Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini turut dimanfaatkan oleh peretas untuk melancarkan kejahatan siber secara lebih cepat, sebagaimana dilaporkan Detik iNET pada Kamis (6/8/2026). Penjahat siber diketahui memiliki akses terhadap model AI yang sama dengan para pengembang. Kondisi ini membuat perusahaan dituntut untuk segera membangun sistem pertahanan yang setara demi mengimbangi pergerakan peretas.
Vice President Governance and Compliance Amazon Web Services (AWS), Nandini Ramani, menyampaikan peringatan ini di sela-sela acara AWS Summit Jakarta yang berlangsung di Ritz Carlton, Pacific Place. "Para pelaku kejahatan memiliki akses ke model-model AI yang sama. Dengan kecepatan mesin, mereka tidak hanya bisa menemukan celah keamanan, tetapi juga melakukan serangan dengan sangat cepat," kata Vice President Governance and Compliance AWS, Nandini Ramani.
Ancaman yang berkembang pesat tersebut mewajibkan setiap organisasi untuk tidak sekadar bersikap reaktif setelah serangan terjadi. Penggunaan pertahanan berbasis data masa lalu menjadi kunci utama pencegahan.
"Karena itulah Anda membutuhkan berbagai alat pertahanan yang dibangun berdasarkan data historis dan pola ancaman yang sudah kami lihat, sehingga serangan dapat dihentikan sebelum benar-benar terjadi," ujar Nandini Ramani. Kendati memberi ruang bagi penjahat siber, kehadiran AI sebetulnya juga membawa keuntungan bagi tim keamanan internal perusahaan. Akses AI memungkinkan proses identifikasi potensi kerentanan sistem dilakukan secara mendalam dalam waktu singkat.
"AI dapat membantu kita menemukan kerentanan dan ancaman lebih cepat daripada sebelumnya. Namun pada saat yang sama, AI yang sama juga bisa digunakan oleh pihak yang berniat jahat," kata Nandini Ramani. Bagi penyedia layanan seperti AWS, AI dianggap sebagai kelanjutan dari prosedur keamanan siber yang selama ini telah berjalan. Pengujian seperti penetration testing, threat modeling, dan pengujian kerentanan terus dikembangkan menggunakan teknologi baru ini.
"Bagi kami, ini adalah sebuah kesinambungan (continuum). Kami membangun keamanan untuk seluruh beban kerja, termasuk AI agent, di atas fondasi keamanan yang sudah ada," ujar Nandini Ramani. Penerapan strategi tata kelola data dan proteksi keamanan disarankan untuk dirancang sedini mungkin sejak awal pengembangan produk.
Menunda proteksi hingga tahap akhir dapat meningkatkan risiko fatal akibat tingginya kecepatan akselerasi AI agent. "Perusahaan perlu memiliki strategi data governance dan keamanan sejak awal. Dengan kecepatan AI agent, jika baru dipikirkan belakangan, itu sudah terlambat," kata Nandini Ramani.
AWS menegaskan komitmennya dalam menjadikan aspek keamanan sebagai prioritas paling mendasar sejak awal tahap perancangan sistem.
"Bagi kami, keamanan selalu menjadi job zero. Karena itu kami membangun keamanan sejak tahap desain, bahkan sebelum berbagai kemampuan AI agent yang ada sekarang muncul," imbuh Nandini Ramani.






