Banyak orang mengira bahwa tetesan air hujan memiliki rasa yang sama dengan air minum harian. Namun, mengonsumsi air hujan sebenarnya tidak aman bagi tubuh. Faktanya, air hujan berisiko menimbulkan dampak buruk pada kesehatan.
Seperti dilansir dari Bobo, zat berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh jika air hujan tertelan. Meskipun terlihat bersih, air hujan mengandung berbagai polutan. Berdasarkan data Live Science, di dalamnya terdapat bakteri, virus, parasit, debu, partikel asap, hingga bahan kimia.
Kontaminasi akan meningkat saat air hujan mengenai benda lain terlebih dahulu. Hal ini terjadi ketika air melewati atap bangunan, daun di pepohonan, atau pipa saluran.
Dampak kontaminasi tersebut dapat membuat tubuh menjadi sakit. Oleh karena itu, air hujan juga tidak boleh digunakan untuk menyiram tanaman pangan. Masyarakat disarankan untuk selalu mencuci sayur dan buah yang matang di pohon. Langkah ini penting untuk menghindari sisa bakteri atau kuman dari air hujan.
Selain polusi mikroorganisme, fenomena hujan asam juga perlu diwaspadai. Tingkat keasaman ini dapat diukur melalui skala pH air. Air hujan normal memiliki pH sekitar 5,6. Sementara itu, air hujan asam memiliki tingkat pH yang lebih rendah, yaitu berkisar antara 4,2 dan 4,4.
Menurut National Geographic, fenomena ini dapat dipicu oleh faktor alam seperti letusan gunung berapi. Erupsi tersebut melepaskan bahan kimia yang memicu keasaman. Aktivitas manusia juga menjadi penyebab utama lainnya.
Contohnya adalah pengoperasian pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, serta limbah dari pabrik dan kendaraan bermotor. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx). Polutan ini kemudian dilepaskan ke atmosfer bumi.
Senyawa tersebut bereaksi dengan air, oksigen, dan zat lain di udara. Proses ini membentuk asam sulfat serta asam nitrat yang menyebar karena angin.
Hujan asam yang mengenai tubuh atau terhirup dapat memicu gangguan kesehatan. Dampaknya meliputi gangguan saluran pernapasan hingga iritasi pada mata. Bagi individu yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, kondisi ini bisa menjadi lebih buruk. Gejala kesehatan mereka dapat mengalami peningkatan keparahan.
Kriteria Air Bersih yang Layak Konsumsi
Untuk memastikan keamanan konsumsi, terdapat pedoman resmi mengenai kualitas air. World Health Organization (WHO) menetapkan beberapa ciri air putih yang layak minum.
Air yang aman harus bebas dari bau, warna, dan rasa, serta memiliki rasa yang tawar. Suhu air juga tidak boleh berada dalam kondisi tinggi. Selain itu, air minum tidak boleh mengandung bakteri, mikroorganisme, atau bahan kimia berbahaya. Kadar pH yang ideal harus berada pada rentang 6,5 sampai 8,5.
Kriteria fisik lainnya adalah air tidak terasa lengket setelah digunakan. Cairan tersebut juga harus sepenuhnya bebas dari endapan kotoran.







