Institut Teknologi Bandung menetapkan Kevin Sitanggang sebagai mahasiswa baru termuda tahun akademik 2026 pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan. Remaja tersebut resmi diterima sebagai civitas akademika sebelum genap berusia 15 tahun, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis (6/8/2026).
Kevin mencatatkan waktu studi Sekolah Dasar selama empat tahun melalui program percepatan atau akselerasi. Pola pendidikan kilat itu memicu dirinya terus menjadi peserta didik paling muda saat melanjutkan jenjang pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.
Metode pembelajaran Kevin dibentuk oleh ayahnya yang merupakan alumni kampus ITB dengan menerapkan materi dua hingga tiga tahun di atas kurikulum formal sejak bangku taman kanak-kanak. Pengawasan ketat orang tua dalam pemenuhan target belajar diiringi pemberian waktu luang ketika ia berhasil menyelesaikan kompetisi sains.
"Beliau punya prinsip yang cukup kuat soal pendidikan. Beliau merasa saya bisa belajar lebih cepat, jadi kenapa harus mengikuti ritme yang sama dengan yang lain," kata Kevin Sitanggang, Mahasiswa Baru FTTM ITB.
Pengalaman menjalani program percepatan belajar di tingkat dasar terus membawanya pada situasi penyesuaian usia di jenjang sekolah berikutnya.
"SMP dan SMA normal, tapi karena SD saya lebih cepat, akhirnya saya selalu jadi yang paling muda di angkatan," kata Kevin.
Kedisiplinan serta tekanan akademik intensif yang diterimanya sejak kecil diakui Kevin cukup berat pada masa awal penerapan.
"Dari TK saya sudah diajarkancalistung ketika teman-teman masih belajar membaca. Memang dulu perjuangannya berat karena sering dimarahi, tapi sekarang saya merasa hasilnya terbayar," kenang Kevin.
Pemahaman mengenai alasan orang tuanya memberikan porsi belajar yang tinggi baru disadari Kevin ketika menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.
"Pas saya sampai di ITB, saya baru sadar ternyata tekanan belajarnya memang akan seberat itu. Baru sekarang saya paham maksud ayah saya," kata Kevin.
Pola pengasuhan yang diterimanya tetap memberikan ruang untuk rekreasi setelah ia menuntaskan target akademik yang ditetapkan.
"Kalau saya bisa menyelesaikan lomba atau belajar dengan baik, ayah saya kasih waktu buat main. Jadi tetap ada keseimbangannya," ujar Kevin.
Selama menjalani masa studi di ITB, Kevin berencana memfokuskan diri pada bidang akademik dengan mengikuti Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam serta organisasi kemahasiswaan pendukung.
"Saya ingin ikut ONMIPA, ikut lomba-lomba sains, dan aktif di organisasi. Kalau UKM mungkin enggak terlalu banyak, saya ingin lebih fokus ke akademik," kata Kevin.
Mengenai perbedaan usia yang cukup jauh dengan kawan seangkatannya di perguruan tinggi, Kevin memilih untuk fokus menyelesaikan seluruh perkuliahan.
"Kalau melihat materinya susah, ya sudah hadapi saja. Enggak ada cara untuk kembali lagi," ujar Kevin.






