Pemkot Surabaya Edukasi Pelajar Lewat Tur Literasi Soekarno

17 Juni 2026, 04:31 WIB

Pemerintah Kota Surabaya membekali generasi muda dengan pendekatan edukatif melalui kegiatan Tur Literasi "Soekarno dan Surabaya". Acara ini diselenggarakan pada 28-29 Juni 2025.

Dikutip dari Papanskor, agenda ini menyasar pelajar SMA/SMK dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tujuannya adalah mendekatkan mereka pada figur Bung Karno melalui tempat-tempat bersejarah perjalanan hidupnya.

Para peserta tidak hanya mendatangi situs sejarah, tetapi juga mendapatkan bimbingan langsung dari sejumlah pakar. Kehadiran pendamping ini berfungsi memberikan pencerahan kepada para pelajar.

Kuncarsono Prasetyo, pemerhati sejarah dari komunitas Begandring Soerabaia, menyatakan pentingnya memperdalam pemahaman anak muda mengenai keterikatan kuat antara Soekarno dengan Kota Pahlawan.

"Surabaya ini penting ya, karena selama ini di mainstream pemikiran kita tentang Soekarno, itu banyak cerita di Blitar, meskipun sebenarnya sudah banyak direvisi," ujar Kuncarsono saat mendampingi peserta Tur Literasi di Museum HOS Tjokroaminoto, Jalan Peneleh VII Surabaya, Sabtu (28/6/2025).

Kuncarsono mengapresiasi kebijakan Pemkot Surabaya yang konsisten mengenalkan ketokohan Bung Karno kepada siswa SD hingga SMA dalam tiga tahun belakangan.

"Tiga tahun terakhir ini, pemkot bikin kegiatan yang melibatkan anak SMA, kemarin SMP dan SD. Itu masif untuk mengenalkan tentang Soekarno dan semangatnya," ujar Kuncarsono.

Mantan jurnalis Harian Surya ini menyayangkan pandangan sempit yang menilai Soekarno hanya merepresentasikan kelompok tertentu.

Ia menyebut masyarakat banyak yang belum memahami kepribadian Soekarno yang kompleks, yakni memadukan nasionalisme dan nilai religius.

"Kalau kemudian kita jalan-jalan di kawasan Peneleh, kita baru terbuka sadar, bahwa Soekarno ini banyak wajah. Di sisi lain dia memang seorang nasionalis tapi di lain pihak dia juga seorang agamis," ujar Kuncarsono.

Kuncarsono menilai kawasan Peneleh Surabaya merupakan situs sejarah yang sangat bermakna.

Wilayah tersebut memuat rumah kelahiran Bung Karno, kediaman H.O.S Tjokroaminoto, hingga infrastruktur penunjang pergerakannya.

Dua nama anak Soekarno, Guntur dan Megawati, bahkan disematkan menjadi nama jalan setempat sejak tahun 1952.

"Dan itu di periode Soekarno, tahun 1952. Itu unik, karena hanya satu-satunya di Indonesia, karena mungkin begitu cintanya Soekarno terhadap anaknya waktu itu dibuatkan nama jalan," ujar Kuncarsono.

Kuncarsono berharap para pelajar memetik pelajaran dari kisah hidup Bung Karno bahwa figur besar bisa lahir dari lingkungan sederhana.

"Yang harus menjadi pelajaran bersama bahwa orang besar itu lahirnya dari kampung kecil. Tidak perlu kita minder bahwa kita tidak dari keluarga besar, sehingga tidak mungkin menjadi orang besar," ujar Kuncarsono.

Anak muda diajak meneladani proses hidup Bung Karno yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kecil.

"Masa lalu itu kan untuk masa depan. Jadi seharusnya anak-anak muda belajar tentang masa lalu untuk dia ke masa depan," ujar Kuncarsono.

Menurutnya, rekam jejak Soekarno yang tertuang dalam berbagai literatur dapat menjadi refleksi motivasi bagi generasi baru.

"Utamanya menjadi pelajaran kita semuanya anak-anak muda, setidaknya tidak menjadi Soekarno secara letter, tetapi dia akan menjadikan perjalanan hidup Soekarno menjadi inspiratif," ujar Kuncarsono.

Muhammad Akshaqian Alfaatih, seorang siswa SMA Negeri 20 Surabaya, menyambut positif kegiatan edukasi visual ini.

"Saya jadi lebih tahu sosok seorang bapak proklamator yang ternyata lahir di Surabaya. Karena fakta itu tidak banyak orang tahu," ujar Alfaatih.

Alfaatih berminat mendalami sisi personal Bung Karno yang relatif jarang diulas dalam kurikulum sekolah formal.

"Kehidupan pribadinya, bagaimana lingkungan tempat tinggalnya, selama tinggal di rumah H.O.S Tjokroaminoto atau mungkin di Blitar kampung halamannya," ujar Alfaatih.

Ia juga merasa termotivasi oleh ketegasan serta keterampilan komunikasi publik yang dimiliki Bung Karno.

"Yang ingin diteladani dari Bung Karno adalah semangatnya. Karena saya melihat Bung Karno orang yang sangat semangat, berani dan kemampuan untuk public speaking itu bagus banget," ujar Alfaatih.

Kegiatan edukasi sejarah ini diikuti oleh 100 pelajar dari wilayah Surabaya, Sidoarjo, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, hingga Blitar.

Rute penjelajahan dimulai dari Rumah Kelahiran Bung Karno, Rumah H.O.S Tjokroaminoto, SDN Sulung, dan berakhir di Makam Bung Karno serta Istana Gebang di Blitar.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang