Studi PIK Ungkap Laju Pemanasan Global Melonjak Sejak 2015

6 Agustus 2026, 03:46 WIB

Laju peningkatan suhu Bumi dilaporkan mengalami percepatan yang signifikan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Fenomena ini terungkap meskipun pengaruh alami seperti letusan gunung api, fenomena El Nino, dan radiasi Matahari telah disaring dari kalkulasi data, seperti dilansir dari Detik iNET.

Riset yang dipimpin oleh para ilmuwan Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) di Jerman mencatat kenaikan suhu Bumi mencapai sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade sejak 2015. Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan periode 1970 hingga 2015 yang berada di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade.

Laporan yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters ini menjadi bukti empiris pertama mengenai percepatan kenaikan suhu planet secara nyata.

"Kini kami dapat menunjukkan adanya percepatan pemanasan global yang kuat dan signifikan secara statistik sejak sekitar 2015," ujar Grant Foster, ahli statistik asal Amerika Serikat sekaligus salah satu penulis studi.

Faktor alamiah seperti El Nino dapat memicu lonjakan suhu sementara akibat pelepasan panas Samudra Pasifik tropis ke atmosfer. Sebaliknya, aerosol dari letusan gunung berapi memantulkan sinar Matahari sehingga mendinginkan Bumi untuk sementara waktu.

Guna memperoleh gambaran tren iklim yang akurat, tim peneliti mengeliminasi gangguan dari variasi alami tersebut. Analisis dilakukan terhadap lima basis data suhu global terkemuka, mencakup NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, serta ERA5.

"Kami menyaring pengaruh alami yang telah diketahui dari data pengamatan sehingga 'gangguan' dapat dikurangi dan sinyal pemanasan jangka panjang menjadi jauh lebih jelas terlihat," kata Foster.

Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kepastian statistik atas percepatan suhu sejak 2015 melampaui angka 98 persen. Peneliti utama Stefan Rahmstorf menegaskan bahwa temuan ini terbukti konsisten di seluruh dataset.

"Data yang telah disesuaikan menunjukkan percepatan pemanasan global sejak 2015 dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen. Hasil ini konsisten pada semua kumpulan data yang kami analisis dan tidak bergantung pada metode analisis yang digunakan," tutur Rahmstorf.

Tingkat kepastian ini mengindikasikan bahwa lonjakan suhu global bukan sekadar hasil dari fluktuasi acak. Meskipun demikian, para peneliti menjelaskan bahwa temuan ini tidak serta-merta menandakan ambang batas 1,5 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris telah terlampaui.

Batasan Perjanjian Paris mengacu pada kalkulasi rata-rata tren iklim jangka panjang, bukan dinamika suhu tahunan. Namun, meningkatnya laju emisi gas rumah kaca berisiko mempercepat pemanasan Bumi dibanding rata-rata akhir abad ke-20.

Laju kenaikan suhu pada dekade terakhir ini mencatatkan rekor tertinggi sejak era pencatatan iklim modern dimulai pada 1880. Keberlanjutan percepatan pemanasan ini amat bergantung pada efektivitas penekanan emisi karbon dari bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang