Pakar Toksinologi Imbau Wisatawan Waspadai Ular di Candi

7 Agustus 2026, 00:46 WIB

Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata sejarah seperti candi diingatkan untuk mewaspadai potensi keberadaan ular di sekitar kawasan cagar budaya. Hal tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Emergensi RS Permata Depok sekaligus Pakar Toksinologi, Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K), pada Selasa (4/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Kondisi lingkungan di kawasan candi yang cenderung dingin, lembap, dan memiliki banyak sela batuan dinilai menjadi habitat yang ideal bagi satwa melata tersebut untuk bersembunyi. Pengelola tempat wisata budaya juga disebut pernah menerima edukasi penanganan gigitan ular langsung dari pakar toksinologi.

"Di candi-candi itu banyak ular. Tempatnya lembap, banyak celah batu, teduh, jadi nyaman untuk ular bersembunyi," kata Maha, sapaan karib Tri Maharani.

Maha menekankan bahwa keteraturan tata ruang di destinasi wisata tidak menghilangkan status kawasan tersebut sebagai habitat alami satwa liar. Struktur bangunan kuno yang dipenuhi sela-sela sempit menjadi daya tarik tersendiri bagi ular untuk berlindung.

"Bangunan candi itu kan banyak celah. Dingin, lembap, dan sempit. Itu tempat yang nyaman untuk ular," kata dia.

Populasi ular jenis kobra bahkan tercatat masih ditemukan di sekitar situs bersejarah kawasan Cirebon. Temuan tersebut mengonfirmasi secara langsung keberadaan jenis satwa berbisa di sekitar objek wisata budaya.

"Saya pernah ke sana dan memang ada ular kobranya," kata Maha yang juga menjadi ketua Kajian Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan itu.

Meski memiliki potensi risiko, kawasan wisata budaya dinilai tetap aman dikunjungi selama wisatawan memahami pentingnya penggunaan perlengkapan pelindung diri. Penggunaan alas kaki tertutup, topi, dan pakaian lengan panjang sangat disarankan untuk meminimalkan risiko cedera.

"Kalau mengunjungi tempat-tempat seperti itu sebaiknya memakai sepatu. Kalau bisa juga memakai topi dan pakaian lengan panjang atau jaket," kata dia.

Pengelola destinasi wisata budaya turut diimbau untuk menyiapkan fasilitas penanganan medis darurat, pelatihan toksinologi bagi petugas, serta penyediaan akses transportasi evakuasi rujukan ke rumah sakit terdekat.

"Satu, harus punya tim kesehatan. Kedua, petugasnya harus mendapat pelatihan tentang toksinologi. Ketiga, tahu harus merujuk ke mana kalau ada korban," kata Maha.

Kesiapan armada ambulans sangat krusial agar evakuasi medis korban gigitan ular dapat segera dilakukan tanpa membebani korban.

"Jangan sampai orang yang menjadi korban justru harus mencari ambulans sendiri," kata dia.

Wisatawan diingatkan untuk tidak melakukan tindakan konfrontatif seperti mencoba menangkap, mendekati, atau memukul ular saat menemukannya di area wisata karena satwa tersebut cenderung menyerang saat merasa terancam.

"Jangan konfrontasi dengan ular. Ular itu menggigit untuk mempertahankan dirinya," kata dia.

Masyarakat juga diimbau tidak perlu menghabiskan waktu membedakan tingkat bisa ular saat insiden terjadi, mengingat terdapat ratusan spesies ular di Indonesia.

"Kita tidak mungkin menghafal semua jenis ular di Indonesia. Indonesia memiliki sekitar 300 spesies ular yang tidak berbisa dan sekitar 180 spesies ular berbisa. Tidak mungkin masyarakat awam mampu membedakan semuanya. Karena itu, kalau seseorang digigit ular, anggap saja semua ular berbisa," kata Maha.

Langkah pertolongan pertama yang direkomendasikan jika terjadi penanganan darurat gigitan ular adalah imobilisasi atau membatasi pergerakan area tubuh yang terdampak sebelum membawa korban ke fasilitas kesehatan.

"Segera lakukan pertolongan pertama berupa imobilisasi, yaitu membatasi gerakan anggota tubuh yang tergigit, lalu segera bawa korban ke fasilitas kesehatan," ujar dia.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang