Pebulutangkis tunggal putri asal Korea Selatan, An Se Young, mengukir pencapaian luar biasa pada penghujung musim kompetisi 2025. Dilansir dari Papanskor, atlet berusia 23 tahun tersebut sukses meraih kemenangan di turnamen puncak BWF World Tour Finals 2025.
Keberhasilan di turnamen final itu menjadi gelar ke-11 bagi An Se Young sepanjang tahun 2025. Catatan ini sekaligus mengantarkannya sebagai tunggal putri pertama di dunia yang mampu menorehkan prestasi tersebut.
Pencapaian luar biasa ini menyamai rekor yang pernah diukir oleh legenda tunggal putra Jepang, Kento Momota, pada musim kompetisi 2019. Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menyatakan bahwa Kento Momota kini memiliki rekan baru dalam buku sejarah rekor dunia.
Sebelumnya, Kento Momota menjadi pebulutangkis pertama yang membukukan 11 gelar dalam setahun sebelum akhirnya pensiun dari dunia badminton. Selain jumlah gelar, An Se Young juga mencatatkan tingkat kemenangan yang impresif hingga mencapai hampir 95 persen sepanjang musim ini.
"Saya sangat senang bisa menutup turnamen terakhir tahun ini dengan hasil yang luar biasa. Saya bersyukur atas perjalanan dan pencapaian yang saya raih sepanjang tahun ini," ujar An Se Young kepada wartawan di Bandara Internasional Incheon.
Pada partai final yang berlangsung di Hangzhou Olympic Sports Centre Gymnasium, Xiacheng, An Se Young menghadapi wakil China, Wang Zhi Yi. Pertandingan sengit selama 96 menit tersebut berakhir dengan skor 21-13, 18-21, 21-10 untuk kemenangan An Se Young.
Dua tahun lalu pada turnamen yang sama, peluang An Se Young untuk mencetak sejarah sempat kandas di semifinal setelah kalah dari Tai Tzu Ying asal Taiwan. Namun, kali ini pemain kelahiran Gwangju tersebut mampu mengatasi tekanan meskipun sempat mengalami kram kaki.
"Pertandingan yang sangat melelahkan. Menjelang akhir, kaki saya terasa sakit setiap kali mendarat, tetapi saya tetap bertahan sampai akhir," tuturnya.
Peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 ini menegaskan bahwa kerja kerasnya kini telah membuahkan hasil manis. Ia tetap optimistis untuk terus berkembang mengingat usia produktif atlet elite dunia biasanya berada pada fase pertengahan hingga akhir usia 20-an.
"Jika saya terus bekerja keras, saya yakin bisa meraih hasil yang lebih baik lagi dibandingkan dengan apa yang telah saya capai pada tahun ini. Bagi saya, puncak performa adalah ketika mampu memainkan pertandingan tanpa kesalahan, dan saya bahkan berpikir mungkin hal itu tidak akan pernah sepenuhnya tercapai," ucapnya.
Dari berbagai rekor yang dipecahkannya tahun ini, An Se Young mengaku paling bangga dengan total jumlah kemenangan yang diperolehnya karena merefleksikan dedikasi latihan harian.
"Menurut saya itu merupakan cerminan sejati dari kerja keras saya. Saya selalu percaya, jika terus bekerja keras setiap hari, pada akhirnya saya akan menikmati hasil dari usaha tersebut," katanya.
Setelah melewati ketatnya kompetisi dan program diet, pemain nomor satu dunia tersebut berencana memanfaatkan masa liburan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bersiap menghadapi musim berikutnya.
"Saya menjalani diet yang cukup ketat sepanjang tahun. Kini memasuki musim liburan, saya akan sedikit melonggarkan aturan. Saya akan menikmati masa istirahat singkat ini, lalu kembali bekerja keras," pungkas An Se Young, sambil tersenyum.







