Kapan Umur Berapa Anak Bisa Diajari Toilet Training Ini 5 Tanda Si Kecil Siap Lepas Popok

3 Juli 2026, 23:09 WIB

Mengetahui cara melatih anak lepas popok secara mandiri sering kali menjadi tantangan besar sekaligus momen krusial bagi setiap orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang buah hati. Transisi dari penggunaan popok sekali pakai menuju pakaian dalam biasa bukan sekadar urusan kebersihan belahan jiwa, melainkan sebuah pencapaian perkembangan yang signifikan. Banyak orang tua merasa bingung mengenai kapan waktu terbaik untuk memulai proses ini dan bagaimana menerapkan metode yang efektif tanpa memicu stres pada anak.

Konsultasikan dengan profesional medis sebelum mengambil tindakan atau memulai program pelatihan ini pada buah hati Anda.

Menurut penjelasan dr. Dyah Novita Anggraini, masa transisi dari popok ke pakaian dalam merupakan milestone penting yang membantu anak mandiri serta memengaruhi perkembangan fisik dan psikologis mereka. Proses ini, yang dikenal secara luas sebagai toilet training anak, adalah latihan terstruktur untuk membiasakan anak buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) secara mandiri di toilet.

Melalui proses yang bertahap, anak tidak hanya belajar mengontrol fungsi tubuhnya, tetapi juga membangun rasa percaya diri yang kuat sejak usia dini.

Pelatihan toilet melatih kemandirian serta mendukung aspek psikologis dan fisik anak agar siap menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas.

Keberhasilan dalam fase ini membutuhkan kesiapan dari dua belah pihak, yaitu kesiapan anak untuk belajar dan kesiapan orang tua untuk memberikan pendampingan yang konsisten.

Umur Berapa Anak Bisa Diajari Toilet Training?

Pertanyaan mengenai "umur berapa anak bisa diajari toilet training" sering kali menjadi topik diskusi yang hangat di kalangan para ibu. Berdasarkan data yang dihimpun dari Alodokter, anak umumnya dinilai siap menjalani proses pelatihan ini ketika memasuki rentang usia antara 1,5 hingga 2 tahun. Namun, rentang usia ini bisa bervariasi karena setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda.

Informasi dari Haibunda menyebutkan bahwa jendela kesiapan anak bisa berada di antara usia 18 bulan hingga 3 tahun.

Sementara itu, menurut publikasi Ibu & Balita, sebagian besar orang tua baru mulai melihat tanda kesiapan yang matang pada anak mereka saat menginjak usia antara 2 hingga 3 tahun. National Health Service (NHS) UK menyatakan bahwa anak-anak baru dapat mengontrol kandung kemih dan usus mereka ketika mereka sudah siap secara fisik dan memiliki keinginan untuk bersih atau kering. Oleh karena itu, para ahli dari NHS UK mengimbau agar orang tua tidak memaksakan anak untuk melepas popok jika tanda kesiapan tersebut belum muncul.

Mengenal Tanda Kesiapan Fisik dan Emosional Anak

Sebelum menerapkan tips mengajari anak lepas pampers, orang tua harus jeli dalam mengamati sinyal-sinyal yang ditunjukkan oleh tubuh dan perilaku anak.

Kesiapan ini secara umum terbagi menjadi dua kategori utama, yakni kesiapan yang bersifat fisik serta kesiapan yang bersifat emosional dan perilaku.

Indikator Kesiapan Fisik Si Kecil

Salah satu tanda anak siap potty training dari aspek fisik adalah kemampuan otot kandung kemih yang mulai menguat.

Kondisi ini ditandai dengan popok anak yang tetap kering selama minimal 2 jam pemakaian berturut-turut atau tetap kering saat anak bangun tidur di pagi hari. Selain itu, anak yang siap dilatih biasanya sudah memiliki waktu buang air besar yang teratur setiap harinya.

Kemampuan motorik kasar seperti lancar berjalan, mampu duduk dengan stabil, serta mulai bisa memakai dan melepas pakaian sendiri juga menjadi modal fisik yang penting.

Indikator Kesiapan Emosional dan Perilaku

Dari sisi psikologis, anak akan menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap aktivitas di dalam kamar mandi, termasuk suka melihat orang lain saat pergi ke toilet. Anak juga mulai menunjukkan rasa risih atau tidak nyaman saat popok yang dipakainya sudah basah atau kotor akibat kotoran. Secara verbal maupun nonverbal, anak yang siap akan memberi tahu orang tua lewat kata-kata sederhana atau gestur tubuh tertentu saat mereka merasa ingin buang air.

Haibunda menyebutkan bahwa anak yang siap dilatih juga harus memiliki rentang perhatian untuk mampu duduk tenang dalam satu posisi selama sekitar 2 hingga 5 menit.

Kemampuan untuk mengikuti instruksi sederhana dari orang tua menjadi tanda mutlak bahwa komunikasi dua arah sudah berjalan dengan baik.

Karakteristik Kesiapan Anak Berdasarkan Urutan Kelahiran dan Jender
Faktor Pembeda Kecenderungan Kecepatan Belajar Tingkat Ketertarikan Awal
Anak Perempuan Lebih Cepat Tinggi
Anak Laki-laki Lebih Lambat Rendah
Anak Pertama Lebih Lambat
Anak Kedua dan Seterusnya Lebih Cepat

Berdasarkan data sosiologis yang dirangkum oleh Ibu & Balita, anak perempuan cenderung memiliki ketertarikan lebih cepat dan lebih mudah paham dalam mempelajari proses ini dibandingkan anak laki-laki.

Fakta unik lainnya menunjukkan bahwa anak pertama secara umum memiliki kecenderungan lebih lambat belajar dibandingkan dengan anak kedua dan seterusnya yang bisa meniru kakak mereka.

Langkah Praktis Cara Melatih Anak Pipis di Toilet

Dokter Dyah Novita Anggraini membagi prinsip dasar pelatihan toilet menjadi lima tahap utama, yaitu tahap pengenalan kesiapan, persiapan, pengenalan alat, pembentukan rutinitas, serta pengajaran dan dukungan.

Langkah pertama dimulai dengan mengenalkan konsep toilet kepada anak melalui buku cerita, video edukasi anak, atau dengan mengajaknya melihat rutinitas anggota keluarga lain. Selanjutnya, belikan alat bantu yang nyaman seperti pispot khusus anak (potty chair) atau dudukan tambahan di atas kloset standar yang bermotif menarik.

Buatlah jadwal rutin untuk melatih anak duduk di atas pispot tersebut, misalnya setiap bangun tidur, 30 menit setelah makan, atau sebelum tidur malam. Posisikan anak dengan nyaman, lalu ajarkan mereka cara mengejan yang benar serta berikan kata-kata penyemangat yang positif selama proses tersebut.

Ketika anak berhasil buang air di toilet, berikan pujian yang tulus atau hadiah kecil berupa stiker untuk menghargai usaha keras yang telah mereka lakukan.

Mengatasi Tantangan Toilet Training pada Malam Hari

Melatih anak untuk tidak mengompol di malam hari sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan pelatihan di siang hari.

Lembaga kesehatan Better Health menyatakan bahwa anak biasanya menguasai cara buang air di siang hari terlebih dahulu sebelum mereka bisa mengontrolnya di malam hari.

Salah satu penyebab utamanya adalah adanya tantangan rasa takut gelap yang dialami anak saat harus berjalan menuju ke toilet di malam hari.

  • Batasi konsumsi cairan atau air minum dalam jumlah berlebihan saat mendekati waktu tidur malam anak.
  • Pastikan anak sudah buang air kecil terlebih dahulu di kamar mandi tepat sebelum mereka naik ke tempat tidur.
  • Pasang lampu tidur yang redup di kamar anak atau di sepanjang koridor menuju kamar mandi untuk mengurangi rasa takut mereka.
  • Gunakan alas pelindung kasur yang kedap air guna mengantisipasi terjadinya kebocoran urin saat anak tidak sengaja mengompol.

Respons yang tenang dari orang tua saat terjadi kegagalan atau dinamika "kecelakaan" mengompol sangat memengaruhi kondisi psikologis anak agar tidak merasa tertekan.

Proses melepaskan ketergantungan pada popok memerlukan konsistensi, kesabaran yang tinggi, serta pemahaman mendalam terhadap ritme biologis masing-masing anak. Hindari memberikan hukuman atau memarahi anak saat mereka belum berhasil, karena hal tersebut justru dapat memperpanjang proses pelatihan ini. Apabila anak sudah menunjukkan penolakan yang ekstrem atau belum menunjukkan kemajuan setelah berbulan-bulan dicoba, tidak ada salahnya untuk menunda proses ini selama beberapa minggu sebelum memulainya kembali.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang