Ancaman boikot terhadap seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, dilayangkan oleh UEFA bersama 55 asosiasi anggotanya. Langkah tegas ini memicu ketegangan baru terkait masa depan turnamen utama sepak bola internasional, seperti dilansir dari Bola. Sikap penolakan tersebut dipicu oleh rencana pelibatan investor swasta dalam entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Di bawah kepemimpinan Presiden Gianni Infantino, FFE dirancang untuk mengelola hak komersial, pemasaran, hak siar, serta operasi turnamen besar. Cakupan pengelolaan FFE meliputi Piala Dunia pria dan wanita hingga Piala Dunia Antarklub. FIFA menargetkan perolehan dana sekitar 4,2 miliar dolar AS lewat penjualan maksimal 20 persen saham minoritas, dengan estimasi valuasi entitas mencapai 20 miliar dolar AS.
FIFA menegaskan akan memegang kendali mayoritas sebesar 79 persen atas FFE serta mempertahankan wewenang penuh pada urusan tata kelola olahraga. Pihaknya mengklaim suntikan modal ini ditujukan untuk mempercepat pendanaan pengembangan sepak bola bagi 211 asosiasi anggotanya.
UEFA menuntut pembatalan menyeluruh atas rencana penjualan saham tersebut. Federasi sepak bola Eropa itu juga mendesak adanya jaminan mengikat agar ruang bagi kepemilikan pihak swasta tertutup rapat pada masa mendatang. "Piala Dunia bukan milik sepak bola untuk dijual," tutur pihak UEFA dalam pernyataan resminya.
UEFA menambahkan bahwa "jiwa serta tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan." Penjualan saham dikhawatirkan menggeser integritas olahraga demi mengejar keuntungan finansial belaka. Untuk memuluskan rencana tersebut, FIFA menawarkan insentif pembayaran satu kali sebesar 20 juta hingga 40 juta dolar AS bagi asosiasi yang memberi persetujuan sebelum 19 September. Angka ini naik signifikan dibanding skema pendanaan lama yang bernilai 10 juta dolar AS.
Gelombang kritik terhadap FFE turut disuarakan oleh konfederasi lain seperti CONCACAF dan AFC. Kedua lembaga memprotes minimnya transparansi dan proses konsultasi dalam penyusunan proposal komersial tersebut. Keterlibatan modal swasta dikhawatirkan memunculkan tekanan investor yang berpotensi memengaruhi kalender internasional, format turnamen, hingga jadwal pertandingan.
Proses investasi ini kabarnya melibatkan Thrive Eternal, anak usaha Thrive Capital bentukan Joshua Kushner, serta bank investasi JPMorgan sebagai penasihat keuangan. Kritik dari ranah politik juga disampaikan oleh Komisioner Olahraga Uni Eropa Glenn Micallef serta Perdana Menteri Inggris Andy Burnham. Keduanya mengingatkan bahwa tata kelola sepak bola harus dipertanggungjawabkan kepada suporter, bukan kepada investor bisnis.
Penolakan terhadap agenda komersial Gianni Infantino bukan pertama kali terjadi. Pada 2018, penolakan UEFA menggagalkan usulan dana 25 miliar dolar AS untuk perluasan Piala Dunia Antarklub dan Liga Bangsa-Bangsa global. Selanjutnya pada 2021, penolakan bersama UEFA dan CONMEBOL menumbangkan gagasan penyelenggaraan Piala Dunia dua tahunan.






