Anak Suka Mencuri di Usia 5 Sampai 8 Tahun Menjadi Sinyal Gangguan Psikologis

2 Juli 2026, 06:57 WIB

Menghadapi perilaku anak suka mencuri tentu menjadi tantangan berat bagi setiap orang tua yang mengutamakan nilai kejujuran. Banyak orang tua langsung merasa gagal dan panik ketika mendapati buah hati mereka mengambil barang yang bukan haknya. Padahal, tindakan ini tidak selalu berarti anak Anda memiliki bakat kriminal atau menderita gangguan mental emosional yang parah.

Memahami akar masalah psikologis secara objektif menjadi langkah pertama yang paling krusial untuk menentukan cara penanganan yang tepat. Perilaku berbohong dan suka mencuri merupakan hal yang umum dan normal terjadi pada anak, tepatnya saat rentang usia 5–8 tahun jika hanya dilakukan sesekali. Pada fase pertumbuhan ini, anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan intensif dan belum sepenuhnya memahami konsep kepemilikan, hak, atau konsekuensi dari tindakan tersebut.

Pandangan ini diperkuat oleh pernyataan Meri Wallace, seorang ahli terapi keluarga dan anak sekaligus direktur Heights Center for Adult and Child Development di Brooklyn. Meri Wallace menyatakan bahwa faktanya, mencuri adalah hal yang normal bagi anak-anak seusia ini.

Kondisi ini tentu berbeda dengan gangguan dorongan impulsif yang dikenal secara medis sebagai kleptomania. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai fase perkembangan anak terkait kepemilikan barang, berikut adalah klasifikasi perilaku berdasarkan kelompok usia anak.

Karakteristik Pemahaman Anak Terhadap Hak Kepemilikan Barang
Rentang Usia Anak Karakteristik dan Pemahaman Kepemilikan
Di bawah 3 tahun Mengambil barang karena tidak memahami mana miliknya atau bukan, lalu menjadi posesif atas barang tersebut.
5–6 tahun Percaya bahwa orang tua dapat membaca pikiran mereka dan belum paham konsekuensi penuh.
5–8 tahun Perilaku mencuri sesekali dianggap normal karena konsep hak milik belum matang sempurna.
6–7 tahun ke atas Mulai memahami konsep hukum, namun rentan terpengaruh tekanan dari lingkungan sosial.

Konsultasikan dengan profesional medis sebelum mengambil tindakan medis atau memberikan vonis tertentu pada kesehatan mental anak Anda.

Ragam Penyebab Suka Mencuri pada Fase Perkembangan

Untuk menerapkan cara mengatasi anak yang suka mengambil barang orang lain, orang tua harus mengidentifikasi pemicu utamanya terlebih dahulu. Alasan di balik tindakan ini sangat bervariasi tergantung pada kematangan emosional dan lingkungan sosial anak.

Belum Paham Konsep Hak Milik Pribadi

Bagi anak-anak di bawah usia 3 tahun, dunia berpusat pada diri mereka sendiri. Ketika melihat mainan yang menarik, mereka langsung mengambilnya semata-mata karena menginginkannya, tanpa tahu bahwa benda tersebut milik orang lain.

Hal ini menjawab pertanyaan emosional orang tua mengenai "kenapa anak kecil suka mengambil barang orang lain?" yang sering memicu kecemasan. Kesadaran akan batasan kepemilikan baru akan berkembang seiring bertambahnya usia dan bimbingan yang konsisten.

Tekanan dan Pengaruh Teman Sebaya

Memasuki usia sekolah, dinamika sosial anak berubah secara drastis karena mereka mulai menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Tekanan dari teman sebaya menjadi alasan anak mencuri yang paling umum sejak usia anak 6 atau 7 tahun.

Anak-anak pada usia ini kerap mencuri agar bisa dianggap keren, berani, atau agar bisa diterima dalam kelompok pertemanan tertentu. Keinginan kuat untuk diakui oleh lingkungan sosial mengalahkan rasa takut mereka akan hukuman dari orang tua.

Dorongan Impulsif dan Kontrol Diri yang Lemah

Sebagian anak mengambil barang orang lain bukan karena faktor lingkungan, melainkan karena ketidakmampuan menahan dorongan dari dalam diri. Ciri ciri orang klepto pada skala ringan biasanya ditandai dengan rasa tegang sebelum mengambil barang dan perasaan lega setelah mendapatkannya.

Gil Noam, seorang psikolog perkembangan anak sekaligus profesor di Sekolah Pascasarjana Pendidikan Harvard, menekankan pentingnya melihat aspek psikologis perkembangan ini secara mendalam. Tanpa penanganan dini, kontrol diri yang lemah ini berisiko menetap hingga masa dewasa.

Langkah Nyata Mengatasi Kebiasaan Mengambil Barang Orang Lain

Merespons tindakan mencuri dengan amarah meledak-ledak atau kekerasan fisik justru dapat memperburuk keadaan dan menjauhkan anak dari orang tua. Diperlukan pendekatan yang tenang, tegas, dan berbasis empati untuk memutus rantai perilaku buruk ini sejak dini.

Berdasarkan panduan medis yang ditinjau oleh dr. Damar Upahita selaku General Practitioner, serta tulisan dari Putri Ica Widia Sari, ada beberapa langkah terstruktur yang bisa diterapkan oleh orang tua.

  • Hindari Melabeli Anak: Jangan pernah menyebut anak sebagai "pencuri" karena label negatif ini akan merusak harga diri mereka dan membuat mereka mempercayai label tersebut.
  • Terapkan Konsekuensi Logis: Mintalah anak untuk mengembalikan barang yang diambil secara langsung dan meminta maaf kepada pemiliknya, atau menggantinya dengan uang saku mereka sendiri.
  • Ajarkan Empati secara Konkret: Ajak anak berdiskusi mengenai bagaimana perasaan orang lain yang kehilangan barang tersebut agar mereka memahami dampak buruk perbuatannya.
  • Beri Pujian pada Kejujuran: Ketika anak mengakui kesalahannya tanpa berbohong, berikan apresiasi atas keberaniannya berkata jujur sebelum membahas sanksinya.
Tiga Pemicu Anak Suka Mencuri Yang Harus Ayah Bunda Ketahui | akademi parenting

Kapan Harus Membawa Anak Berkonsultasi ke Tenaga Profesional?

Jika tindakan mengambil barang ini terus berulang meski orang tua sudah menerapkan konsekuensi tegas, situasi ini membutuhkan perhatian khusus. Kebiasaan yang terus berlanjut bisa menjadi indikasi adanya masalah emosional yang lebih dalam, seperti stres, depresi, atau kecanduan. Menurut Trudi Griffin, LPC, MS, seorang konselor profesional berlisensi di Wisconsin dengan spesialisasi kecanduan dan kesehatan mental lulusan Marquette University tahun 2011, intervensi profesional sangat dibutuhkan jika perilaku mencuri sudah menjadi mekanisme koping atas masalah emosional.

Terapi perilaku kognitif sering kali menjadi metode utama yang direkomendasikan oleh psikolog untuk membantu anak mengendalikan dorongan impulsif mereka. Melalui penanganan dari ahlinya, pertanyaan mengenai apakah kleptomania bisa disembuhkan dapat dijawab dengan optimistis melalui proses terapi yang terencana dan konsisten. Pembaruan artikel mengenai panduan penanganan psikologi anak ini terakhir dilakukan pada tanggal 31/01/2025 dengan merujuk pada konsensus klinis terkini. Menghilangkan sifat mencuri pada anak membutuhkan kesabaran luar biasa, kerja sama keluarga yang solid, dan kepekaan untuk melihat masalah dari sudut pandang psikologis anak itu sendiri.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang