AS dan Iran Capai Kemajuan Pembahasan Jalur Pelayaran Selat Hormuz

6 Agustus 2026, 07:32 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz dapat tercapai secepatnya pada Rabu atau Kamis pekan ini, seiring negosiasi antara Iran dan Oman yang makin mendekati titik temu. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Selasa (04/08) malam waktu California di tengah penurunan harga minyak dunia, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

"Bisa saja terjadi. Besok atau lusa," kata Trump.

Donald Trump menambahkan bahwa perkembangan positif telah terlihat dalam proses negosiasi tersebut.

"Banyak kemajuan telah dicapai," ujar Trump.

Ia menuturkan bahwa pemerintahannya tetap melanjutkan dialog untuk mengakhiri krisis maritim di kawasan Teluk.

"Saya tidak akan membiarkan mereka memungut biaya. Kalau ada yang akan memungut biaya, kami yang akan melakukannya," kata Trump.

Presiden AS mendesak Teheran untuk memanfaatkan jalur diplomasi guna menghindari potensi eskalasi militer yang lebih luas.

"Tahap pertama adalah pembukaan selat. Tahap kedua adalah denuklirisasi. Dan hal itu akan membutuhkan waktu," ujar Trump.

Menanggapi kekhawatiran mengenai kesiapan militer akibat konflik berkepanjangan, Donald Trump menegaskan kekuatan persenjataan negaranya.

"Kami memiliki amunisi jauh lebih banyak dibandingkan negara mana pun di dunia, bahkan jauh lebih banyak dari yang kami perlukan," kata Trump.

Penegasan tersebut disampaikan guna meredam laporan penurunan stok rudal presisi jarak jauh militer AS. Berdasarkan rancangan yang dibahas, kapal yang melintasi Selat Hormuz akan melalui jalur kendali Iran saat masuk dan jalur Oman saat keluar, serta dikenai biaya keamanan dan lingkungan.

Di pihak lain, Pemerintah Iran menegaskan fokus diplomasi yang sedang berjalan di kawasan.

"pembentukan jalur pelayaran yang aman untuk kapal masuk dan keluar," kata Esmail Baghaei, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Ia menambahkan bahwa seluruh proses tetap mempertimbangkan aspek hukum maritim dan pertahanan.

"Hasil akhir dari negosiasi ini akan diumumkan setelah pembicaraan selesai," ujar Esmail Baghaei.

Pemerintah AS turut memberikan tanggapan terkait perkembangan negosiasi tersebut.

"namun belum mencapai kesepakatan final," kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Langkah diplomasi ini didorong oleh kekhawatiran atas dampak ekonomi global serta ancaman terhadap jalur energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas bumi global melintasi Selat Hormuz, yang kini mengalami penurunan arus lalu lintas secara drastis sejak konflik meluas.

"ada kemungkinan kita mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka kembali selat tersebut dan bergerak menuju situasi konflik yang lebih normal," kata Scott Bessent, Menteri Keuangan AS.

Pihak Pentagon juga menyampaikan konfirmasi mengenai kondisi serta kesiapan pasukan militer Amerika Serikat.

"Militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi kapan pun dan di mana pun sesuai keputusan Presiden. Kami telah menjalankan berbagai operasi yang sukses di berbagai wilayah komando tempur sambil memastikan militer AS tetap memiliki persenjataan yang memadai untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Sean Parnell, Juru bicara utama Pentagon.

Laporan eksklusif Reuters mengungkapkan bahwa Angkatan Darat AS telah menghabiskan sebagian besar stok global rudal presisi jarak jauh, seperti ATACMS dan PrSM, selama lima bulan peperangan. Penurunan persediaan senjata pertahanan seperti Patriot dan THAAD turut menjadi pertimbangan utama dalam kelanjutan operasi militer di Timur Tengah.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang