Iran dan Oman Sepakati Rute Pelayaran Selat Hormuz

7 Agustus 2026, 11:01 WIB

Pemerintah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz dan sedang memfinalisasi pengaturan pengelolaan bersama jalur perairan strategis tersebut. Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa keamanan di selat itu tetap bergantung pada penghentian blokade laut oleh Amerika Serikat, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan pada Rabu (05/8) bahwa koordinat geografis rute telah diselesaikan dan dokumen bersama akan diterbitkan jika tidak ada hambatan dari pihak ketiga.

"Koordinat geografis rute yang dirancang kedua pihak telah disepakati dan, jika pihak ketiga tertentu tidak menghalangi proses tersebut, pernyataan bersama kedua negara yang memuat pertimbangan utama dan poin-poin kesepakatan juga telah memasuki tahap akhir peninjauan dan penyusunan," kata Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Ia menambahkan bahwa adanya kesepakatan rute ini tidak serta-merta menjamin keamanan jalur laut tersebut secara menyeluruh bagi seluruh kapal melintas.

"Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih ada di pihak AS, terutama blokade laut dan berbagai tindakan agresif serta ancaman lainnya terhadap Iran dan kepentingannya," ujar Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Penguasaan de facto atas Selat Hormuz telah dijalankan Iran sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap negara itu pada 28 Februari. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan Teheran ingin berunding untuk membuka selat, namun klaim negosiasi tersebut dibantah oleh Iran yang memilih fokus mengatur mekanisme pelayaran bersama Oman.

Situasi keamanan di kawasan perairan tersebut masih diwarnai sejumlah insiden. Pada hari yang sama, UKMTO melaporkan sebuah kapal tanker minyak mendengar dua ledakan saat melintas di Selat Hormuz sekitar 17 kilometer di tenggara Kumzar, Oman, meski seluruh awak dan kapal dipastikan selamat. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang kapal tanker Wafa di Laut Merah utara dan kapal Daisy di Teluk Aden.

"Prosesnya akan rumit dan membutuhkan waktu untuk mencapainya," kata JD Vance, Wakil Presiden AS.

Pemerintah AS menilai bahwa perundingan diplomasi dengan Iran tidak dapat terwujud dalam waktu singkat akibat dinamika internal negara tersebut.

"Kenyataannya, pertama, orang-orang Iran sangat sulit diajak berunding. Kedua, mereka memiliki sistem yang terpecah," ujar JD Vance, Wakil Presiden AS.

Perkembangan di jalur perairan tersebut juga mendapat perhatian dari negara tetangga. Pada Kamis (06/8), Pakistan berharap kesepakatan rute Selat Hormuz ini menjadi pendorong dimulainya kembali dialog teknis antara Washington dan Teheran.

"Kami berharap kesepakatan mengenai Selat akan membuka jalan bagi kelanjutan dialog, khususnya dimulainya kembali pembicaraan tingkat teknis antara Iran dan Amerika Serikat," kata Tahir Andrabi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang