PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat laba bersih sebesar Rp 10,8 triliun hingga semester I tahun 2026, didukung oleh pertumbuhan bisnis yang sehat dan peningkatan kualitas aset, dilansir dari Detik Finance.
Pendapatan bunga bersih BNI tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp 22,3 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi juga naik 14,2% menjadi Rp 9 triliun. Kinerja kedua sumber pendapatan ini mendorong laba operasional sebelum pencadangan mencapai Rp 18,5 triliun, angka tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menyampaikan dalam keterangan tertulis, "Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen."
BNI juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 24,4% secara tahunan menjadi Rp 968,5 triliun hingga Juni 2026. Kredit yang tumbuh berasal dari portofolio yang terdiversifikasi di sektor korporasi, menengah, UMKM, dan konsumer.
Perusahaan melakukan ekspansi kredit secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan risiko debitur untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.
Dalam kondisi persaingan likuiditas yang ketat, dana murah BNI atau CASA tumbuh 11,2% secara tahunan sehingga rasio CASA tetap di level 65,4%. Hal ini membantu efisiensi biaya dana dengan cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56% dari 2,78% tahun sebelumnya.
Dari sisi kualitas aset, BNI menunjukkan ketahanan yang baik dengan rasio kredit bermasalah (LAR) membaik dari 11,0% menjadi 8,1%, serta rasio non-performing loan (NPL) di level 1,9% pada akhir Juni 2026.
Jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi tumbuh 110% secara tahunan hingga Juni 2026. Sementara di segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu dengan volume transaksi naik 17% menjadi Rp 6.039 triliun.
Implementasi program BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) telah berjalan di seluruh wilayah operasional BNI, memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan dan meningkatkan produktivitas jaringan.
Putrama menuturkan, "Transformasi digital dan implementasi BRAVE merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNI untuk membangun organisasi yang semakin lincah, memperkuat kapabilitas bisnis, serta menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah."
"Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah," ujar Putrama.







