Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) resmi menjadi induk organisasi pencak silat di Indonesia sejak didirikan pada 18 Mei 1948 di Surakarta, Jawa Tengah. Hingga 2 Agustus 2026, IPSI terus mengokohkan perannya sebagai pengelola dan pengembang seni bela diri warisan budaya Indonesia tersebut dengan kantor pusat di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia, Jakarta Timur.
Ketua Umum IPSI saat ini yakni Sugiono memimpin organisasi yang memiliki struktur lengkap mulai dari Dewan Pembina, Dewan Pengurus Pusat, hingga cabang di tingkat provinsi, kota, dan kabupaten. IPSI mengelola lebih dari 840 perguruan pencak silat yang tersebar di seluruh Indonesia hingga tahun 1993 dan terus bertambah.
Pencak silat sendiri merupakan seni bela diri yang menggabungkan gerakan seluruh tubuh dalam serangan, bergulat, melempar, serta penggunaan senjata tradisional. UNESCO menetapkan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda sejak 2019, menegaskan pentingnya peran IPSI dalam melestarikan dan mengembangkan pencak silat secara nasional maupun internasional.
Awal Mula dan Pembentukan IPSI
Upaya mempersatukan berbagai perguruan pencak silat di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda pada 1922 dengan berdirinya Perhimpoenan Pentjak Silat Indonesia di Sagalaherang, Jawa Barat. Presiden Soekarno pada masa pendudukan Jepang menjadi pelindung organisasi ini, sebelum akhirnya IPSI didirikan secara resmi pada 18 Mei 1948 sebagai wadah tunggal pencak silat di Indonesia.
Struktur Organisasi dan Fungsi IPSI
IPSI mengatur pengembangan teknik, kompetisi, dan regenerasi atlet pencak silat di Indonesia. Struktur organisasinya meliputi Dewan Pembina, Dewan Pengurus Pusat, Dewan Penasehat, serta cabang di berbagai daerah yang bertugas mengelola perguruan serta kegiatan pencak silat di wilayahnya.
Perkembangan dan Dampak IPSI
Sejak berdiri, IPSI telah mengukir prestasi pencak silat di berbagai ajang nasional dan internasional, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON) dan SEA Games yang memperkenalkan pencak silat sejak 1987. Organisasi ini juga terlibat dalam pembentukan Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat), bersama negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Berbagai aliran pencak silat Indonesia yang terkenal, seperti Cimande dan Cikalong dari Jawa Barat, Merpati Putih dari Jawa Tengah, serta PSHT dan Perisai Diri dari Jawa Timur, berada di bawah payung IPSI, yang mengatur standar dan pertumbuhan seni bela diri ini.
Data dan Statistik Perguruan Pencak Silat
| Provinsi | Jumlah Perguruan |
|---|---|
| Jawa Barat | 250 |
| Jawa Tengah | 190 |
| Jawa Timur | 180 |
| Sumatera Selatan | 50 |
| Lainnya | 170 |
IPSI terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pencak silat dengan pengelolaan yang terintegrasi dari pusat hingga daerah, demi mempertahankan eksistensi seni budaya yang telah mendunia ini.
"IPSI berkomitmen untuk terus membina dan mengembangkan pencak silat sebagai warisan budaya yang membawa nama Indonesia di kancah internasional," ujar Sugiono, Ketua Umum IPSI.






