Kelompok pemberontak Houthi menyerang pasukan militer Yaman menggunakan rudal balistik dan drone bermuatan peledak, menewaskan sedikitnya 17 tentara dan perwira militer, serta melukai beberapa lainnya, seperti dilansir dari Detikcom pada Jumat, 7 Agustus 2026. Serangan itu menargetkan pasukan militer yang tengah menjalankan operasi melawan terorisme, kejahatan terorganisir, serta jaringan penyelundupan senjata dan narkoba yang terkait dengan Houthi. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional merespons dengan menginstruksikan langkah-langkah pencegahan dan respons yang memberikan efek jera terhadap serangan serupa di masa depan.
Data korban tewas militer tersebut diumumkan sehari setelah Pasukan Darurat pemerintah melaporkan adanya korban jiwa dan kerugian materi akibat serangan Houthi di sejumlah kamp dan unit militer, meskipun angka pastinya tidak disebutkan.
Serangan Houthi dilaporkan menyasar pasukan pemerintah di wilayah Marib dan Hadramawt, menurut media lokal. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa kelompoknya melancarkan operasi "skala besar" terhadap pasukan yang didukung Arab Saudi di beberapa area seperti Al-Ruwaik, Al-Abr, dan Al-Thaniyah, serta kamp militer lain.
"Kami melancarkan operasi skala besar yang melibatkan banyak rudal balistik dan drone," ujar Yahya Saree. Serangan ini terjadi di tengah pertempuran sporadis yang berlangsung sejak awal Juli 2026 di berbagai garis depan konflik di Yaman, menyebabkan puluhan korban jiwa dan luka di kedua belah pihak.
Meskipun gencatan senjata diumumkan sejak April 2022, serangan Houthi kembali meningkat, terutama menargetkan wilayah Saudi seiring meluasnya perang di Timur Tengah. Konflik di Yaman yang sudah berlangsung lebih dari 11 tahun ini melibatkan pasukan pemerintah yang didukung koalisi pimpinan Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Sampai saat ini, Houthi masih menguasai ibu kota Sanaa dan wilayah strategis lain di negara tersebut.






