Wisatawan yang mengalami gigitan ular saat menjelajahi alam diimbau tidak mengisap luka atau mengikat anggota tubuh yang terdampak. Dilansir dari Detik Travel, dokter spesialis emergensi dan toksinologi Dr. dr. Tri Maharani M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K) menegaskan tindakan tersebut justru berpotensi memperburuk kondisi korban.
"Jangan disedot, jangan disayat, jangan dikeluarkan darahnya. Karena bisa ular itu masuk melalui sistem getah bening, bukan lewat pembuluh darah," kata Maha.
Langkah mengisap luka atau mengeluarkan darah tidak akan bisa menghilangkan racun dari dalam tubuh karena racun ular menyebar melalui sistem limfatik. Gerakan tubuh yang berlebihan dari korban justru makin mempercepat penyebaran racun tersebut ke organ lainnya.
Upaya mengidentifikasi jenis ular berbisa atau tidak sebelum mencari bantuan medis juga tergolong berbahaya bagi wisatawan. Indonesia memiliki ratusan spesies ular sehingga masyarakat awam hampir tidak mungkin dapat mengenali semuanya secara tepat.
"Indonesia punya sekitar 300 jenis ular yang tidak berbisa dan sekitar 180 jenis ular berbisa. Kita tidak mungkin mempelajarinya satu per satu," kata dia.
Setiap insiden gigitan ular sebaiknya langsung diperlakukan sebagai kondisi darurat medis. Penanganan awal yang berfokus pada keselamatan korban harus segera dilakukan tanpa menunda waktu.
"Anggap saja semua ular berbisa. Yang paling penting adalah segera melakukan pertolongan pertama dan menuju fasilitas kesehatan," katanya.
Metode imobilisasi menjadi langkah pertolongan pertama yang paling dianjurkan dengan cara membatasi gerakan pada anggota tubuh yang tergigit. Penggunaan bidai sederhana dapat membantu mempertahankan bagian tubuh tetap diam sebelum korban tiba di fasilitas kesehatan.
"First aid yang benar adalah imobilisasi, kemudian segera ke fasilitas kesehatan," ujar Maha.
Aktivitas fisik seperti berlari atau berjalan terlalu jauh setelah terkena gigitan ular harus dihindari karena kontraksi otot dapat mempercepat kerja sistem getah bening. Korban dianjurkan untuk tetap tenang serta meminimalkan pergerakan tubuh sepanjang perjalanan menuju tempat penanganan medis.
Pemanfaatan teknologi seperti Virtual Poison Center dapat membantu wisatawan saat menghadapi situasi darurat di alam bebas. Layanan konsultasi berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut memberikan panduan awal terkait pertolongan pertama pada kasus gigitan ular, sengatan hewan berbisa, maupun keracunan tanaman.
Wisatawan juga diingatkan untuk tidak mencoba menangkap, memukul, atau mendekati ular yang ditemui di jalur perjalanan. Ular pada umumnya hanya akan menyerang dan menggigit ketika merasa terancam oleh keberadaan manusia.
"Jangan konfrontasi dengan ular. Ular itu menggigit untuk mempertahankan dirinya ketika merasa terancam," kata dia.
"Jika menemukan ular di jalur pendakian atau lokasi wisata, langkah paling aman adalah menjaga jarak dan memberi ruang agar satwa tersebut pergi dengan sendirinya," dia menegaskan.






