Badan Gizi Nasional Ungkap Penyebab Keracunan Makan Bergizi Gratis

7 Agustus 2026, 01:01 WIB

Badan Gizi Nasional (BGN) mengidentifikasi penyebab maraknya kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua akibat proses memasak yang dilakukan terlalu cepat atau sejak malam hari, sebagaimana dilansir dari Detikcom, Kamis (6/8/2026).

Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa pengolahan hidangan di dapur pelayanan gizi yang dimulai sejak pukul 19.00 malam sebelumnya membuat kondisi makanan mengalami kerusakan saat dibagikan kepada para siswa pada pukul 11.00 siang.

"Jam 7 malam di hari sebelumnya sudah mulai masak. Sehingga diberikan di jam 11 dan ada beberapa juga yang keracunan. Saya lihat ini kita ngomongin yang Papua ya, jadi masaknya kecepetan, kemudian saat dibawa itu sudah dalam kondisi rusak," kata Sudaryono.

Faktor lain yang memicu keracunan adalah kebiasaan beberapa siswa yang tidak langsung menyantap hidangan tersebut di sekolah, melainkan membawanya pulang untuk dikonsumsi sore hari.

"Dan beberapa laporan yang kami terima dan masih kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Jadi yang harusnya dimakan jam 11, dia bawa pulang dan baru dimakan pukul 15.00 WIB atau pukul 16.00 WIB, jadi sudah rusak," ungkap Sudaryono.

Dampak dari membawa pulang hidangan yang sudah tidak segar tersebut juga menyasar anggota keluarga siswa di rumah hingga ikut mengalami gejala keracunan.

"Yang kemudian keracunan bukan hanya anaknya, tetapi juga bapak, ibunya, atau saudaranya yang ikut makan. Ini tentu saja menjadi catatan. Intinya, tidak boleh ada," jelas Sudaryono.

Guna mencegah timbulnya kasus serupa di masa mendatang, BGN tengah merancang regulasi standar terkait batas waktu aman konsumsi atau masa kadaluarsa makanan sejak selesai dimasak.

"Termasuk kami ingin memastikan semua pengiriman itu, dari kapan matang sampai dengan dikonsumsi, harus sesuai standar. Tidak boleh lebih dari 4 jam kalau tidak salah, sehingga ada best before atau 'sebaiknya dikonsumsi sebelum'," tegas Sudaryono.

Selain penataan durasi distribusi, BGN berencana mengimbau keterlibatan guru di kelas untuk mendampingi proses makan bersama sekaligus memberikan penekanan edukasi gizi dan tata cara konsumsi.

"Nah, itu dari sisi edukasinya ingin kami perkuat. Bagaimana guru yang mengajar di kelas itu juga mendapatkan MBG tanpa direpotkan, karena di sekolah sudah ada PIC sekolah. Guru tersebut kemudian ikut makan bareng siswanya untuk fungsi edukasi. Tata kramanya, cuci tangannya, mengantrenya, menyusun omprengnya itu kan bagus, berdoa, kemudian bilang alhamdulillah dan lain-lain," ucap Sudaryono.

Edukasi tersebut juga bertujuan melarang siswa membawa pulang jatah makanan MBG yang tidak mengandung bahan pengawet sintetik demi menghindari risiko pembusukan akibat cuaca panas.

"Kedua, guru memberikan edukasi gizi, bahwasanya gizi ini penting. Selain itu juga memberikan edukasi agar barang ini jangan dibawa pulang. Maksud saya, ini penting untuk tidak dibawa pulang," imbuhnya.

Langkah penguatan materi edukasi gizi dan penanganan makanan ini telah dikoordinasikan secara langsung bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti untuk diterapkan di seluruh satuan pendidikan.

"Jangan sampai makanan ini, kan namanya MBG tidak ada pengawetnya, pasti cepat basi kalau tidak sesuai. Apalagi daerahnya panas, ada faktor suhu dan lain-lain yang memicu perkembangan bakteri. Nah, itu yang ingin kami perkuat di sisi edukasi. Kami sudah bicara dengan Pak Menteri Dikdasmen, ini menjadi materi penting di semua sekolah, penting sekali," kata Sudaryono.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang