Banyak yang Keliru, Ini Cara Solat Sesuai Sunah Rosul yang Sah

27 Juni 2026, 04:21 WIB

Banyak umat Muslim yang masih merasa ragu apakah gerakan harian mereka sudah tepat atau belum. Mengetahui cara solat sesuai sunah rosul secara mendalam menjadi kunci utama agar ibadah kita sah dan diterima oleh Allah SWT. Sering kali kita hanya mengikuti kebiasaan lingkungan tanpa memeriksa kembali dalil-dalil sahih yang melandasinya.

Kesalahan kecil dalam gerakan atau urutan bisa mengurangi kesempurnaan ibadah berharga ini. Oleh karena itu, memahami tuntunan langsung dari Nabi Muhammad SAW adalah sebuah kewajiban bagi setiap Muslim yang ingin meningkatkan kualitas spiritualnya.

Sebelum masuk ke dalam rukun gerakan, ada prasyarat mutlak yang tidak boleh diabaikan sama sekali. Kesucian lahiriah menjadi cermin dari kesiapan batin untuk menghadap Sang Pencipta.

Berdasarkan hadis riwayat Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Thohaarah, no. 3 menyebutkan tiga kunci solat yang wajib dipahami. Berwuduk adalah kunci utama untuk membuka keabsahan ibadah tersebut.

Tanpa wudu yang sempurna sesuai syariat, seluruh rangkaian gerakan setelahnya tidak akan bernilai di hadapan Allah. Sering kali saya menemui orang yang terburu-buru saat membasuh anggota wudu sehingga ada bagian kulit yang terlewat dari air.

Setelah memastikan diri suci dari hadas, langkah berikutnya adalah menghadap kiblat dengan posisi badan tegak lurus. Berdiri tegak merupakan rukun bagi yang mampu, dan di sinilah konsentrasi pikiran mulai dipusatkan sepenuhnya.

Variasi Mengangkat Tangan Saat Takbiratul Ihram

Setelah berdiri dengan khusyuk, prosesi sakral dimulai melalui ucapan keagungan. Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab al-Sholaah, no. 498 menjelaskan bahwa Rasulullah membuka solatnya dengan takbir.

Ucapan takbir ini bertindak sebagai pembatas yang mengharamkan segala aktivitas luar di luar gerakan ibadah. Menariknya, dalam hal teknis mengangkat tangan, terdapat ruang kemudahan yang bersumber dari sunah nabi sendiri.

Cara mengangkat tangan saat takbiratul ihram memiliki 3 variasi resmi yang valid berdasarkan riwayat para sahabat:

  • Mengangkat tangan secara bersamaan dengan permulaan ucapan takbir.
  • Mengangkat tangan terlebih dahulu secara penuh, baru kemudian lisan bertakbir dan tangan diturunkan menuju posisi sedekap.
  • Mengangkat tangan beserta permulaan takbir dan gerakan tangan tersebut selesai bersamaan dengan selesainya ucapan takbir.

Ketiga variasi ini semuanya bersumber dari jalur yang sahih, sehingga Anda bisa memilih mana yang paling memicu kekhusyukan. Penegasan mengenai awal mula ibadah ini juga diperkuat oleh kesaksian para sahabat terdekat Nabi.

Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Azaan, no. 738 menyebutkan kesaksian 'Abdullah ibn 'Umar bahwa Rasulullah membuka solat dengan takbir lalu mengangkat kedua tangannya. Fleksibilitas ini menunjukkan betapa indahnya syariat Islam.

"Adalah Rasulullah apabila telah berdiri untuk bersolat, beliau mengangkat kedua tangannya, kemudian baru bertakbir." (HR. Muslim)

Dalam kasus yang sering saya temui di masyarakat, banyak jemaah yang bingung hingga berdebat mengenai mana posisi tangan yang paling benar. Melalui data teks di atas, kita tahu bahwa variasi tersebut justru memperkaya khazanah ibadah kita selama memiliki dasar riwayat yang kuat.

Cara Sholat dan Bacaan Sholat yang Benar Sesuai dengan Tata Cara Sholat Nabi Muhammad | Khazanah Ilmi

Langkah Berurutan Gerakan Solat dari Awal Hingga Akhir

Menerapkan cara solat sesuai sunah rosul membutuhkan ketelitian dari satu perpindahan gerakan ke gerakan berikutnya. Semua harus dilakukan dengan thuma'ninah atau tidak tergesa-gesa.

Berikut adalah urutan langkah demi langkah yang harus dieksekusi secara berurutan oleh setiap Muslim saat mendirikan ibadah:

  1. Berdiri tegak menghadap kiblat disertai niat yang ikhlas di dalam hati tanpa perlu dilafalkan secara berlebihan.
  2. Melakukan takbiratul ihram dengan memilih salah satu dari tiga variasi gerakan tangan yang telah disebutkan sebelumnya.
  3. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada atau di atas pusar sebagai posisi bersedekap yang tenang.
  4. Membaca doa istiftah atau doa pembuka, kemudian dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Fatihah yang merupakan rukun wajib.
  5. Membaca ayat atau surah pendek dari Al-Qur'an pada dua rakaat pertama dengan tartil.
  6. Melakukan rukuk dengan posisi punggung rata sejajar, memegang lutut dengan jari-jari merenggang, dan membaca doa rukuk.
  7. Bangkit untuk iktidal, menegakkan kembali tulang punggung secara sempurna sembari membaca doa pujian kepada Allah.
  8. Sujud dengan meletakkan tujuh anggota badan di lantai, termasuk dahi dan hidung, serta membaca doa sujud secara khusyuk.
  9. Duduk di antara dua sujud dengan posisi duduk iftirash dan membaca doa ampunan serta rahmat.
  10. Melakukan sujud kedua dengan tata cara dan bacaan yang sama persis seperti pada sujud pertama.
  11. Bangkit berdiri untuk menyelesaikan rakaat berikutnya sesuai dengan jumlah rakaat solat yang sedang didirikan.
  12. Duduk tasyahud akhir pada rakaat terakhir, membaca selawat, doa perlindungan, dan diakhiri dengan melakukan salam ke kanan lalu ke kiri.

Kesalahan umum yang saya lihat adalah jemaah sering kali bergerak mendahului imam atau berpindah posisi sebelum badannya tenang. Ingatlah bahwa ketenangan dalam setiap posisi merupakan bagian dari rukun yang menentukan sah atau tidaknya ibadah Anda.

Aturan Pelaksanaan Berbagai Jenis Solat dalam Tuntunan Islam

Selain solat fardu lima waktu, cara solat sesuai sunah rosul juga mengatur ragam solat sunat dan solat khusus lainnya. Setiap jenis ibadah memiliki karakteristik jumlah rakaat serta waktu pelaksanaan yang spesifik.

Sebagai contoh, hukum taubat adalah wajib bagi setiap hamba yang melampaui batas atau melakukan dosa. Untuk membersihkan diri, disunahkan melaksanakan ibadah khusus yang tata caranya tetap mengacu pada gerakan dasar nabi.

Solat taubat dikerjakan sebanyak 2 hingga 4 raka'at, dengan ketentuan melakukan salam di setiap kali menyelesaikan 2 raka'at. Ibadah ini menjadi sarana penghapus noda spiritual yang sangat dianjurkan kapan saja.

Di sisi lain, terdapat pula ibadah tahunan yang memiliki tingkat penekanan sangat tinggi bagi umat Islam. Solat Sunat Aidilfitri dikategorikan sebagai Sunnah Muakkadah atau sangat digalakkan dan merupakan salah satu sunnah yang paling diutamakan di antara solat sunnah lainnya.

Waktu pelaksanaan Solat Sunat Aidilfitri adalah pada tanggal 1 Syawal, dimulai sejak matahari terbit sekitar 30 minit selepas waktu Syuruq (sekitar jam 7:30 pagi) hingga sebelum masuknya waktu Solat Zohor. Pemahaman waktu ini penting agar ibadah tidak luput.

Untuk memberikan gambaran terstruktur yang lebih jelas mengenai berbagai jenis solat dan batasannya, mari kita perhatikan data ringkas berikut.

Panduan Aturan Pelaksanaan Berbagai Jenis Solat Berdasarkan Riwayat Sahih
Jenis Solat atau Gerakan Aturan Pelaksanaan dan Jumlah Rakaat Referensi Waktu Pelaksanaan
Pembukaan Solat Wajib diawali dengan takbiratul ihram setelah berwuduk Kunci utama keabsahan ibadah
Solat Taubat Dikerjakan 2 hingga 4 raka'at dengan salam di setiap 2 raka'at Kapan saja saat ingin bertobat
Solat Sunat Aidilfitri Dikategorikan sebagai Sunnah Muakkadah (sangat digalakkan) 1 Syawal mulai 30 minit selepas Syuruq hingga sebelum Zohor
Solat Malam Nabi Variasi jumlah raka'at berkisar antara 11 hingga 13 raka'at Malam hari di dalam maupun di luar Ramadan

Variasi Sejarah Mengenai Jumlah Rakaat Solat Malam

Ketika membahas solat malam atau tarawih, sejarah mencatat adanya ruang fleksibilitas yang sangat luas di kalangan para sahabat dan tabi'in. Hal ini menjadi bukti keluwesan syariat dalam memfasilitasi tingkat kemampuan umat yang berbeda-beda.

Riwayat hadis mencatat variasi jumlah raka'at solat malam Nabi Muhammad SAW, di antaranya tidak pernah menambah lebih dari 11 raka'at baik di dalam maupun di luar Ramadan berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Namun, terdapat pula riwayat lain yang menyebutkan jumlah 13 raka'at seperti tertuang dalam riwayat Abu Daud dan Bukhari.

Perkembangan dinamis kemudian terjadi pada generasi berikutnya demi mengakomodasi semangat ibadah masyarakat luas. Catatan sejarah dari zaman Tabi'in menunjukkan variasi jumlah raka'at solat malam masyarakat yang sangat beragam.

Sebagai contoh nyata, Atha' bin Abi Rabah yang wafat pada tahun 114 Hijriah menemui orang-orang pada masanya melaksanakan solat sebanyak 23 raka'at termasuk witir. Angka ini menjadi standar yang banyak diikuti di berbagai belahan dunia Islam.

Tidak berhenti di situ, Dawud bin Qais juga menemui masyarakat Madinah di masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman melaksanakan solat malam sebanyak 36 raka'at dengan witir 3 raka'at. Angka yang besar ini sengaja dilakukan untuk mengejar keutamaan ibadah di kota suci.

Melihat fakta sejarah dari zaman tabi'in tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa esensi dari cara solat sesuai sunah rosul adalah menjaga kualitas gerakan dan keikhlasan batin. Perbedaan kuantitas rakaat dalam ranah solat sunat malam bukanlah ruang untuk saling menyalahkan, melainkan pilihan fasilitas ibadah yang legal.

Pendekatan terbaik dalam mendirikan ibadah harian adalah dengan meniru gerakan Nabi Muhammad SAW sedetail mungkin sembari terus memperdalam pemahaman literatur hadis. Fokus pada penyempurnaan wudu dan ketenangan thuma'ninah dalam setiap perpindahan rukun akan langsung berdampak pada kekhusyukan jiwa Anda saat berhadapan dengan Sang Pencipta.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang