Amerika Serikat membeli mata uang yen Jepang pada Jumat (31/7) untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir setelah nilainya anjlok ke tingkat terendah dalam empat dekade terakhir terhadap dolar, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Langkah intervensi bilateral tersebut diambil guna membantu menahan pelemahan yen yang kian tertekan akibat dampak perang AS-Iran yang memicu kenaikan harga energi secara global. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa aksi pembelian valuta asing ini direalisasikan guna merespons permintaan langsung dari pemerintah Jepang.
"Yen mereka melemah, dan mereka menginginkan sedikit bantuan, dan kami selalu ada untuk Jepang," kata Trump.
Penguatan dolar AS dinilai merugikan komoditas ekspor AS bagi konsumen internasional, sementara pelemahan yen meningkatkan beban biaya impor minyak dan gas yang memicu inflasi di Jepang. Trump juga menambahkan bahwa AS berpotensi memperoleh keuntungan finansial dari transaksi intervensi valas tersebut serta berjanji terus mendukung kestabilan yen demi perekonomian dunia.
Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menilai bantuan bilateral AS ini krusial untuk menekan volatilitas berlebihan pada nilai tukar yen beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, Menkeu AS Scott Bessent menyatakan komitmennya untuk kembali berpartisipasi dalam intervensi pasar bersama jika diperlukan di masa depan.
"Kami sangat mendukung langkah-langkah pasar dan moneter Jepang yang tegas untuk mengoreksi undervaluation yang signifikan terhadap yen," kata Bessent. Catatan rahasia Menkeu Bessent dalam rapat kabinet di Camp David menunjukkan estimasi nilai intervensi pembelian yen berada di kisaran 5 miliar hingga 10 miliar dolar AS. Sejumlah pengamat dari Bank of America Securities dan Barclays menilai langkah intervensi gabungan ini berisiko hanya menahan pelemahan dalam jangka pendek tanpa mengubah tren penurunan nilai yen secara fundamental.
"Meskipun JPY menguat lebih lanjut dalam jangka pendek, kami tetap percaya bahwa tekanan penurunan jangka panjang masih tetap ada," demikian pernyataan riset Barclays.






