Risiko Luka Jadi Keloid Sampai 15 Persen, Begini Cara Tepat Menghilangkannya

28 Juni 2026, 20:46 WIB

Menemukan bekas luka menonjol yang tumbuh melebihi batas luka aslinya setelah menjalani prosedur medis sering kali memicu rasa tidak percaya diri. Artikel ini membahas cara menghilangkan keloid bekas jahitan secara mendalam, mulai dari terapi invasif ringan hingga pemanfaatan bahan alami yang aman bagi kulit Anda. Saya sering melihat banyak orang merasa frustrasi karena bekas luka operasi mereka justru berubah menjadi jaringan parut yang tebal, keras, dan terkadang terasa gatal atau nyeri.

Kondisi ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan respons penyembuhan luka yang terlalu agresif dari tubuh kita sendiri. Berdasarkan data ilmiah yang dihimpun dari Rumah Sakit Fathma Medika, penelitian menunjukkan bahwa sampai 15% luka akan menyebabkan keloid pada kulit. Hal ini membuktikan bahwa kemunculan jaringan parut ini bukanlah kasus yang langka, melainkan risiko nyata yang mengintai siapa saja setelah kulitnya mengalami trauma atau jahitan.

Pertumbuhan jaringan parut ini tidak terjadi pada semua orang secara acak, karena ada faktor risiko spesifik yang sangat memengaruhi kemunculannya. Berdasarkan catatan medis dari Alodokter dan Hansaplast, orang yang berusia antara 10–30 tahun dianggap lebih rentan mengalami keloid di tubuhnya.

Meskipun rentang usia tersebut sangat dominan, Rumah Sakit Fathma Medika juga membatasi rentang usia yang biasanya diderita pasien secara lebih spesifik, yaitu pada usia 10–20 tahun. Pada masa-masa produktif inilah produksi kolagen dalam tubuh sedang sangat aktif, sehingga memicu respons berlebih saat memperbaiki jaringan kulit yang rusak. Estimasi prevalensi populer yang dilaporkan oleh HonestDocs memperkirakan sekitar 10 persen orang mengalami luka keloid di dunia ini. Menariknya, gangguan pertumbuhan jaringan kulit ini memiliki kemungkinan yang sama besar antara pria dan wanita, tanpa memandang jenis kelamin.

Faktor genetik memegang kendali penuh dalam pembentukan jaringan parut ini. Berdasarkan satu studi yang dirilis HonestDocs, gen bernama AHNAK memainkan peran penting dalam menentukan pertumbuhan keloid, sehingga orang yang memiliki gen AHNAK lebih mungkin mengalami luka keloid.

Pilihan Perawatan Medis Berdasarkan American Academy of Dermatology

Jika Anda mencari solusi yang teruji secara klinis, metode medis merupakan jalur utama yang wajib dipertimbangkan. Lembaga internasional terpercaya, American Academy of Dermatology, telah memaparkan jenis-jenis pengobatan untuk mengatasi keloid, seperti suntikan kortikosteroid, operasi keloid, perawatan laser, dan cryotherapy.

Suntikan Kortikosteroid secara Rutin

Suntikan kortikosteroid langsung ke area jaringan parut merupakan salah satu metode yang paling sering direkomendasikan dokter karena efektivitasnya yang tinggi dalam mengempeskan benjolan. Berdasarkan petunjuk klinis Alodokter, suntikan diberikan setidaknya 1–2 kali setiap bulan selama beberapa bulan berturut-turut.

Secara lebih spesifik, Halodoc menyebutkan bahwa prosedur penyuntikan ini idealnya dilakukan sekali setiap 3 sampai 4 minggu. Prosedur ini bekerja dengan cara menekan peradangan dan mengurangi produksi kolagen yang berlebihan pada area bekas jahitan Anda.

Terapi Non-Invasif Awal dan Pembalut Kompresi

Bagi Anda yang menghindari jarum suntik atau tindakan bedah, perawatan non-invasif awal seperti silicone pads atau pemberian tekanan dapat menjadi alternatif. Namun, Anda harus ekstra sabar karena pengobatan non-invasif awal ini memerlukan waktu setidaknya 3 bulan untuk memberi efek yang terlihat jelas.

Selain itu, penggunaan pembalut kompresi juga sering dikombinasikan setelah tindakan medis tertentu untuk mencegah jaringan parut tumbuh kembali. Menurut Alodokter, pembalut kompresi umumnya digunakan selama 4–6 bulan dengan durasi pemakaian yang sangat ketat, yaitu 12–24 jam sehari.

Kenali Penyebab dan Cara Menghilangkan Keloid | RSUD Dr. Iskak

Efektivitas Penggunaan Gel Silikon Secara Mandiri

Penggunaan gel silikon topikal menjadi pilihan populer karena praktis dan bisa diaplikasikan secara mandiri di rumah setelah jahitan benar-benar kering. Namun, metode ini menuntut konsistensi yang sangat tinggi dari penggunanya agar hasil yang didapatkan bisa optimal. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Rumah Sakit Fathma Medika, sebanyak 34% dari bekas luka yang timbul menjadi rata setelah pasien menggunakan gel silikon setiap hari selama 6 bulan. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun tidak semua orang mendapatkan hasil instan, sepertiga pasien berhasil memperbaiki tekstur kulit mereka tanpa tindakan invasif.

Kekurangan utama dari metode gel silikon ini adalah durasi perawatannya yang memakan waktu lama dan efektivitasnya yang bervariasi pada setiap individu. Jika Anda mengharapkan keloid hilang dalam hitungan minggu hanya dengan mengoleskan gel, Anda pasti akan kecewa dengan realitasnya. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai estimasi waktu dan durasi dari berbagai jenis perawatan yang telah dibahas, berikut adalah rangkuman data komparasi berdasarkan sumber referensi medis terpercaya.

Durasi dan Frekuensi Perawatan Keloid Berdasarkan Metode Medis
Metode Perawatan Frekuensi Pengaplikasian Estimasi Durasi Minimal
Suntikan Kortikosteroid 1 kali setiap 3–4 minggu Beberapa bulan
Gel Silikon Topikal Setiap hari 6 bulan
Pembalut Kompresi 12–24 jam sehari 4–6 bulan
Terapi Non-Invasif Awal Setiap hari 3 bulan

Opsi Alternatif Menggunakan Bahan Alami di Rumah

Selain penanganan medis, beberapa orang memilih jalur alternatif dengan memanfaatkan bahan dapur yang dinilai memiliki sifat antiinflamasi. Berdasarkan informasi dari Halodoc, cuka sari apel dan bawang putih yang dihaluskan sering digunakan sebagai ramuan rumahan untuk merawat bekas luka.

Prosedur pengolesan cuka sari apel dan bawang putih yang dihaluskan pada keloid dilakukan selama 30 menit sebelum dibilas bersih dengan air. Sifat asam pada cuka dan kandungan zat aktif pada bawang putih dipercaya mampu membantu menyamarkan ketebalan jaringan parut.

Namun, menurut saya, Anda harus sangat berhati-hati karena bahan alami seperti cuka sari apel dan bawang putih berisiko tinggi menyebabkan iritasi parah atau luka bakar kimia pada kulit yang sensitif. Jangan pernah memaksakan penggunaan bahan ini jika kulit Anda mulai menunjukkan tanda-tanda kemerahan atau rasa perih yang tak tertahankan.

Pertimbangan Utama Sebelum Memilih Metode Penanganan

Keberhasilan menghilangkan bekas luka menonjol ini sangat bergantung pada karakteristik keloid itu sendiri, mulai dari ukuran, lokasi, hingga usia jaringan parut tersebut. Konsultasi langsung dengan dokter spesialis kulit atau dokter bedah plastik tetap menjadi langkah paling aman sebelum Anda memulai terapi apa pun.

Satu hal yang harus dipahami secara realistis adalah bahwa keloid memiliki tingkat kekambuhan yang cukup tinggi meskipun telah dioperasi. Oleh karena itu, kombinasi beberapa metode perawatan, seperti operasi yang langsung diikuti dengan suntikan kortikosteroid atau pemakaian pembalut kompresi, sering kali menjadi strategi terbaik yang diterapkan oleh para ahli dermatologi medis saat ini.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang