Langkah Atalanta untuk melaju lebih jauh di Liga Champions musim 2025/26 dipastikan menemui jalan terjal yang sangat berat.
Seperti dikutip dari Papanskor, tim asuhan Raffaele Palladino tersebut baru saja menelan kekalahan telak dengan skor 1-6 saat menjamu Bayern Munchen di Bergamo.
Hasil buruk pada leg pertama babak 16 besar ini membuat peluang Sang Dewi untuk lolos ke perempat final menjadi sangat tipis.
Sebelumnya, Marten de Roon dan kawan-kawan sempat memelihara asa sepak bola Italia setelah mendepak Borussia Dortmund di babak play-off dengan agregat ketat 4-3.
Namun, performa impresif tersebut gagal terulang saat mereka berhadapan dengan raksasa Jerman lainnya, Bayern Munchen.
Gawang Atalanta bobol enam kali melalui aksi Josip Stanisic pada menit ke-12, dua gol Michael Olise di menit 22 dan 64, Serge Gnabry menit 25, Nicolas Jackson menit 52, serta Jamal Musiala menit 67.
Sementara itu, tuan rumah hanya mampu membalas satu gol hiburan lewat sepakan Mario Pasalic menjelang akhir laga, tepatnya pada menit 90+3.
Kekalahan ini memaksa Atalanta untuk menang dengan margin minimal enam gol pada leg kedua mendatang yang akan digelar di Allianz Arena.
Misi tersebut terhitung sangat sulit mengingat rekor kandang Bayern Munchen di bawah arahan Vincent Kompany masih sempurna sepanjang fase liga.
Harry Kane dan kolega tercatat menyapu bersih kemenangan di Allianz Arena dengan menekuk Chelsea 3-1, Club Brugge 4-0, Sporting CP 3-1, dan Union Saint Gilloise 2-0.
Ketangguhan lini pertahanan Die Roten di markas sendiri juga teruji karena mereka baru kebobolan dua gol dari empat laga tersebut.
Kegagalan Atalanta ini sekaligus memastikan bahwa wakil Italia di kompetisi tertinggi antarklub Eropa dipastikan terhenti di babak 16 besar.
Pencapaian Atalanta sebenarnya masih lebih baik ketimbang Inter Milan dan Juventus yang sudah gugur di babak play-off, maupun Napoli yang kandas di fase liga.
Rentetan hasil buruk klub-klub Serie A berimbas langsung pada merosotnya poin koefisien kompetisi sepak bola Italia tersebut.
Berdasarkan data pertandingan hari Rabu (11/3) dini hari WIB, nilai koefisien Serie A kini tertahan di angka 17.357 poin.
Jumlah ini berada di bawah Bundesliga Jerman yang mengoleksi 17.857 poin dan La Liga Spanyol yang mengumpulkan 17.781 poin.
Torehan musim ini juga merosot tajam jika dibandingkan dengan perolehan Serie A pada musim-musim sebelumnya.
Pada musim 2022/23, Italia mengemas 22.357 poin saat Inter Milan menembus final, diikuti 21.000 poin pada 2023/24, dan 21.875 poin pada musim 2024/25.
Angka koefisien musim ini sejauh ini hanya bisa melampaui catatan buruk pada musim 2021/22 yang kala itu cuma meraih 15.714 poin.
Secara akumulatif, total koefisien Serie A yang berada di angka 98.303 semakin tertinggal jauh dari Premier League Inggris yang memimpin dengan 113.241 poin.
Posisi Italia kini justru terancam oleh La Liga Spanyol yang terus mendekat dengan raihan 92.734 poin.
Spanyol masih berpotensi menambah pundi-pundi poin karena masih memiliki tiga wakil di UCL, yaitu Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid.
Atletico Madrid bahkan sudah mendekati perempat final setelah menang besar 5-2 atas Tottenham Hotspur.
Skuad asuhan Diego Simeone hanya memerlukan hasil imbang atau kalah tidak lebih dari empat gol pada leg kedua di markas Tottenham pada (18/3) nanti.
Kini, harapan Italia untuk mendongkrak koefisien liga bertumpu pada ajang Liga Europa melalui Bologna dan AS Roma yang sayangnya harus saling jegal di babak 16 besar.
Satu wakil lainnya adalah Fiorentina yang tengah berjuang memperebutkan tiket perempat final Liga Conference melawan klub Polandia, Rakow Czestochowa.






