Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendesak kepolisian dan aparat terkait untuk mengusut tuntas kasus penemuan 995 pucuk senjata api, narkoba, hingga 30 compact disc (CD) porno di sebuah sekolah swasta kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Jumat (7/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Pengungkapan barang-barang terlarang tersebut bermula ketika pihak sekolah hendak melakukan bongkar muat barang pada 10-11 Juli 2026. Di lokasi tersebut, petugas menemukan ratusan senjata api hingga airgun di dalam ruangan milik mantan ketua yayasan sekolah di wilayah Pondok Pinang.
Temuan barang bukti tersebut terus bertambah setelah pihak sekolah kembali menyisir lokasi pada Rabu (5/8/2026) malam. Pihak sekolah yang menemukan tambahan senjata, narkotika, dan puluhan CD porno langsung melaporkan kejadian tersebut serta menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk mengusut asal-usul kepemilikannya.
Merespons temuan itu, Sahroni menilai kepemilikan senjata dalam jumlah hampir seribu pucuk tersebut sebagai hal yang tidak wajar dan memerlukan penanganan serius dari pihak berwajib.
"Saya minta Polri, BIN, dan instansi terkait harus mengusut tuntas temuan ini. Kepemilikan hampir seribu pucuk senpi maupun airsoft gun jelas bukan sesuatu yang wajar," kata Sahroni.
Ia menekankan pentingnya pemeriksaan mendalam terhadap mantan ketua yayasan mengingat seluruh barang bukti ditemukan di area ruang kerjanya.
"Penyidik harus mendalami apakah yang bersangkutan terafiliasi dengan jaringan kejahatan tertentu, termasuk terorisme. Harus dilacak dari mana hampir seribu senjata ini berasal, bagaimana bisa diperoleh, dan untuk tujuan apa disimpan. Pasti dia punya akses-akses tertentu yang diindikasi melibatkan oknum bekingan," ucap Sahroni.
Politikus Partai NasDem tersebut menduga kepemilikan aset ilegal skala besar di lingkungan pendidikan ini tidak dilakukan secara mandiri.
"Karena sangat sulit membayangkan jumlah sebesar ini dimiliki tanpa akses atau jaringan tertentu. Ditambah lagi ditemukan narkoba di lokasi yang sama. Khawatir ini bukan perbuatan individu semata, melainkan bagian dari jaringan yang lebih besar yang bisa mengancam keamanan nasional. Maka harus dibongkar sampai ke akar agar tidak menimbulkan ancaman yang lebih serius di kemudian hari," tutur Sahroni.







