Cara membaca hasil audiometri sering kali membingungkan karena lembar hasil pemeriksaan ini dipenuhi oleh garis, simbol, dan angka-angka yang tampak rumit bagi orang awam. Padahal, memahami grafik yang dikenal dengan sebutan audiogram ini sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan telinga Anda yang sebenarnya. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam mendengar berbagai frekuensi suara pada tingkat kekerasan tertentu.
Konsultasikan dengan profesional medis sebelum mengambil tindakan lebih lanjut setelah Anda mendapatkan hasil tes ini. Saat melihat lembar hasil tes pendengaran, Anda akan dihadapkan pada sebuah grafik dua dimensi yang memiliki dua sumbu utama. Sumbu horizontal atau sumbu X menggambarkan nada atau frekuensi suara yang diukur dalam satuan Hertz (Hz).
Berdasarkan data dari penyedia layanan kesehatan, contoh ukuran frekuensi suara meliputi nada bass rendah sekitar 50-60 Hz hingga nada tinggi yang mencapai sekitar 10.000 Hz atau lebih. Rentang pendengaran normal pada manusia sendiri umumnya berada pada frekuensi 250-8.000 Hz.
Sementara itu, sumbu vertikal atau sumbu Y merepresentasikan intensitas atau kerasnya suara yang dinyatakan dalam satuan desibel, tepatnya desibel tingkat pendengaran atau decibel hearing level (dB HL). Angka desibel ini dimulai dari minus atau nol di bagian atas grafik, lalu nilainya semakin besar ke arah bawah guna menunjukkan suara yang semakin keras.
Arti Simbol Warna Merah dan Biru
Dalam prosedur teknik nada murni, dokter atau audiolog akan menggunakan simbol dan warna yang berbeda untuk membedakan telinga kanan dan telinga kiri Anda. Telinga kanan biasanya ditandai dengan warna merah dan disimbolkan dengan lingkaran (O).
Sebaliknya, telinga kiri diwakili oleh warna biru dengan simbol silang (X). Garis-garis yang menghubungkan simbol-simbol tersebut mencerminkan ambang batas pendengaran Anda untuk masing-masing telinga pada setiap frekuensi suara.
Menentukan Ambang Batas Suara Terendah
Pada pemeriksaan teknik nada murni, intensitas nada terendah dalam desibel diukur ketika suara berhasil didengar dengan akurasi 50% benar oleh pasien. Titik inilah yang kemudian diplot ke dalam grafik sebagai ambang pendengaran Anda.
Durasi umum untuk pelaksanaan prosedur tes pendengaran ini adalah sekitar 30 menit. Selama waktu tersebut, Anda diminta memberikan respons setiap kali mendengar suara sekecil apa pun melalui penyuara telinga.
Mengukur Tingkat Keparahan Gangguan Pendengaran
Setelah mengetahui cara membaca titik-titik pada grafik, langkah berikutnya adalah mencocokkan angka desibel tersebut dengan klasifikasi medis. Tingkat keparahan gangguan pendengaran dikelompokkan berdasarkan desibel tingkat pendengaran (dB HL).
Berikut adalah klasifikasi ambang pendengaran yang digunakan oleh para ahli medis internasional dalam memetakan kondisi fungsi pendengaran seseorang:
| Tingkat Keparahan | Ambang Batas Pendengaran (dB HL) | Kemampuan Mendengar Suara Lingkungan |
|---|---|---|
| Normal | kurang dari 25 dB HL | Suara lembut sekitar 20 dB |
| Ringan | 25-40 dB HL | Bisikan atau gemerisik daun |
| Sedang | 41-65 dB HL | Percakapan biasa sehari-hari |
| Parah | 66-90 dB HL | Musik keras sekitar 80-120 dB |
| Mendalam | lebih dari 90 dB HL | Suara mesin jet sekitar 180 dB |
Apabila titik-titik pada grafik Anda sebagian besar berada di area bawah, hal tersebut mengindikasikan bahwa Anda membutuhkan volume yang lebih keras agar suara dapat terdengar. Sebaliknya, jika garis grafik berada di area atas atau kurang dari 25 dB HL, maka fungsi pendengaran Anda dikategorikan normal.
Menilai Jenis Gangguan Pendengaran Melalui Hantaran Udara dan Tulang
Pemeriksaan audiometri umumnya menguji dua jalur hantaran suara, yaitu hantaran udara (air conduction) dan hantaran tulang (bone conduction). Hantaran udara menguji seluruh sistem pendengaran mulai dari telinga luar, tengah, hingga telinga dalam dengan menggunakan penyuara telinga biasa.
Sementara itu, hantaran tulang menguji fungsi telinga dalam secara langsung dengan menempelkan alat khusus di belakang telinga (tulang mastoid). Perbandingan antara kedua hasil uji ini sangat menentukan jenis gangguan pendengaran yang dialami pasien.
Gangguan Pendengaran Konduktif
Kondisi ini terjadi apabila hasil hantaran tulang menunjukkan batas normal, namun hasil hantaran udara menunjukkan adanya penurunan kemampuan dengar. Hal ini menandakan adanya sumbatan atau masalah mekanis di telinga luar atau telinga tengah, sementara saraf telinga dalam masih berfungsi baik.
Gangguan Pendengaran Sensorineural
Jenis gangguan ini terdeteksi apabila grafik untuk hantaran udara dan hantaran tulang sama-sama mengalami penurunan di tingkat desibel yang serupa. Masalah ini biasanya berakar pada kerusakan sel rambut di dalam koklea atau adanya gangguan pada jalur saraf pendengaran menuju otak.
Gangguan Pendengaran Campuran
Sesuai dengan namanya, gangguan pendengaran campuran melibatkan masalah pada sistem konduktif sekaligus sensorineural. Grafik audiogram akan memperlihatkan penurunan pada kedua hantaran, namun hantaran udara memiliki kondisi yang jauh lebih buruk dibandingkan hantaran tulang.
Langkah Edukatif Lanjutan Setelah Menerima Hasil Tes
Mengetahui cara membaca hasil audiometri memberikan Anda pemahaman awal yang berharga mengenai kondisi kesehatan organ pendengaran Anda. Informasi ini mempermudah komunikasi saat Anda berdiskusi dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
- Bandingkan grafik telinga kanan dan kiri untuk melihat apakah penurunan terjadi secara simetris atau sepihak.
- Perhatikan frekuensi mana yang paling sulit Anda dengar, apakah frekuensi rendah (bass) atau frekuensi tinggi (nada melengking).
- Gunakan data hasil pemeriksaan sebagai acuan dasar untuk memantau perkembangan fungsi pendengaran di masa mendatang.
Mengingat hasil audiogram merupakan dokumen medis yang kompleks, interpretasi akhir dan penegakan diagnosis yang sah tetap berada di tangan dokter spesialis. Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu mempertahankan kualitas hidup dan mencegah penurunan fungsi pendengaran yang lebih parah.






