Kritik tajam meluncur dari Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) kepada FIFA di tengah polemik kepemimpinan Gianni Infantino. Penilaian tersebut mencuat lantaran organisasi tertinggi sepak bola dunia itu dianggap tidak konsisten dalam menegakkan aturan bagi seluruh anggotanya.
Gelombang protes terhadap Infantino sebelumnya dipicu oleh rencana pembentukan FIFA Forward Enterprises (FFE) untuk menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia ke pihak swasta, seperti dilansir dari Bola. Kendati rencana tersebut akhirnya dibatalkan akibat tekanan publik, kepercayaan terhadap Infantino terus merosot, termasuk penarikan dukungan resmi dari Wales untuk pemilihan Presiden FIFA 2027.
Sikap resmi PFA disampaikan melalui pernyataan tertulis mengenai krisis yang melanda sepak bola di wilayah mereka. Dampak konflik di Gaza telah menewaskan lebih dari 1.013 individu yang terdiri dari pemain, pelatih, wasit, hingga staf, di samping kehancuran fasilitas olahraga dan terhentinya kompetisi lokal.
Kondisi ini membuat skuad nasional Palestina tidak dapat menggelar pertandingan di kandang sendiri. PFA mengeluhkan bahwa keluhan yang mereka ajukan selama bertahun-tahun selalu tertahan oleh kerumunan prosedur administratif tanpa ada penanganan konkret.
"Tim nasional kami tidak dapat menikmati kebebasan dan kebanggaan seperti yang dirasakan 210 anggota FIFA lainnya untuk bermain di kandang sendiri," tulis PFA, seperti dikutip dari Give Me Sport.
Ketimpangan perlakuan FIFA menjadi poin utama yang disoroti oleh PFA, khususnya terkait pembiaran klub-klub yang berbasis di permukiman Israel di wilayah pendudukan Palestina untuk tetap berkompetisi di bawah naungan Federasi Sepak Bola Israel.
"Diam ketika sebuah genosida berlangsung secara terbuka sama saja dengan keterlibatan," demikian salah satu bagian paling tegas dalam pernyataan tersebut.
Selain masalah diskriminasi, PFA menyuarakan kekhawatiran terkait komersialisasi aset utama sepak bola dunia yang dijadikan sarana finansial belaka.
"Banyak pihak kini mempertanyakan arah komersial FIFA dan apakah aset terbesar sepak bola pantas diperlakukan sebagai instrumen finansial. Itu adalah kekhawatiran yang sah."
Menjelang pemilihan kepemimpinan baru, Palestina menekankan pentingnya mengembalikan tata kelola FIFA pada prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan politik luar.
"Perhatian kami bukan siapa yang memimpin FIFA. Perhatian kami adalah apakah FIFA kembali siap memimpin berdasarkan prinsip."
Sikap PFA tersebut menegaskan bahwa reputasi sepak bola internasional kini bergantung pada keberanian FIFA dalam menguji prinsip dasarnya sendiri saat menghadapi krisis kemanusiaan.






