PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat penurunan laba bersih yang signifikan pada semester I-2026 meski pendapatan perusahaan tumbuh pesat. Hal ini terjadi seiring koreksi terkait rencana akuisisi pada entitas usaha patungan perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dilansir dari Detik Finance, pendapatan TPIA meningkat 82,8% secara tahunan menjadi US$ 5,3 miliar atau sekitar Rp 95,55 triliun pada semester I-2026 dari US$ 2,9 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, laba bersih setelah pajak yang diperoleh TPIA turun drastis sebesar 77,2%, menjadi US$ 371,2 juta atau sekitar Rp 6,69 triliun dibandingkan US$ 1,68 miliar pada semester I-2025.
Chief Financial Officer TPIA, Andre Khor, menyebutkan bahwa operasional perusahaan masih menunjukkan kinerja solid dengan EBITDA operasional mencapai US$ 802,6 juta hingga semester I-2026.
"Kami mencapai record operating EBITDA US$ 803 juta dengan net profit setelah tax mencapai nilai headline US$ 371 juta, menunjukkan kekuatan performa operasi kami dan kekuatan keuntungan," ujar Andre Khor dalam paparan publik virtual pada Selasa (4/8/2026).
Koreksi laba bersih ini terkait dengan rencana akuisisi 20% kepemilikan Aster Power Pte Ltd, entitas usaha Aster Chemicals and Energy, yang merupakan perusahaan patungan antara TPIA dan Glencore, oleh Sembcorp Utilities Pte Ltd.
Dari sisi neraca, TPIA mencatat pertumbuhan total aset sebesar 12%, menjadi US$ 13,8 miliar pada semester I-2026. Posisi liabilitas tercatat sebesar US$ 8,80 miliar dengan ekuitas US$ 4,96 miliar.
Andre Khor menjelaskan, "Paruh pertama tahun 2025 mencakup keuntungan satu kali yang signifikan terkait dengan akuisisi Aster Chemicals and Energy. Dan jika mengesampingkan pos non-berulang ini, kinerja operasional kami pada paruh pertama tahun 2026 jelas telah meningkat secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya."






