Nilai tukar dolar AS di Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Negara Indonesia (BNI) mengalami pelemahan pada Rabu, 29 Juli 2026, seiring tekanan yang terus berlanjut di pasar valuta asing domestik. Pelemahan ini tercatat sejak Selasa, 28 Juli 2026, di mana rupiah melemah 65 poin menjadi Rp18.074 per dolar AS di pasar spot.
Kurs Dolar di BCA
Bank BCA menetapkan kurs jual dolar Amerika Serikat pada level Rp18.095 dan kurs beli di kisaran Rp18.045 pada hari ini. Angka tersebut menunjukkan kenaikan jika dibandingkan dengan posisi kurs pada Senin, 27 Juli 2026, yang ada di kisaran Rp18.030 untuk jual dan Rp17.980 untuk beli.
Kurs Dolar di Bank Mandiri
Bank Mandiri mencatat kurs jual dolar AS sebesar Rp18.090 dan kurs beli Rp18.040 pada 29 Juli 2026. Level ini sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi kurs yang dilaporkan pada Senin, yaitu di Rp18.035 untuk jual dan Rp17.985 untuk beli.
Kurs Dolar di BRI dan BNI
Bank BRI menetapkan kurs jual dolar AS di angka Rp18.085 dan beli Rp18.035. Sementara Bank BNI mematok kurs jual di Rp18.080 dan beli Rp18.030. Kedua bank ini juga menunjukkan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi sejak akhir Juli 2026.
Konteks Pelemahan Rupiah dan Dampaknya
Pelemahan rupiah yang terjadi hingga 29 Juli 2026 dipicu oleh sentimen global dan faktor domestik. Menurut data yang dilaporkan pada Selasa, 28 Juli 2026 pukul 09:05 WIB, rupiah melemah 65 poin atau 0,36% ke level Rp18.074 per dolar AS. Sebelumnya, pada 27 Juli 2026, rupiah juga melemah 6 poin atau 0,03% di level Rp17.969 per dolar AS.
Depresiasi rupiah selama sebulan terakhir mencapai 0,66% dan dalam 12 bulan terakhir berada di kisaran 9,51%. Kondisi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi pelaku pasar dan sektor perdagangan yang bergantung pada nilai tukar mata uang asing.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
- Ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi arus modal asing.
- Pengunduran diri gubernur Bank Indonesia terbaru yang menimbulkan spekulasi pasar.
- Tekanan inflasi dan kebijakan moneter yang menyesuaikan dengan kondisi pasar internasional.
Dampak pada Aktivitas Perbankan dan Nasabah
Pelemahan kurs dolar di bank-bank besar seperti BCA, Mandiri, BRI, dan BNI mempengaruhi aktivitas jual beli valuta asing nasabah, terutama pelaku bisnis dan investor. Kenaikan kurs jual dolar AS berarti biaya impor dan transaksi valas menjadi lebih mahal, yang dapat berdampak pada harga barang impor dan inflasi.
Menurut analis keuangan di salah satu bank BUMN, "Kondisi pasar saat ini menuntut kehati-hatian dalam melakukan transaksi valas karena fluktuasi nilai tukar yang masih tinggi." Pernyataan ini menggambarkan kewaspadaan dari institusi perbankan terhadap volatilitas pasar.
Update Terkini dan Proyeksi Pasar
Bank Indonesia dan otoritas keuangan terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah dan akan menyesuaikan kebijakan moneter sesuai kebutuhan untuk menjaga stabilitas. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kebijakan baru yang diumumkan terkait intervensi pasar valuta asing.
Nasabah dan pelaku pasar disarankan untuk mengikuti berita resmi dari bank terkait dan otoritas keuangan untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kurs dolar dan langkah kebijakan yang akan diambil.
"Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan."






