Pemerintah Kabupaten Badung bersama PT Kereta Api Indonesia merancang pembangunan moda transportasi massal berupa trem yang menghubungkan wilayah Kuta dan Canggu pada Rabu, 5 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Proyek transportasi berbasis rel ini disiapkan sebagai sarana komuter antarkota untuk mengurai kemacetan serta memangkas ketimpangan pembangunan ekonomi di wilayah Denpasar dan Badung.
Langkah ini diambil guna memperkuat jaringan infrastruktur jalan dan meningkatkan mobilitas pekerja antardaerah secara lebih efektif.
"Untuk Bali ini, di samping tol, yang prioritas adalah membangun konektivitas kereta api antarkota karena ini jauh akan lebih efektif. Sehingga, orang yang dari mana saja, mau kerja di Badung atau Denpasar, tinggal di Denpasar, yang penting komuter," kata Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa.
Pemerintah daerah menilai keberadaan transportasi rel terintegrasi mampu memicu pemerataan roda perekonomian warga lokal hingga kawasan sekitar.
"Satu daerah itu akan berkembang ketika ada konektivitas dengan daerah yang sudah berkembang, itu rumus. Bayangkan seorang yang dari Klungkung, dia bisa tinggal di Klungkung, uang yang didapat di Denpasar belanjanya di Klungkung sehingga ekonominya berjalan," ujar Adi Arnawa.
Untuk mendukung operasional trem, Pemkab Badung menyiapkan skema pelebaran jalan utama selebar 24 meter yang dibagi untuk jalur khusus, median, trotoar, dan Garis Sempadan Bangunan.
"Kalau kita membuat moda transportasi publik tanpa membuat jalur khusus itu gagal. Pembelajaran saya, kalau ini sudah jadi jalan 24 meter saya ambil median 1 meter, lalu 2 meter kiri-kanan untuk trotoar, dan GSB berlaku lagi 3 meter," jelas Adi Arnawa.







