Petenis Filipina Alexandra Eala menorehkan sejarah usai mengalahkan juara bertahan Iga Swiatek dua set langsung 7-6 (11-9), 6-2 pada babak kedua Wimbledon di Centre Court, Sabtu (5/7/2026), sebagaimana dilansir dari Bola.
Hasil manis ini mengantarkan atlet berusia 21 tahun tersebut menjadi petenis pertama dari Filipina yang berhasil melaju ke keempat turnamen Grand Slam pada era Open.
Kemenangan atas Swiatek memiliki ikatan emosional tersendiri bagi Eala, mengingat sang rival pernah memberikan nasihat motivasi saat menghadiri penyerahan ijazah kelulusannya di Akademi Tenis Rafael Nadal tiga tahun lalu.
"Saya berharap kalian akan menjadi pribadi yang gigih. Saya berharap apa pun yang kalian lakukan di masa depan, jika kalian melakukannya dengan cara terbaik, saya yakin pada akhirnya kalian tidak akan memiliki penyesalan," ujar Swiatek.
Mengingat kembali masa kecilnya, Eala mengungkapkan kebahagiaannya usai mencetak kejutan besar di lapangan utama.
"Saya dulu berlatih tenis setiap hari sepulang sekolah dengan kaus kaki yang berantakan, sepatu yang menyala, dan pipi yang masih chubby. Bagi diri saya yang masih kecil, momen seperti ini adalah segalanya," ujar Eala.
Dukungan besar masyarakat Filipina juga diakui Eala menjadi tambahan energi utama sepanjang pertandingan berlangsung.
"Luar biasa rasanya melihat begitu banyak orang Filipina mendukung saya. Rasanya kami semua berjuang bersama," kata Eala.
Ia pun mempersembahkan capaian bersejarah tersebut kepada jajaran keluarga dan penggemar di tanah airnya.
"Kemenangan ini saya persembahkan untuk mereka, keluarga saya, dan semua anak perempuan yang dulu juga memakai kaus kaki berantakan dan punya pipi chubby. Ini sangat berarti bagi saya," imbuh Eala.
Popularitas yang melonjak drastis sempat menghadirkan tekanan besar baginya, terutama ketika tampil di ajang Australian Open lalu.
"Saya selalu berusaha menjadi diri sendiri dan tetap tulus," kata Eala.
Ia menegaskan bahwa kedisiplinan serta kerja keras harian bersama tim menjadi kunci utama untuk menjaga fokusnya.
"Saya sangat bersyukur atas semua dukungan yang saya terima. Namun, saya, tim, dan keluarga adalah orang-orang yang telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk semua ini. Kamilah yang berada di lapangan selama 12 jam sehari. Kami bangun pagi dan pulang larut malam," tegas Eala.
Prinsip kerja keras tersebut diakuinya ampuh untuk meredam ekspektasi tinggi publik.
"Menurut saya, etos kerja itulah yang membuat saya tetap membumi," jelas Eala.
Sementara itu, mantan petenis Filipina Dyan Castillejo menyampaikan bahwa atmosfer kemenangan Eala langsung memicu antusiasme luar biasa di seluruh penjuru negeri.
"Pertandingan dimulai pukul 20.30 waktu setempat. Seluruh media sosial dipenuhi unggahan tentang kebanggaan menjadi orang Filipina," ujar Castillejo.
Ia menyebut euforia ini dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Filipina.
"Saya menerima ratusan bahkan ribuan pesan. Semua orang ingin menjadi bagian dari momen ini. Seluruh rakyat Filipina merasa ikut menjadi bagian dari kemenangan Alexandra," kata Castillejo.
Eala tampil mengesankan dengan menyelamatkan delapan dari 11 break point serta membukukan 24 winner guna menundukkan pemegang enam gelar Grand Slam tersebut.






