Ajang SEA Games 2025 di Thailand telah usai dan fokus olahraga Asia Tenggara kini mulai beralih menuju persiapan Asian Games 2026 hingga Olimpiade 2028 Los Angeles. Meski demikian, jejak pesta olahraga multicabang tersebut masih menjadi perbincangan publik, termasuk media Vietnam yang menyoroti sejumlah kejanggalan selama turnamen. Dikutip dari Papanskor, terdapat tujuh drama kontroversial serta dua hasil kurang optimal yang sempat viral di media sosial sepanjang pelaksanaan gelaran tersebut.
Dua insiden awal berkaitan dengan kesalahan teknis panitia, seperti tertukarnya bendera Indonesia dengan Laos serta bendera Vietnam dengan Thailand pada cabang olahraga futsal.
Selain itu, lagu kebangsaan Vietnam dan Laos sempat tidak terdengar pada pertandingan pembuka fase grup sepak bola putra U22. Kesalahan administrasi juga muncul pada pencantuman nama tim nasional dan pemain di sektor sepak bola putra maupun putri dalam beberapa laga.
Insiden lagu kebangsaan kembali terjadi saat Indonesia Raya terhenti mendadak ketika petenis Janice Tjen/Aldila Sutjiadi mengamankan medali emas ganda putri. Momen emosional muncul saat kontingen Indonesia tetap melanjutkan nyanyian secara serempak dan khidmat hingga menuai respons haru dari warganet.
Ketegangan antarkontingen terjadi pada cabang pencak silat ketika tim Malaysia menyerang wasit Filipina setelah atlet mereka dinyatakan kalah dari wakil tuan rumah Thailand. Pada laga lain, atlet Vietnam Vu Van Kien terkena diskualifikasi saat sedang memimpin perolehan poin dari pesilat Thailand. Kekecewaan besar juga diungkapkan pelatih timnas wanita Vietnam, Mai Duc Chung, setelah gol timnya dianulir oleh hakim garis asal Laos, Phutsavan Chanthavong.
Perangkat pertandingan dinilai melakukan kelalaian karena gol tersebut jelas tidak berada dalam posisi offside, ditambah adanya insiden handball di kotak penalti Filipina yang diabaikan wasit Australia.
Atas kejadian ini, pihak AFC telah menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada pihak Vietnam dan berkomitmen melakukan peninjauan terhadap wasit berlisensi FIFA tersebut. Catatan keluhan perangkat pertandingan juga datang dari cabang kickboxing melalui atlet Indonesia, Andi Jerni, yang mengaku mendapat tekanan dari wasit sebelum akhirnya meraih medali perunggu.
Hasil Minor Dua Negara Besar
Di luar kendala teknis, kritik tajam melanda internal asosiasi sepak bola tuan rumah yang dipimpin oleh Nualphan Lamsam alias Madam Pang.
Publik Thailand melayangkan kritik keras karena cabang olahraga sepak bola dan futsal mereka gagal menyumbang satu pun medali emas. Meskipun Thailand keluar sebagai juara umum dengan raihan 233 medali emas, nihilnya emas dari sepak bola dan futsal dinilai mengurangi kesuksesan tersebut.
Thailand sejatinya menjadi satu-satunya tim yang meraih medali di seluruh kategori, yakni perak sepak bola putra U22, perunggu sepak bola putri, perak futsal putra, dan perunggu futsal putri. Sementara itu, timnas sepak bola Indonesia masuk dalam daftar 10 cabang olahraga yang gagal menyumbangkan medali pada SEA Games 2025.
Kegagalan membawa pulang medali dari cabang sepak bola ini menjadi catatan minor pertama bagi Indonesia sejak edisi tahun 2015. Setelah menyelesaikan berbagai dinamika di Thailand, seluruh kontingen kini bersiap menghadapi Asian Games 2026 yang akan berlangsung di Aichi dan Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 4 Oktober 2026.







