan Minta Pendampingan Psikologis Keluarga Jurnalis Hilang

10 September 2026, 12:39 WIB

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Puan Maharani, baru-baru ini menyampaikan desakan kepada pemerintah untuk segera memberikan pendampingan psikologis yang komprehensif bagi keluarga jurnalis dan kru yang dilaporkan hilang di sekitar kawasan Anak Krakatau, Selat Sunda. Selain itu, Puan juga menekankan pentingnya optimalisasi upaya pencarian dan penyelamatan untuk menemukan mereka yang hilang. Permintaan ini muncul sebagai respons atas insiden hilangnya sejumlah individu yang sedang menjalankan tugas peliputan atau terkait dengan aktivitas di area vulkanik tersebut.

Pentingnya Dukungan Psikologis dan Optimalisasi Pencarian

Puan Maharani memahami betul bahwa hilangnya anggota keluarga, apalagi dalam situasi yang tidak pasti seperti di tengah laut atau di sekitar gunung berapi aktif, dapat menimbulkan trauma mendalam. Pendampingan psikologis yang dimaksud bukan hanya sekadar konseling singkat, melainkan sebuah program dukungan berkelanjutan yang melibatkan psikolog atau psikiater profesional. Dukungan ini penting untuk membantu keluarga menghadapi ketidakpastian, kecemasan, duka cita, dan potensi trauma pasca-kejadian, terlepas dari dari hasil pencarian nantinya. Kehilangan orang terkasih tanpa kejelasan nasibnya seringkali lebih berat daripada menghadapi kematian yang sudah pasti, karena menyisakan ruang untuk harapan yang terus-menerus berbenturan dengan realitas yang suram.

Area Selat Sunda, khususnya di sekitar Anak Krakatau, dikenal sebagai wilayah yang dinamis dan berpotensi bahaya. Aktivitas vulkanik gunung ini seringkali tidak terduga, ditambah dengan kondisi maritim yang bisa sangat menantang, seperti arus kuat dan perubahan cuaca ekstrem. Jurnalis dan kru yang hilang kemungkinan besar sedang menjalankan tugas peliputan terkait aktivitas vulkanik atau fenomena alam lainnya di wilayah tersebut, sebuah tugas yang esensial namun penuh risiko. Oleh karena itu, optimalisasi pencarian yang diminta Puan mencakup pengerahan sumber daya yang lebih besar, penggunaan teknologi canggih seperti sonar atau drone bawah air, perluasan area pencarian, serta koordinasi yang lebih erat antarlembaga seperti Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya. Setiap detik sangat berharga dalam operasi SAR, dan upaya maksimal harus dikerahkan untuk meningkatkan peluang penemuan.

Dukungan psikologis yang memadai juga menjadi krusial mengingat lamanya waktu pencarian yang mungkin diperlukan dan tekanan emosional yang terus-menerus dialami keluarga. Mereka tidak hanya berhadapan dengan hilangnya orang terkasih, tetapi juga dengan sorotan publik dan harapan yang kadang naik turun. Pemerintah, melalui kementerian atau lembaga terkait, diharapkan dapat menyediakan fasilitas dan tenaga ahli yang siap mendampingi keluarga-keluarga ini dalam jangka panjang, memastikan bahwa mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi cobaan berat ini. Ini adalah bentuk empati dan tanggung jawab negara terhadap warganya yang sedang berduka dan dalam ketidakpastian.

Risiko Profesi Jurnalis dan Tanggung Jawab Negara

Profesi jurnalis, terutama mereka yang meliput di lapangan, seringkali dihadapkan pada berbagai risiko yang tidak kecil. Dari zona konflik, bencana alam, hingga lingkungan yang tidak stabil secara politik atau geografis, jurnalis memiliki peran krusial dalam menyampaikan informasi kepada publik, seringkali dengan mengorbankan keselamatan pribadi. Kasus hilangnya jurnalis dan kru di Selat Sunda ini menjadi pengingat pahit akan bahaya yang melekat pada profesi ini. Mereka adalah garda terdepan dalam menyajikan fakta, dan keberanian mereka patut diacungi jempol, namun juga menuntut adanya sistem perlindungan dan dukungan yang memadai dari berbagai pihak.

Tanggung jawab negara dalam konteks ini sangatlah besar. Pertama, negara memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan warganya, termasuk jurnalis, sejauh mungkin. Ini bisa berarti menyediakan informasi risiko yang akurat, memfasilitasi akses yang aman, atau bahkan menetapkan zona larangan jika bahaya terlalu tinggi. Kedua, ketika insiden terjadi, negara melalui lembaga-lembaga seperti Basarnas harus mengerahkan segala upaya untuk melakukan pencarian dan penyelamatan secara profesional dan berkelanjutan, tanpa memandang status atau profesi korban. Ketiga, dan ini yang ditekankan oleh Puan Maharani, adalah tanggung jawab moral dan kemanusiaan untuk memberikan dukungan pasca-insiden kepada keluarga korban. Dukungan ini tidak hanya terbatas pada aspek psikologis, tetapi juga bisa mencakup bantuan logistik atau administratif yang mungkin diperlukan keluarga dalam menghadapi situasi sulit ini.

Selain itu, insiden semacam ini juga memicu diskusi lebih lanjut mengenai standar keselamatan bagi jurnalis yang bertugas di lapangan. Organisasi media memiliki peran penting dalam membekali jurnalisnya dengan pelatihan keselamatan, peralatan pelindung diri, dan asuransi yang memadai. Namun, dukungan dari pemerintah dan masyarakat juga krusial untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi para pencari berita. Keselamatan jurnalis adalah indikator penting bagi kebebasan pers dan kesehatan demokrasi suatu negara. Perlindungan terhadap jurnalis bukan hanya tentang melindungi individu, tetapi juga tentang menjaga aliran informasi yang bebas dan akurat kepada masyarakat, yang merupakan pilar penting dalam masyarakat yang demokratis dan transparan.

Desakan Puan Maharani ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang holistik dalam menangani insiden hilangnya jurnalis dan kru. Tidak hanya fokus pada upaya pencarian fisik, tetapi juga pada aspek kemanusiaan dan psikologis yang seringkali terabaikan. Dukungan psikologis bagi keluarga adalah investasi jangka panjang dalam kesejahteraan mereka, membantu mereka memproses duka dan ketidakpastian. Sementara itu, optimalisasi pencarian adalah manifestasi dari komitmen negara untuk tidak menyerah dalam menemukan warganya yang hilang. Semoga upaya pencarian membuahkan hasil, dan keluarga yang terdampak mendapatkan kekuatan serta dukungan yang mereka butuhkan dalam masa-masa sulit ini. Insiden ini juga harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk mengevaluasi dan meningkatkan standar keselamatan serta sistem dukungan bagi para jurnalis yang berdedikasi dalam menjalankan tugasnya.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang