Maybank Indonesia mengungkap hasil pengukuran jejak karbon penyelenggaraan Maybank Marathon 2025 yang menghasilkan emisi baseline sebesar 4.336 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e). Pengumuman ini disampaikan dalam acara Sustainabili-Tea Session di Maybank Tower, Jakarta, Selasa (14/7/2026), sebagaimana dilansir dari Bola.
Hasil penghitungan yang dilakukan bersama Jejakin tersebut menjadi pijakan utama bagi pihak penyelenggara. Angka baseline ini dimanfaatkan untuk memetakan sumber emisi terbesar sekaligus merancang program pengurangan emisi karbon secara berkala hingga mencapai target karbon netral pada 2030.
Penghitungan emisi tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai program keberlanjutan Maybank Indonesia sejak 2023. Langkah ini mencakup penanaman mangrove di Bali, aksi Run for Charity, serta penyediaan kalkulator karbon pada 2025 untuk mengukur dampak lingkungan dari ajang lari tersebut.
ESG Lead Jejakin, Ramdhani, menjelaskan bahwa proses audit jejak karbon dilakukan menggunakan standar Carbon Neutral Protocol. Evaluasi ini mencakup seluruh rantai kegiatan, mulai dari perjalanan peserta menuju Bali, akomodasi menginap, konsumsi energi di lokasi, hingga proses pengelolaan sampah.
"Angka baseline sebesar 4.336 ton CO₂e menjadi acuan agar kami mengetahui hotspot emisi yang perlu diprioritaskan. Dengan begitu, agenda keberlanjutan yang disusun ke depan memiliki dasar yang terukur untuk mencapai target karbon netral pada 2030," ujar Ramdhani.
Berdasarkan hasil analisis, kontribusi emisi terbesar berasal dari sektor perjalanan dan tempat menginap para pelari. Tingginya angka pada sektor ini dipengaruhi oleh kepesertaan pelari internasional yang berasal dari 52 negara.
Penggunaan daya listrik serta mesin generator di area lomba turut menambah jejak emisi. Di sisi lain, pengelolaan sampah mencatatkan kinerja positif karena 99 persen limbah acara berhasil didaur ulang atau dijadikan kompos sehingga tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Sementara itu, Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny, menegaskan bahwa keberhasilan pencapaian target lingkungan ini membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh peserta marathon.
"Jejak hijau bagi kami adalah sebuah behavior. Ketika pelari mengejar personal best, mereka juga bisa meninggalkan jejak perilaku yang positif bagi lingkungan. Mengurangi karbon dimulai dari pilihan-pilihan sederhana yang dilakukan bersama karena perubahan perilaku merupakan aksi kolektif," kata Maria Trifanny.
Guna menekan emisi, peserta diimbau menggunakan kendaraan listrik atau layanan shuttle, menginap di hotel bersertifikat ramah lingkungan, memilah sampah, membawa botol minum isi ulang, serta berpartisipasi dalam program offset karbon melalui penanaman mangrove.
Selain aksi lingkungan, Maybank Indonesia tetap mempertahankan program sosial seperti kategori wheelchair, Run for Charity, Sustainability Pavilion, dan edukasi literasi keuangan bagi 40 sekolah di sepanjang rute marathon.






