Ancaman El Nino Picu Risiko Pemutihan Karang Massal di Great Barrier Reef

5 Agustus 2026, 17:46 WIB

Risiko kerusakan akibat pemutihan ekstrem kembali membayangi kawasan terumbu karang Great Barrier Reef. Ancaman bagi bentang alam bahari ini terbilang tinggi seiring berlanjutnya fenomena iklim El Nino, seperti dikutip dari Detik Travel.

Sebagai struktur hidup terbesar di bumi, terumbu karang yang membentang sepanjang 2.300 kilometer di pesisir Queensland ini memegang peranan krusial. Selain menjadi benteng ekosistem, kawasan tersebut juga menjadi pilar utama industri pariwisata Australia.

Kekhawatiran mendalam mengenai dampak perubahan iklim dan pemutihan massal terus disuarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meski demikian, terumbu karang tersebut berhasil terhindar dari masuknya daftar spesies terancam punah milik PBB pada bulan ini.

Pengaruh El Nino ekstrem berpotensi mendatangkan kerusakan parah pada ekosistem laut. Isu krusial ini disampaikan oleh Morgan Pratchett, ahli ekologi konservasi laut dari Universitas James Cook Queensland, dalam acara Simposium Terumbu Karang Internasional di Auckland, Selandia Baru.

"Bukan tidak mungkin bahwa gangguan besar berikutnya akan menyebabkan kepunahan spesies lokal dan keruntuhan ekosistem yang meluas," kata Pratchett.

Kekuatan El Nino periode ini diproyeksikan memecahkan rekor. Peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur memicu perubahan pola angin, tekanan udara, hingga curah hujan di tingkat global.

"Kemungkinan besar kita akan melihat pemutihan massal yang sangat parah dan berskala besar di Great Barrier Reef," kata Pratchett.

Tekanan Berlapis pada Ekosistem Terumbu Karang

Pengawasan tahunan terus dilakukan oleh UNESCO terhadap kondisi Great Barrier Reef sejak 2021. Ancaman penetapan status "dalam bahaya" pada daftar Warisan Dunia kian nyata jika kondisi lingkungan tidak kunjung membaik.

Penurunan substansial pada tutupan karang keras tercatat sepanjang tahun 2024-2025. Peningkatan suhu air di atas rata-rata menjadi pemicu utama peristiwa pemutihan karang massal keenam yang terjadi sejak 2016.

Ancaman bagi kelangsungan terumbu karang tidak hanya datang dari pemanasan suhu laut. Kombinasi cuaca ekstrem, limpasan air dari daratan, pembangunan wilayah pesisir, serta predasi bintang laut berduri makin memperberat beban ekosistem.

Kurangnya respons dan tindakan nyata dari pemerintah dinilai makin memperburuk keadaan. Profesor studi kelautan Universitas Queensland, Ove Hoegh-Guldberg, menilai pasifnya kebijakan tersebut mengancam masa depan terumbu karang secara global.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang