Sektor Pertambangan Indonesia Kontraksi 1,64 Persen pada Kuartal II 2026

6 Agustus 2026, 13:31 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026, seperti dilansir dari Detik Finance. Meski melambat, sektor ini tetap menjadi salah satu penyumbang besar bagi perekonomian nasional.

Penyebab utama penurunan ini berasal dari subsektor pertambangan bijih logam yang menyusut hingga 9,42 persen. Penurunan tersebut dipicu oleh merosotnya produksi beberapa komoditas tambang utama di Indonesia.

"Lapangan usaha pertambangan terkontraksi sebesar 1,64% disebabkan oleh pertama pertambangan bijih logam terkontraksi 9,42% akibat penurunan produksi pada beberapa komoditas tambang, seperti bijih bauksit, timah, dan nikel," ujar Edy dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Selain penurunan komoditas logam, operasional tambang bawah tanah Grasberg di Papua Tengah belum pulih sepenuhnya pasca-insiden tanah longsor pada September 2025. Di sisi lain, sektor batu bara turut menyusut 1,41 persen akibat kebijakan pembatasan produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

"Pertambangan batu bara juga terkontraksi 1,41% disebabkan oleh penataan kuota produksi melali RKAB tahun 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan perbaikan harga batu bara di pasar internasional," jelas Edy.

Terganggunya aktivitas di kawasan Freeport tersebut memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi regional. Pertumbuhan di wilayah Pulau Papua pada triwulan kedua 2026 tercatat melambat menjadi 1,36 persen dari sebelumnya 4,46 persen pada triwulan pertama.

"Jadi ini mengalami Provinsi Papua Tengah ini mengalami kontraksi pertumbuhan ya Karena kinerja pertambangannya yang memang sedang ada masalah ya di sana waktu itu. Jadi akibat longsor yang terjadi di Provinsi Papua Tengah yaitu di Grasberg ya pada September 25 dan ini masih dilakukan perbaikan sepertinya dan belum tembus," beber Edy.

Proses pemulihan area tambang yang terdampak musibah tahun lalu tersebut masih terus berjalan hingga pertengahan tahun ini.

"Jadi ada musibah di tahun lalu di September dan sekarang belum pulih kembali seperti di triwulan II tahun 2026," katanya melanjutkan.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang