Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi fenomena pencampuran kolom air danau (lake mixing) sebagai penyebab kematian massal ikan di Danau Batur, Bali, pada akhir Juli 2026, seperti dilansir dari Detik iNET pada Senin (3/8/2026).
Proses alami ini membuat massa air dari dasar danau terangkat ke permukaan. Tim peneliti mendapati kadar oksigen terlarut di permukaan danau merosot hingga mendekati 0 mg/L saat kejadian berlangsung, disertai bau menyengat gas hidrogen sulfida (H₂S).
Peneliti biogeokimia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Sulung Nomosatryo menerangkan bahwa dekomposisi bahan organik dalam jangka panjang menjadikan lapisan dasar danau secara alami rendah oksigen dan menimbun senyawa sulfida. Saat pencampuran massa air terjadi, sulfida ikut terangkat ke permukaan dan dapat berubah menjadi hidrogen sulfida yang beracun bagi ikan.
"Keberadaan bau H₂S menunjukkan bahwa air dari lapisan bawah kemungkinan telah terangkat ke permukaan. Namun, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa sulfida merupakan penyebab tunggal kematian ikan. Diperlukan analisis laboratorium dan pengkajian terhadap seluruh parameter kualitas air agar penyebab kejadian ini dapat dipahami secara utuh," ujar Sulung Nomosatryo, Peneliti biogeokimia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN.
Karakteristik Danau Batur sebagai danau vulkanik dekat Gunung Batur juga membuat kadar sulfur di dalamnya relatif tinggi. Peneliti hidrodinamika danau BRIN Arianto Budi Santoso menjelaskan bahwa dalam kondisi anoksik, sulfat di dasar berubah menjadi sulfida yang kemudian teroksidasi kembali menjadi sulfat saat naik ke permukaan, sebuah proses yang menguras cadangan oksigen terlarut.
"Berdasarkan hasil penelitian, periode mixing di Danau Batur biasanya terjadi pada bulan Juni-Agustus, akhir Desember, dan Februari," kata Arianto Budi Santoso, Peneliti hidrodinamika danau BRIN.
Danau Batur tergolong danau polimiktik yang mengalami pencampuran air beberapa kali dalam setahun. BRIN mendorong pemantauan kualitas air secara berkelanjutan pada berbagai kedalaman untuk mendukung penyusunan kebijakan pengelolaan danau berbasis bukti ilmiah serta pengembangan sistem peringatan dini.






