Gianni Infantino menghadapi tekanan untuk mundur dari jabatan Presiden FIFA setelah rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta memicu kontroversi, dilansir dari Bola. Jika tidak mundur dalam beberapa pekan atau bulan ke depan, masa jabatan Infantino akan tetap menjadi sorotan menjelang pemilihan Presiden FIFA pada 2027. Infantino, yang memimpin FIFA sejak 2016 setelah menggantikan Sepp Blatter, telah mengubah aturan sehingga memungkinkan pencalonan untuk masa jabatan keempat, berpotensi memimpin hingga 2031.
Berbagai pihak bereaksi terhadap polemik ini, termasuk pengunduran diri penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, sementara UEFA mempersiapkan kandidat untuk menghadapi Infantino.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin menjadi salah satu kandidat potensial yang kerap berselisih dengan FIFA dan kritis terhadap keputusan organisasi, termasuk pembatalan kartu merah pada Piala Dunia 2026. Ceferin dikabarkan bersedia maju menjadi kandidat jika dibutuhkan dan tidak ada pesaing lain, meskipun ia nyaman memimpin UEFA hingga 2031.
Presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al Khelaifi, juga disebut sebagai calon potensial namun perwakilannya menegaskan tidak memiliki ambisi menjadi Presiden FIFA, walau peluangnya belum sepenuhnya tertutup. Mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, yang kini menjabat sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, juga masuk dalam daftar kandidat dengan pengalaman dan posisi yang mendukung peluangnya.
Victor Montagliani, Presiden Concacaf asal Kanada, sebelumnya dikaitkan dengan peluang menjadi Presiden FIFA. Masa jabatannya di Concacaf berakhir tahun depan dan ada kemungkinan ia maju dalam pemilihan FIFA. Terakhir, Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Salman bin Ibrahim Al Khalifa, yang juga Wakil Presiden Senior Dewan FIFA, menolak rencana penjualan hak komersial Piala Dunia dan juga akan menghadapi pemilihan di AFC bersamaan dengan kemungkinan pemilihan Presiden FIFA.







