Kecintaan mendalam terhadap dunia tenis menjadi faktor utama yang membuat Novak Djokovic enggan mengakhiri karier profesionalnya di level tertinggi. Hal tersebut disampaikan oleh sang rival lama, Rafael Nadal, saat menilai perjalanan karier petenis asal Sorbia tersebut, dilansir dari Bola.
Mantan petenis Spanyol itu meyakini bahwa Djokovic akan tetap menjadi pesaing yang sangat kuat pada berbagai turnamen besar. Peluang tersebut terbuka lebar selama motivasi serta kondisi fisik Djokovic terus terjaga dengan baik.
Nadal sendiri mengakhiri perjalanan kariernya pada usia 38 tahun pada 2024. Keputusan gantung raket itu diambil setelah ia melewati musim yang berat akibat cedera serta kekalahan di beberapa kompetisi penting, termasuk perempat final nomor ganda Olimpiade Paris 2024 dan final ATP Tour di Swedish Open.
Penampilan resmi terakhir legenda yang dijuluki Raja Tanah Liat tersebut terjadi dalam ajang Davis Cup Finals di Malaga saat Spanyol disingkirkan oleh Belanda. Momen tersebut menutup masa bakti luar biasa Nadal di arena tenis profesional yang berlangsung selama 23 tahun.
Nadal mengutarakan penegasannya mengenai keputusan untuk tidak lagi berada di arena kompetitif. Pria yang memegang rekor 14 gelar French Open tersebut merasa sudah sepenuhnya menerima masa pensiunnya.
"Bagi saya, bab itu sudah benar-benar selesai. Saya tidak merindukan persaingan," kata Nadal kepada CNBC Sport.
Meski tidak lagi berkeinginan berkompetisi, pemilik 22 gelar Grand Slam itu mengakui ada momen-momen emosional tertentu di lapangan yang cukup sulit dilupakan.
"Tentu saja saya merindukan beberapa sensasi karena itu adalah emosi yang mungkin tidak akan pernah saya rasakan lagi dalam bidang kehidupan lain. Namun, saya sudah berdamai dengan keputusan tersebut. Saya mengambil keputusan itu ketika merasa tidak lagi mampu bersaing di level yang saya inginkan," ungkapnya.
Di sisi lain, Djokovic masih mampu mempertahankan performa impresifnya di panggung internasional meski sudah menginjak usia 38 tahun. Ia berhasil menembus partai puncak Australian Open 2026, sekaligus mencatatkan rekor sebagai petenis tertua dalam sejarah yang mencapai laga final di turnamen tersebut.
Koleksi gelar Grand Slam milik Djokovic saat ini menyentuh angka 24 trophy usai memenangi US Open 2023 dengan menumbangkan Daniil Medvedev. Pencapaian ini menegaskan dominasinya yang sangat kuat di panggung tenis global.
Rekor pertemuan kedua pemain tercatat sebanyak 60 kali di mana Djokovic menjadi satu-satunya sosok yang sanggup mengalahkan Nadal di empat ajang Grand Slam berbeda. Bentrokan terakhir mereka tersaji pada babak kedua Olimpiade Paris 2024 yang dimenangi Djokovic dua set langsung.
Nadal memandang gairah bertanding yang tak pernah padam menjadi bahan bakar utama yang terus menggerakkan Djokovic hingga saat ini.
"Novak masih berada di sini karena ia mencintai olahraga ini dan masih memiliki gairah yang besar untuk berkompetisi. Selama ia tetap menjaga motivasinya dan kondisi fisiknya masih memungkinkan, ia akan terus memiliki peluang untuk bersaing memperebutkan gelar di turnamen-turnamen terbesar. Apa yang telah ia capai benar-benar luar biasa," ujar Nadal.
"Kami semua telah mendorong karier kami hingga batas maksimal, dan dia masih terus melakukannya. Ketika seseorang telah memenangkan sebanyak yang kami raih, satu-satunya alasan untuk terus bermain adalah karena mereka masih menikmati persaingan dan merasa masih mampu tetap kompetitif," tutur Nadal.






