DPR Kecam Nakes Diduga Hina Pasien BPJS yang Meninggal Dunia

5 Agustus 2026, 19:31 WIB

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mengecam tindakan oknum tenaga kesehatan yang diduga menghina seorang pasien BPJS Kesehatan di media sosial, Rabu (5/8/2026). Pasien tersebut dilaporkan meninggal dunia usai menunggu pelayanan kamar rawat inap selama delapan jam, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Sorotan legislator ini muncul setelah unggahan curahan hati pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan kembali tular. Yurizal yang mengeluhkan lambatnya penanganan tempat tidur tanpa menyebut nama rumah sakit pada 22 Juli 2026 itu justru menuai nada celaan dari sejumlah akun media sosial yang diduga milik tenaga medis. Yurizal kemudian dikabarkan wafat pada 31 Juli 2026.

Yahya Zaini menyampaikan duka cita sekaligus menyoroti buruknya manajemen penanganan darurat bagi peserta jaminan kesehatan nasional.

"Pertama, saya menyatakan ikut berdukacita atas meninggalnya pasien tersebut. Kedua, para nakes dan tenaga medis harus memberikan layanan terbaik kepada setiap pasien, termasuk pasien BPJS Kesehatan. Ketiga, lamanya pasien menunggu perawatan menunjukkan buruknya pelayanan rumah sakit tersebut terhadap pasien yang memerlukan pelayanan secara cepat," kata Yahya kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Ia meminta Kementerian Kesehatan segera menjatuhkan sanksi administratif dan tindakan disiplin kepada para nakes yang bersangkutan.

"Keempat, Kemenkes harus memberikan teguran keras kepada tenaga kesehatan dan tenaga medis yang tidak berempati kepada pasien apalagi terhadap pasien BPJS Kesehatan," ujar Yahya.

Politisi Partai Golkar tersebut menambahkan bahwa diskriminasi fasilitas antar-kelompok pasien masih menjadi keluhan umum masyarakat.

"Kelima, masih sering dijumpai di lapangan pasien BPJS Kesehatan selalu dinomorduakan oleh pihak RS. Banyak rumah sakit yang kurang memberikan perhatian terhadap pasien BPJS Kesehatan. Saya banyak mendapatkan pengaduan masyarakat soal tersebut," tambahnya.

Pemeriksaan mendalam dan audit operasional rumah sakit dinilai perlu dilakukan secara terbuka guna mencegah kasus serupa terulang.

"Keenam, Kemenkes harus melakukan investigasi secara terbuka rumah sakit mana yang tidak memberikan pelayan dengan baik tersebut. Sehingga mengakibatkan pasien meninggal karena tidak mendapatkan pelayanan yang baik," kata Yahya.

Peningkatan kualitas komunikasi publik serta empati dinilai menjadi pondasi mendasar yang harus diperbaiki pihak kementerian kepada seluruh jajaran tenaga medis.

"Ketujuh, Kemenkes harus memberikan edukasi kepada para tenaga kesehatan dan tenaga medis untuk memberikan pelayanan yg terbaik kepada setiap pasien serta berempati terhadap penderitaan yang dialami oleh setiap pasien di rumah sakit," sambungnya.

Yahya menekankan perlunya menjaga marwah profesi medis agar tidak tergerus oleh perilaku tak beretika di ruang digital.

"Edukasi terkait etika menjadi sangat penting agar tenaga kesehatan dan tenaga medis tidak menyampaikan perkataan yang menyakiti pasien dan masyarakat pada umumnya. Profesi tenaga kesehatan dan tenaga medis merupakan profesi yang terhormat. Jadi mereka juga harus punya rasa hormat terhadap setiap pasien di rumah sakit," ungkap dia.

Sebelum meninggal dunia, Yurizal sempat menuliskan keluhannya di platform Threads mengenai kondisi antrean rumah sakit.

"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs," tulis Yurizal.

Komentar tak berempati yang membanjiri unggahan tersebut kini terus mendapat tanggapan publik seiring beredarnya kabar duka yang diunggah pihak keluarga pasien.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang