Dua pendaki bernama Maliya Finda (51) asal Surabaya dan pemandunya, Irfan Nasrul Laili (35), ditemukan meninggal dunia usai jatuh ke jurang berkedalaman 60-70 meter di Gunung Piramid, Kabupaten Bondowoso, Minggu (2/8), sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Keduanya dilaporkan hilang kontak sejak Minggu pagi pukul 07.00 WIB saat melakukan pendakian sistem tektok. Kecurigaan warga muncul setelah sepeda motor yang dititipkan korban tak kunjung diambil hingga Senin (3/8) sore.
Tim SAR gabungan memerlukan waktu hingga 13 jam untuk mengevakuasi kedua jenazah dari jurang bercuram 60 derajat tersebut sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga.
Dugaan awal dari pihak kepolisian dan tim penyelamat mengindikasikan kedua korban jatuh secara bersamaan saat melintasi jalur ekstrem. Pihak keluarga menyebut Maliya sudah menggemari kegiatan luar ruangan dan olahraga ekstrem sejak beberapa tahun terakhir.
"Umi (Maliya) memang hobi berkegiatan outdoor. Selain naik gunung, juga bersepeda, trail run, dan sebagainya," kata Audi, menantu Maliya.
Meski pihak keluarga sempat mengimbau untuk mengurangi aktivitas berisiko mengingat usianya, korban tetap aktif mendaki hingga ke berbagai daerah.
"Namun karena memang sudah hobinya, ya mau gimana lagi. Satu hal lagi, beliau selalu tak lupa salat selama beraktifitas outdoor," tutur Audi.
Pihak keluarga lainnya menceritakan bahwa korban sempat berencana mengunjungi cucunya di Bali tepat setelah menyelesaikan pendakian di Bondowoso.
"Mama bilang, 'sebelum ke Bali, mama naik gunung ya ke Bondowoso'. Hari Sabtu mama berangkat ke Bondowoso, terus hari Minggu lanjut ke Bali nengok cucu," kata Fara, anak Maliya.
Fara menambahkan bahwa ibunya mulai intensif mendaki gunung sejak tahun 2023 dan sering berpergian hingga dua minggu sekali.
"Tahun 2022 itu road bike, mendaki ini tahun 2023. Sudah pernah mendaki ke Makassar, Medan, banyak. Begitu punya cucu, dua minggu sekali mendaki karena memang suka olahraga," pungkasnya.
Sementara itu, pemandu lokal bernama Irfan dikenal sebagai sosok pendaki berpengalaman yang kerap menaklukkan berbagai puncak gunung di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.
"Dia anak tunggal. Kalau gak ada kegiatan naik gunung, ia berjualan di pasar Wonosari," terang Yudi, kerabat Irfan.
Sebelum memulai perjalanan pendakian pada Sabtu (2/8), Maliya sempat menitipkan sejumlah barang di kediaman Irfan di Wonosari.
"Bahkan sebagian barang-barang Bu Maliya sampai saat ini masih ada dititipkan di rumah Irfan," katanya.
Kerabat Irfan lainnya mengungkapkan bahwa almarhum sempat menyampaikan isyarat mengenai kegiatan mendakinya sebelum berangkat.
"Ya mungkin karena sudah banyak gunung yang telah didaki," ujar Bambang, kerabat Irfan.
Proses pencarian dan penanganan lokasi jatuhnya korban mengindikasikan adanya kecelakaan teknis saat melintasi jalur medan yang terjal.
"Dugaan kami keduanya jatuh secara berbarengan. Mungkin saat keduanya saling berpegangan, lalu jatuh bareng," jelas Jefri, Ketua tim SAR dari Basarnas.
Jenazah kedua korban telah dimakamkan oleh pihak keluarga masing-masing setelah menjalani pemeriksaan forensik dan pemulasaraan di rumah sakit setempat.







