Gagasan penempatan fasilitas pusat data kecerdasan buatan atau AI di orbit bumi kini memicu kekhawatiran luas dari kalangan ahli. Seperti dilansir dari Detik iNET, lebih dari 100 ilmuwan, pakar antariksa, dan organisasi lingkungan telah mendesak regulator AS untuk melakukan kajian dampak lingkungan secara menyeluruh sebelum proyek tersebut berjalan.
Dorongan membangun fasilitas di luar angkasa muncul akibat tingginya konsumsi energi untuk melatih serta mengoperasikan model kecerdasan buatan. Sejumlah perusahaan teknologi antariksa, termasuk SpaceX, mengusulkan penempatan stasiun data berbasis panel surya di orbit demi mengurangi beban jaringan listrik darat.
"Kita tidak boleh mengulangi kesalahan dengan meluncurkan teknologi baru tanpa terlebih dahulu memahami dampaknya terhadap lingkungan," demikian isi seruan para ilmuwan seperti dikutip dari NBC News, Senin (3/8/2026).
Kebutuhan pasokan listrik yang masif untuk infrastruktur komputasi di Bumi memicu tingginya emisi karbon serta penggunaan air untuk sistem pendingin. Pemanfaatan panel surya di luar angkasa dinilai menguntungkan karena pasokan sinar matahari berlangsung terus-menerus tanpa gangguan cuaca, sekaligus memangkas transmisi data mentah ke darat.
Meski memiliki potensi efisiensi, pengoperasian perangkat keras di ruang hampa menghadapi kendala teknis yang rumit. Pelepasan panas di luar angkasa hanya dapat mengandalkan mekanisme radiasi, sehingga membutuhkan rancangan sistem pendingin yang jauh lebih berat ketimbang pendingin udara atau air di Bumi.
Masalah lain meliputi kerentanan komponen elektronik akibat paparan radiasi kosmik, ancaman benturan puing, serta tiadanya akses perbaikan fisik saat terjadi kerusakan teknis di orbit. Tantangan lingkungan di ruang hampa dipandang terlampau keras untuk pemrosesan data berskala besar.
"Luar angkasa memang menawarkan energi Matahari yang melimpah, tetapi juga merupakan lingkungan yang sangat keras untuk mengoperasikan pusat data," demikian penjelasan para peneliti.
Ancaman utama dari peluncuran konstelasi satelit berskala besar adalah pembentukan sampah antariksa baru. Beberapa rencana bahkan memproyeksikan pengiriman ratusan ribu hingga jutaan unit satelit untuk menopang kapasitas komputasi global.
Akumulasi puing dari potensi tabrakan antarsatelit dikhawatirkan merusak armada satelit aktif lain yang memegang peranan vital bagi sistem komunikasi, navigasi global, hingga pemantauan cuaca. Selain itu, emisi peluncuran roket dan korosi material saat satelit terbakar di atmosfer turut menjadi sorotan.
"Kita perlu memahami seluruh konsekuensi lingkungannya sebelum sistem sebesar ini dibangun," kata para peneliti yang mengkritisi proyek tersebut.
Mengingat konsep ini masih berada pada taraf awal, para ahli menekankan pentingnya evaluasi ilmiah berbasis data yang mendalam. Langkah kajian riset secara komprehensif diperlukan agar upaya mengatasi krisis energi AI di Bumi tidak menciptakan masalah ekologis baru di ruang angkasa.







