Kemenperin Soroti Ketimpangan Ekosistem Startup Indonesia

7 Agustus 2026, 12:16 WIB

Kementerian Perindustrian mengungkapkan ketimpangan tajam pada ekosistem startup nasional yang berada di peringkat ke-45 dunia secara kualitas, meskipun Indonesia menempati posisi keenam global dengan jumlah lebih dari 3.100 unit aktif pada Kamis (6/8/2026).

Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, data Startup Ranking mencatat populasi perusahaan rintisan Indonesia berhasil melampaui Jerman, Prancis, hingga Uni Emirat Arab (UEA). Prestasi kuantitas ini sekaligus memposisikan Indonesia sebagai pemilik startup terbanyak di kawasan Asia Tenggara.

Kendati demikian, peringkat mutu ekosistem nasional dinilai masih tertinggal dalam laporan Global Startup Ecosystem Index 2026. Di sisi lain, Jakarta berhasil menduduki peringkat ke-30 dalam jajaran kota dengan ekosistem startup terbaik di dunia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti kesenjangan besar tersebut saat membuka acara Indo Startup Expo di kantor Kementerian Perindustrian, Tulodong, Jakarta Selatan.

"Berdasarkan Global Startup Ecosystem Index tahun ini, tahun 2026, mutu dari ekosistem startup kita tertinggal jauh dan hanya berada di peringkat 45 dunia dengan posisi Jakarta berada pada peringkat 30 di antara kota-kota besar dunia. Peringkat ke-6 dalam jumlah, peringkat ke-45 dalam mutu, gapnya besar sekali," ungkap Agus dalam sambutannya di acara Indo Startup Expo di kantor Kementerian Perindustrian, Tulodong, Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).

Pemerintah menilai selisih kualitas tersebut menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera dibenahi. Agus menganggap besarnya angka perusahaan rintisan aktif dapat dijadikan modal awal untuk membenahi mutu dan mendorong pertumbuhan ekosistem ke depan.

Sektor industri manufaktur dan pabrik nasional diharapkan menjadi fokus utama penyelesaian masalah oleh para pelaku industri startup. Kontribusi perusahaan rintisan ini dinilai krusial dalam memperkuat kinerja manufaktur dalam negeri.

Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan sendiri mencatatkan angka 5,32% secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026, memimpin di atas pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mempertahankan posisinya sebagai penyumbang ekonomi terbesar.

"Pertumbuhan manufaktur tercatat di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yang tercatat 5,29%," terangnya.

Peran strategis industri pengolahan juga terlihat dari daya serap tenaga kerja yang mencapai lebih dari 20 juta orang hingga Februari 2026. Sektor ini merealisasikan 39,7% investasi nasional serta menyumbang 82% terhadap total ekspor senilai US$ 115,50 miliar pada semester I-2026.

Kehadiran teknologi yang dikembangkan oleh pelaku usaha rintisan dalam negeri dipandang menjadi kunci utama dalam memicu peningkatan nilai tambah industri, bukan sekadar bertumpu pada perluasan kapasitas produksi semata.

"Nilai tambah yang saya maksud tadi tidak lahir hanya dari kapasitas produksi, tidak lahir hanya dari kapasitas produksi yang diperluas, yang diperbesar, namun nklai tambah tersebut lahir dari teknologi. Dan di sini lah kelihatan secara jelas peran dari startup menjadi sangat penting, bukan hanya sekadar sebagai pelengkap ekosistem digital, tetapi juga sebagai lapisan penyedia teknologi bagi industri-industri yang ada di Indonesia," pungkasnya.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang