Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II tahun 2026, menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Kontribusi utama pertumbuhan datang dari konsumsi rumah tangga yang meningkat 5,06 persen dan sektor industri pengolahan yang tumbuh 4,52 persen, menurut data BPS yang dilansir dari Detik Finance.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa dari 38 provinsi di Indonesia, 17 provinsi mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional.
"Pada triwulan 2-2026, pertumbuhan ekonomi di 17 provinsi berada di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen. Maluku Utara memiliki angka pertumbuhan tertinggi sebesar 15,35 persen, diikuti oleh Nusa Tenggara Barat 7,41 persen dan Kepulauan Riau 6,99 persen," ujar Amalia.
Amalia juga menambahkan bahwa seluruh provinsi di Pulau Jawa mencatat pertumbuhan di atas angka nasional, dengan kontribusi Pulau Jawa mencapai 54,67 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Secara regional, pertumbuhan ekonomi wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi juga melampaui pertumbuhan nasional. Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,10 persen, disusul Jawa 5,65 persen dan Sulawesi 5,53 persen secara tahunan.







